POLUSI UDARA

Bayi di stroller terpapar lebih banyak polusi

Ilustrasi bayi di kereta dorong.
Ilustrasi bayi di kereta dorong. | Ucchie79 /Shutterstock

Mengajak bayi bepergian dengan stroller atau kereta dorong adalah hal yang umum dilakukan orang tua masa kini. Namun, aktivitas ini memiliki risiko yang tak terlihat dan tak terduga.

Karena posisi bayi lebih dekat ke tanah, menurut penelitian terbaru, mereka terpapar polusi lebih dari yang Anda duga. Padahal polusi udara berefek buruk, apalagi untuk bayi yang sistem kekebalan tubuhnya masih terus berkembang.

Para peneliti dari Global Centre for Clean Air Research di University of Surrey mengamati seberapa banyak polusi udara yang orang-orang hirup. Mereka menemukan, bayi di kereta dorong terpapar 60 persen lebih banyak polusi daripada orang tua mereka.

Polutan-polutan ini sangat berbahaya bagi bayi, karena mereka berpotensi menyebabkan kerusakan otak dan menghambat perkembangan di masa depan.

Posisi anak-anak di kereta dorong lebih rendah--dekat dengan tanah--daripada orang tua mereka. Huffington Post melaporkan pada tingkat ini, udara cenderung paling tercemar.

Kebanyakan kereta dorong berjarak sekitar dua kaki--kira-kira 60cm--di atas permukaan tanah. Ini menempatkan anak-anak di dalam kereta dorong dekat dengan knalpot kendaraan dan polusi yang dikeluarkannya.

Seperti ditulis BBC, para peneliti menemukan bahwa anak-anak ini menghirup "logam beracun" yang memengaruhi lobus frontal otak dan memengaruhi kemampuan kognitif serta perkembangan otak mereka.

"Kami tahu bahwa bayi--dengan ukuran paru-paru dan berat badan mereka--menghirup partikel udara dalam jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa. Apa yang telah kami buktikan di sini adalah bahwa posisi anak-anak di dalam kereta bayi meningkatkan kemungkinan dampak negatif dari polusi udara jika dibandingkan dengan orang dewasa," urai Profesor Prashant Kumar, Direktur Pendiri Global Centre for Clean Air Research dinukil Science Daily.

Kumar menjelaskan, "Karena jaringan, sistem kekebalan tubuh, dan perkembangan otak mereka pada tahap awal kehidupan, sangat mengkhawatirkan bahwa mereka terpapar tingkat polusi berbahaya."

Laporan yang diterbitkan UNICEF menyebutkan, anak-anak di seluruh dunia--hampir 17 juta dari mereka--terpapar udara beracun. Sementara menurut British Lung Foundation, ketika anak-anak terpapar polusi semacam ini, risiko mereka mengalami masalah paru-paru--seperti asma, batuk, kanker paru-paru dan infeksi seperti pneumonia--di kemudian hari melonjak tinggi.

Untuk mengurangi dampak risiko ini, Kumar dan tim peneliti menyarankan sejumlah strategi. Misal, dengan mengendalikan emisi kendaraan dan memasang batas seperti pagar tanaman di antara trotoar dan jalan.

Selain itu, mereka merekomendasikan agar masyarakat lebih proaktif meningkatkan kesadaran di kalangan orang tua tentang risiko yang berhubungan dengan kereta dorong dan polusi udara.

Langkah lain yang bisa dilakukan orang tua adalah menggendong bayi mereka, alih-alih mendorongnya di kereta bayi saat berada di jalan raya. Selain melindungi bayi dari polusi, menggendong anak juga punya banyak manfaat.

Mengutip Healthy Mummy, menggendong bayi dapat membantu keluarga dalam mencapai target menyusui, mendukung perkembangan fisik bayi, dan memfasilitasi ikatan antara bayi dan ibu atau ayah.

Saran-saran tersebut memang hanya mengurangi risiko, baru sebagian kecil masalah. Karena itu Kumar dan tim peneliti menyerukan perubahan yang meningkatkan kualitas udara untuk semua orang, misal dengan mengurangi pemakaian kendaraan pribadi.

Berbicara tentang penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environment International ini, Dr. Stefan Reis, dari Centre for Ecology and Hydrology, mengatakan, "Makalah ini menyoroti pentingnya penilaian terpadu dari kedua sumber, emisi polutan udara, dan faktor-faktor lokal, individu juga perilaku yang berkontribusi terhadap paparan, untuk merancang intervensi."

Para peneliti percaya paparan polusi udara dapat dikurangi dengan mengendalikan emisi kendaraan, menanam semak-semak antara jalan dan pejalan kaki dan mendorong orang untuk carpool atau menggunakan transportasi umum.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut polusi udara sebagai penyebab utama kanker paru-paru, strok, penyakit jantung, dan penyakit paru-paru. Dengan mempertimbangkan itu, jelas bahwa memperbaiki keadaan akan bermanfaat bagi semua orang, tidak hanya bayi di dalam kereta dorong.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR