Benarkah ganja bisa tingkatkan produksi sperma

Ilustrasi sperma
Ilustrasi sperma | Tatiana Shepeleva /Shutterstock

Kebiasaan merokok ganja, secara tidak terduga, ditemukan tim peneliti memberikan keuntungan terkait persoalan tingkat kesuburan laki-laki.

Hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa konsumsi ganja telah meningkatkan produksi sperma pemakaianya ini hadir sebagai kejutan besar dalam dunia medis reproduksi.

Tim peneliti dari Harvard University menganalisis lebih dari 600 pria dari pasangan yang terdaftar sebagai pasien pada klinik kesuburan.

Para pasien ini berpikir, sejarah mengonsumsi ganja pada masa lalu telah menghasilkan efek negatif terhadap jumlah sperma dan tingkat reproduksi, sehingga mereka pun kesulitan mendapatkan keturunan.

Sebaliknya, peneliti melihat hal yang tidak terduga.

Peneliti justru menemukan, pasien atau peserta penelitian yang mengaku pernah menggunakan ganja memiliki jumlah sperma lebih banyak dibandingkan yang sama sekali tidak pernah mengonsumsinya.

Namun, peneliti dengan cepat menegaskan, hasil temuan mereka ini tak berarti mendukung kebiasaan merokok ganja atau membenarkan ganja bisa meningkatkan kemungkinan laki-laki menjadi ayah.

Peneliti menjelaskan, mungkin ada penjelasan non-kausal untuk hubungan antara ganja dan kesuburan sperma.

Pemimpin peneliti dari Amerika Serikat, Dr Jorge Chavarro, dari Harvard University, Boston, mengatakan bahwa temuan tak terduga ini menyoroti betapa sedikitnya yang kita ketahui tentang efek kesehatan reproduksi dari kebiasaan mengisap ganja.

"Hasil penelitian kami ini masih perlu ditafsirkan dengan hati-hati. Masih dibutuhkan penelitian lebih mendalam dari efek pemakaian ganja pada kesehatan,”ujar Chavarro.

Penelitian sebelumnya yang melibatkan eksperimen pada hewan dan laki-laki dengan riwayat penyalahgunaan narkoba menunjukkan bahwa ganja merusak kesehatan reproduksi sperma.

Studi terbaru ini mengumpulkan sebanyak 1.143 sampel sperma dari 662 laki-laki pada rentang tahun antara 2000 sampai dengan 2007.

Rata-rata laki-laki berusia 36 tahun, sebagian besar berkulit putih dan berpendidikan tinggi.

Mereka semua adalah pasangan yang membutuhkan bantuan medis lebih lanjut untuk memiliki keturunan.

Seluruh peserta diminta untuk mengisi kuesioner yang merinci riwayat penggunaan obat-obatan terlarang, termasuk ganja.

Hasilnya, lebih dari setengah (55%) laki-laki melaporkan telah merokok ganja pada masa lalu. Lalu, sebanyak 44% mengaku menggunakan obat-obatan terlarang jenis lainnya, dan 11% mengkategorikan diri sebagai pengguna aktif hingga penelitian berlangsung.

Analisis sampel sperma memperlihatkan, laki-laki yang merokok ganja memiliki konsentrasi sperma rata-rata 62,7 juta sperma per milliliter (juta/mL). Mereka yang tidak pernah merokok ganja memiliki jumlah rata-rata 45,4 juta/mL.

Kemudian, hanya 5% pengguna ganja memiliki jumlah sperma di bawah 15 juta mL-- ambang batas ukuran normal berdasarkanOrganisasi Kesehatan Dunia (WHO)-- dibandingkan dengan 12% laki-laki yang tidak pernah merokok ganja.

Selain itu, penggunaan ganja yang lebih banyak, menurut penelitian, memperlihatkan kadar hormon testosteron laki-laki yang lebih tinggi.

Kesimpulan yang dituliskan dalam jurnal Human Reproduction, para ilmuwan juga mengatakan ada kemungkinan paparan ganja tingkat rendah dapat menguntungkan produksi sperma dengan cara tertentu.

Sistem kurir kimia endokannabinoid dalam otak yang terkena pengaruh ganja, kata peneliti, diketahui memainkan peran yang mengatur kesuburan.

"Penafsiran yang sama masuk akalnya adalah bahwa temuan kami dapat mencerminkan fakta bahwa lelaki dengan kadar testosteron yang lebih tinggi lebih mungkin rentan terlibat dalam perilaku risiko tinggi, termasuk merokok ganja,” urai Dr Feiby Nassan, salah satu anggota tim penelitian.

Pemakaian ganja di Indonesia masih masuk dalam perilaku melanggar hukum sesuai dengan Undang-Undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. Terutama pasal 8 ayat 1 dan 2 yang melarang pemakaian ganja untuk keperluan kesehatan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR