KESEHATAN MENTAL

Begadang bisa atasi depresi

Ilustrasi bergadang.
Ilustrasi bergadang. | Yakobchuk Viacheslav /Shutterstock

Selama ini kurang tidur dikenal tak baik karena memicu beragam masalah. Efeknya bukan hanya memengaruhi kesehatan fisik dan mental, tapi juga interaksi, kebahagiaan hingga panjangnya usia.

Namun, bertolak belakang dengan semua itu, ternyata kurang tidur juga ada baiknya. Ada orang-orang yang sengaja memilih begadang sebagai solusi mengatasi depresi.

Salah satunya Angelina. Lansia berusia sekitar 70 tahun dari Sisilia itu sejak tiga dekade silam didiagnosis menderita gangguan bipolar. Kala itu ia menghadapi periode stres terberat yang membuat hidupnya bergejolak.

Angelina berjuang menjalani hidup dengan bantuan sejumlah obat-obatan. Mulai dari antidepresan, pil anticemas, hingga pil tidur.

Sayang, penggunaan obat tak terlalu efektif. Pada satu waktu, ia enggan melakukan apapun. Tak jarang pula keinginan bunuh diri muncul.

Beruntung Angelina ditangani ahli yang tepat. Di masa tuanya, ia masih sempat merayakan ulang tahun penikahan ke-50, sebagai perempuan sehat yang ceria.

"Kurang tidur betul-betul memiliki efek bertentangan antara orang sehat dan yang depresi. Jika Anda sehat dan tidak tidur, Anda akan merasakan suasana hati yang buruk. Akan tetapi jika Anda mengalami depresi, begadang bisa memicu peningkatan suasana hati, dan kemampuan kognitif," ujar ahli yang merawat Angelina, Francesco Benedetti, kepala unit psikiatri dan psikobiologi klinis Rumah Sakit San Raffaele di Milan.

Namun, ia menambahkan pengecualian, penderita depresi yang tertidur lama usai begadang, "Akan memiliki risiko kambuh 95 persen."

Bipolar yang dialami Angelina tergolong depresi berat. Pada banyak kasus, depresi berat tak bisa ditangani dengan obat.

Terlebih lagi, efek obat biasanya memakan waktu sekitar sebulan bahkan lebih. Artinya, manfaat langsung pada penderita ketika membutuhkannya sangat terbatas, dan jika diteruskan, kecenderungannya adiktif sekaligus mengubah perilaku, bahkan berpotensi bahaya.

Untuk menemukan metode alternatif mengatasi depresi, beragam penelitian kemudian dilakukan.

Mengutip Time.com, setidaknya ada lima metode bebas obat berbasis ilmiah yang tersedia. Yakni olahraga, program mindfulness atau kesadaran penuh, terapi perilaku kognitif (sejenis terapi bicara), terapi perilaku aktif (mendorong penderita tetap aktif dengan membaca atau menjadi relawan), dan Transcranial Magnetics Stimulation (stimulasi saraf otak untuk memperbaiki suasana hati).

Meski begitu, kelimanya punya kekurangan: tanpa kesadaran, akan sangat sulit melakukannya.

Karenanya, begadang sebagai cara paling mudah dan alami lah yang paling mendapat perhatian.

Efek antidepresan begadang pertama kali diterbitkan dalam sebuah laporan di Jerman tahun 1959. Ini dibenarkan penelitian sepanjang 1970-an hingga 1980, bahwa begadang menekan depresi.

Periset juga menemukan korelasi berkurangnya tidur REM dengan gejala depresi yang membaik. Studi 2002 mengungkap begadang semalaman dapat mengobati depresi sekitar 40-60 persen, yang diperkuat studi 2010.

Pada 2017, begadang sebagai solusi efektif mengatasi depresi semakin pasti. Periset menemukan, baik itu begadang parsial--tidur hanya tiga sampai empat jam sehari--ataupun begadang total--tiga hari berturut-turut, sama efektif memperbaiki gejala depresi. Responsnya pun cepat, hanya dalam 24 jam.

Namun, ada satu hambatan dalam begadang, mengantuk.

Sebab itu, sejak dua dekade silam Benedetti menerapkan cara baru agar orang bisa terjaga di malam hari. Yakni tripel chronotherapy: begadang, lithium dan cahaya.

Inspirasinya berawal dari 'obat penerbangan', di mana cahaya terang membuat pilot tetap waspada. Secara praktik, penderita depresi begadang selama seminggu, terpapar lampu terang sejak tengah malam, dilanjutkan sinar matahari pagi selama 30 menit.

Cara ini efektif bagi Angelina dan hampir seribu pasien lainnya yang pernah dirawat Benedetti sejak 1996. Dan studi juga membuktikan efektivitasnya.

Lantas, mengapa begadang bisa sedemikian efektif?

Keduanya diduga melibatkan area otak. Aktivitas otak orang yang depresi dan normal sangat berbeda. Penderita depresi mengalami perubahan di korteks frontal. Singkatnya, perubahan itu mengganggu ritme sirkadian (siklus 24 jam), hormon, juga sistem lainnya.

Studi 2013 pernah menemukan bahwa ada hubungan antara efek begadang dengan adenosine--protein yang dilepas sel otak astrosit. Pada tikus depresi, suntikan pemicu adenosin mengurangi depresi.

Adenosin ini penting untuk mengatur tidur. Ketiadaannya juga dikaitkan dengan risiko depresi yang lebih besar.

Makin tinggi kadarnya, makin orang terjaga, dan sebaliknya. Dengan begadang--hingga batas waktu tertentu--adenosin akan terlepas perlahan dan akhirnya mendorong tidur secara alami. Dengan kata lain, memulihkan siklus yang kacau tadi.

Pada penderita depresi, adenosine bekerja dengan mengubah arus listrik di otak, yang menyebabkan perubahan suasana hati dan perilaku.

Kendati efektif dan sederhana, Benedetti memperingatkan bahwa ini bukan sesuatu yang boleh dilakukan sendiri tanpa kontrol dokter. Sebab, kemungkinan kesalahan seperti kembali depresi atau memasuki suasana hati campuran, alias dorongan bunuh diri justru berbahaya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR