Benarkah infeksi saat hamil picu risiko autisme pada janin

Ilustrasi ibu hamil sakit
Ilustrasi ibu hamil sakit | g-stockstudio /Shutterstock

Ada sebuah kepercayaan umum yang keliru, yakni mendapatkan vaksin saat hamil meningkatkan risiko janin terkena autisme.

Menurut sebuah penelitian terbaru, ketika seorang ibu tidak divaksinasi, maka itu meningkatkan janin terhadap risiko autisme.

Studi terbaru ini dilakukan pada hampir 1,8 juta anak di Swedia. Peneliti menyimpulkan, risiko autisme dan depresi pada janin semakin tinggi ketika ibu terkena infeksi selama kehamilan.

Peneliti melihat ibu yang terkontaminasi infeksi kala hamil memiliki janin dengan gangguan perkembangan otak, meningkatkan risiko gangguan kejiwaan, termasuk kondisi bipolar, skizofrenia, depresi, dan autisme.

Studi ini mengamati dalam lingkup yang lebih luas. Peneliti tidak menuliskan jenis infeksi yang meningkatkan risiko. Sebab, hasil yang diperoleh sama, terlepas infeksi yang diderita ibu hamil.

Singkatnya, peneliti menemukan bahwa jenis virus tertentu yang mengakibatkan infeksi memengaruhi perkembangan otak janin.

"Hasilnya menunjukkan bahwa melindungi mencegah infeksi selama kehamilan sejauh mungkin dengan, misalnya, mengikuti rekomendasi vaksinasi flu, mungkin diperlukan," kata Verena Sengpiel, seorang ahli kebidanan dan ginekologi di Universitas Gothenburg.

Hasil penelitian diperoleh lewat data dari Medical Birth Register untuk hampir 1,8 juta anak Swedia yang lahir pada tahun 1973 sampai dengan 2014.

Lalu, penulis menghitung berapa banyak ibu hamil dirawat di rumah sakit dengan infeksi selama kehamilan.

Kemudian, para peneliti mempelajari perkembangan anak-anak dan kesehatan mental mereka melalui daftar rawat inap hingga 2014, ketika mereka berusi 41 tahun.

Analisis statistik dari data mengungkapkan, hubungan yang mengkhawatirkan antara kesehatan mental anak dan sistem kekebalan ibu mereka.

Sementara itu, penelitian tidak menemukan peningkatan risiko skizofrenia atau gangguan bipolar, tetapi penulis menemukan, ketika seorang ibu hamil dirawat karena menderita infeksi, kemungkinan anak menderita depresi dan autisme pada kemudian hari lebih tinggi.

Peneliti menuliskan, peningkatan risiko menderita autisme sebanyak 79 persen dan depresi sebanyak 24 persen.

"Secara keseluruhan, kami menemukan bukti bahwa paparan infeksi ibu selama kehidupan janin meningkatkan risiko autisme dan kemungkinan depresi pada anak," tulis para penulis.

Peneliti menegaskan, hasil penelitian ini sifatnya observasional. Jadi, tidak dapat menjelaskan sebab akibat perkembangan otak anak dan infeksi saat kehamilan.

Namun demikian, penelitian terbaru pada hewan menunjukkan bahwa infeksi mungkin menyebabkan reaksi inflamasi pada sistem saraf dan mengubah ekspresi gen di otak.

Masalahnya, tim penelitian ini juga mencatat ada banyak faktor genetik yang berperan, sehingga hubungan sebab akibat masih sangat kompleks.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR