PERPAJAKAN

Belinya mobil mewah, bayar pajaknya ogah

G
G | Tito Sigilipoe /Beritagar.id

GENGSI | Barang mahal belum tentu mewah. Disebut mewah kalau harga mahal itu untuk hal-hal yang melebihi fungsi dasar, serta... tak semua orang mampu beli. Lalu selebihnya adalah persepsi orang sekitar.

Misalkan ada orang supersugih membeli alat-berat bekas seharga Rp2,5 miliar untuk klangenan di rumah, hal itu tak dianggap keren dan mungkin tak dinilai mewah. Sudah bagus jika cuma dibilang eksentrik.

Beda halnya jika seseorang memiliki, dan menaiki, Bentley Continental GT. Tergantung tipe, harga mobil ini Rp4 miliar – Rp8 miliar. Si pemilik merasa mentereng. Bahwa untuk menghindari pajak mobil sampai Rp108 juta dia harus mengorbankan orang lain, itu semata soal kecerdikan bagi pelakunya. Demikian peristiwa yang mengemuka pekan ini di Jakarta.

Di luar urusan pengemplangan pajak, perilaku konsumen automotif memang bisa aneh. Kebetulan persepsi masyarakat mendukungnya. Sehingga ada mobil yang dianggap lebih pantas kalau dikemudikan sopir. Kenyamanan berkendara dinikmati oleh sopir tapi hal itu dikedepankan dalam iklan-iklan mobil.

Pemeo bilang, mampu beli mobil mahal harus mampu mempekerjakan sopir. Maka pemilik BMW seri 7 memakai sopir. Tak seperti BMW seri 3. Kalau orang punya duit berlebih dan menikmati menyetir sendiri, dia akan beli mobil yang memang takkan membuatnya disangka sebagai sopir.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR