KESEHATAN ANAK

Bayi lahir sesar lebih rentan sakit

Ilustrasi bayi yang lahir sesar.
Ilustrasi bayi yang lahir sesar. | Reynardt /Shutterstock

Bayi lahir sesar lebih rentan sakit dan mengalami komplikasi kesehatan ketimbang bayi lahir normal. Begitu simpulan studi oleh tim periset internasional dari lima negara.

Studi yang diterbitkan dalam journal Birth itu juga mengungkap bahwa intervensi kelahiran, baik bedah atau medis, ternyata juga berpengaruh besar pada kesehatan bayi dalam jangka pendek dan panjang.

Intervensi medis adalah ketika proses persalinan dibantu dengan induksi menggunakan hormon sintetis guna menghasilkan kontraksi yang lebih kuat.

Intervensi bedah mencakup operasi sesar dan kelahiran instrumental (berbantu) dengan menggunakan instrumen khusus seperti forsep atau vakum, di mana penjepit logam atau alat hisap plastik (plastic suction cap) ditempatkan di sekitar kepala bayi untuk menariknya keluar lewat vagina.

Lebih lanjut, dalam jangka pendek, periset menemukan bahwa bayi lahir sesar berisiko tinggi mengalami hipotermia usai kelahiran karena kedinginan. Pun rentan terpapar eksim.

Di usia kanak-kanak, bayi-bayi tadi juga ditemukan memiliki tingkat tertinggi gangguan metabolisme sehingga berisiko mengalami diabetes dan obesitas.

Sementara itu, bayi dengan kelahiran instrumental usai induksi berisiko tertinggi terkena penyakit kuning dan memiliki masalah makan pada sebulan pertama usai kelahiran.

Secara menyeluruh, bayi yang lahir melalui semua jenis intervensi berpeluang lebih besar--hingga tiga kali lipat, untuk mengembangkan infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia dan bronkitis, gangguan metabolisme dan eksim. Demikian ditulis ABC News.

Periset utama studi Profesor Hannah Dahlen dari Western Sydney University School of Nursing and Midwifery mengatakan temuan ini menambah bukti ilmiah bahwa lahir normal lebih baik dan berdampak kesehatan lebih sedikit ketimbang pilihan lainnya.

Ia pun menambahkan bahwa temuan ini memprihatinkan. Sebab, para ibu yang dilibatkan dalam studi dianggap sebagai "ibu sehat" dengan kehamilan berisiko rendah hingga tanpa risiko, perempuan muda berusia 20-35 tahun, sekaligus menerapkan gaya hidup sehat dalam kisaran berat badan normal.

Untuk studi, periset menganalisis data 491.590 ibu di Australia yang melahirkan antara tahun 2000-2013, dengan membandingkan kesehatan anak-anaknya yang lahir normal dan lewat intervensi, sejak 28 hari pertama hingga lima tahun.

Kendati begitu, kepada News.com.au, Prof Dahlen menekankan bahwa penelitian ini bukan dirancang untuk membuat para ibu merasa bersalah, melainkan sebagai upaya lebih baik dalam pemberian intervensi dan mengenali dampaknya.

Lebih penting kata dia, untuk meningkatkan kesadaran bahwa intervensi hanya diperlukan jika ada kendala medis.

Memang, dunia kedokteran mengenal dua metode umum melahirkan, vaginal delivery (pervaginam) atau lahir normal dan sectio cesarean atau operasi sesar. Terlepas dari baik buruknya, kedua proses persalinan itu dikawal dokter dengan satu tujuan: memastikan keselamatan ibu dan bayi.

Lazimnya operasi sesar dilakukan sebagai alternatif--darurat atau terencana. Bila ibu dan bayi, salah satu atau keduanya, memiliki beragam indikasi. Misal, gangguan kesehatan yang meningkatkan risiko kehamilan seperti diabetes, pernah sesar, posisi bayi abnormal, hingga postur tubuh yang tidak mendukung macam panggul sempit.

Akan tetapi kenyataannya, sebagian besar operasi sesar dilakukan tanpa ada indikasi medis serius. Misalnya mengejar tanggal lahir cantik, atau karena takut rasa sakit persalinan normal. Fenomena ini pun menjadikan sesar sebagai tren kelahiran.

WHO memperkirakan ada 3,18 juta praktik operasi sesar yang dibutuhkan, dan hampir dua kali lipatnya--6,20 juta, merupakan praktik operasi sesar yang tidak diperlukan.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar, praktik operasi sesar di seluruh provinsi Indonesia mencapai 15,3 persen, di atas standar yang dikeluarkan WHO--15 persen.

Mengapa bayi lahir sesar lebih rentan sakit?

Prof Dahlen menulis hipotesisnya dalam The Conversation. Untuk jangka pendek misalnya, penyakit kuning terjadi ketika sel-sel darah di kulit kepala bayi rusak akibat memar setelah penggunaan alat, sehingga melepaskan bilirubin--penyebab kulit tampak kuning.

Sementara penyebab jangka panjang, teori pertama adalah epigenetika--peristiwa kehidupan memengaruhi bagaimana gen berfungsi dan diteruskan ke generasi berikutnya. Singkatnya, makin sakit berarti ibu makin stres. Besaran stres saat persalinan berdampak pada janin dan memengaruhi ekspresi gen sehingga bayi lebih rentan.

Teori kedua, sesuai studi sebelumnya, yang menunjukkan bahwa bayi lahir normal punya kesempatan menghasilkan bakteri sehat sebagai antibodi. Ini hanya didapat lewat kontak ketika bayi melewati usus dan vagina ibu.

Bagaimana menghindari intervensi yang tidak perlu?

WHO baru saja merilis rekomendasi yang bisa Anda terapkan. Di antaranya rutin kontrol kehamilan pada praktisi kesehatan yang sama.

Tetap tenang, yakin persalinan bisa berhasil, dan jangan mengintervensi terlalu dini. Sebab, pembukaan sebetulnya lebih lambat dari 1 cm per jam atau bisa lebih cepat jika Anda aktif berjalan atau merangkak.

Selain itu, hindari rutin menggunakan Pemantauan Elektronik Berkelanjutan (CTG) untuk memantau bayi selama kehamilan.

Makan sehat dan tetap aktif selama kehamilan pun bisa mengurangi kemungkinan sesar dan intervensi lainnya hingga 10 persen.

Pun bila terpaksa mengintervensi, pastikan bayi mendapat ASI eksklusif.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR