KESEHATAN

Benarkah terapi urine bermanfaat?

Ilustrasi terapi urine.
Ilustrasi terapi urine. | Doro Guzenda /Shutterstock

Bagi sejumlah orang, terapi urine dengan cara meminum atau mengaplikasikannya di bagian luar tubuh punya manfaat besar bagi kesehatan dan kecantikan. Benarkah demikian? Seberapa aman dan efektif kah terapi urine?

Selebritas Vicky Burki yang tetap sehat dan bugar di usia 53 tahun adalah salah satu orang yang rutin melakukan terapi urine. Sebagai vegetarian, ia mengaku meminum air kencingnya sendiri setiap pagi selama sepuluh tahun terakhir demi mengoptimalkan kesehatan sekaligus menjaga tubuh tetap ideal.

Meski begitu, ia tak memungkiri bahwa manfaat terapi urine tak sama bagi semua orang, dan tergantung cara berpikir orang tersebut.

Tak hanya Vicky, di media sosial facebook, twitter dan instagram juga ada sejumlah grup terapi urine. Ribuan anggota di dalamnya mengklaim meminum atau sekadar berkumur, pun mencuci wajah dan mandi urine bisa memberi banyak hal positif bagi tubuh. Mulai dari menghilangkan beragam masalah kulit, memutihkan gigi, meningkatkan kesehatan secara umum hingga menangkal berbagai penyakit.

Mereka yang percaya khasiat terapi urine cukup beralasan. Terapi yang dalam istilah medis disebut urofagia atau uroterapi ini punya sejarah panjang sebagai perawatan kesehatan kulit tradisional.

Berawal dari budaya kuno India sekitar lima abad silam, praktik tersebut meluas ke Mesir, Yunani, dan Romawi, lalu populer selama Abad Pertengahan dan Renaisans, juga mengetren digunakan untuk berendam di kalangan perempuan Prancis pada abad ke-18.

Lebih-lebih, menukil PhillyVoice, ada beberapa literatur populer yang menulis manfaat terapi urine. Salah satunya diungkapThe Water of Life - A Treatise on Urine Therapy karya John W. Armstrong pada tahun 1971. Tertulis di situ, berpuasa dan hanya meminum urine lebih dari sebulan diyakini menangkal penyakit.

Akan tetapi, itu semua hanyalah bukti kuno. Healthline dan Health menulis, tak ada bukti ilmiah bahwa terapi urine--baik yang diminum ataupun dioles ke tubuh--bermanfaat. Studi-studi terbaru cenderung menunjukkan sebaliknya.

Di dalam urine terkandung produk limbah berupa garam dan mineral pekat sehingga pasti memberatkan kerja ginjal jika diminum kembali. Ini juga mendorong orang mengalami dehidrasi.

Selain itu, mengutip laman Sciencenews, urine yang terbukti steril dalam uji klinis tentang infeksi saluran kemih (ISK) pada tahun 1950-an, ternyata cuma mitos. Menurut sejumlah studi setelahnya, tidak adanya tanda-tanda ISK yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri berlebih pada suatu urine, bukan berarti menandakan tidak ada bakteri sama sekali.

Sebaliknya, urine sebetulnya tidak steril karena saat melewati saluran kemih, ia pasti terkontaminasi bakteri yang bisa saja berbahaya dan berisiko infeksi saat tercerna atau masuk ke dalam aliran darah melalui luka.

Lantas, jika berbahaya, kenapa terapi urine mengetren dan diakui bermanfaat?

Monica Schadlow, M.D., seorang dokter kulit bersertifikat di Manhattan Dermatology and Cosmetic Surgery, mengatakan, orang cenderung tertarik dengan terapi urine karena mereka mencari pilihan perawatan yang lebih alami.

Menurutnya, terapi urine berbahaya itu adalah kemungkinan. Meskipun tidak steril, cairan urine tidak beracun. “Kecuali jika Anda sakit dan memiliki infeksi saluran kemih, atau ada elektrolit dan hormon lain yang diekskresikan dalam urin," catatnya.

Ia pun tidak menyalahkan jika orang-orang begitu percaya dengan meminum atau mengoleskan urine ke kulit, maka mereka akan mendapat efek menguntungkan. Boleh jadi, ada suatu zat dalam urine yang memang bekerja pada orang-orang yang pernah merasakan manfaat terapi urine.

"Manfaat aplikasi topikal tidak jelas, tetapi manfaat urea—bahan aktif utama dalam urin—telah jelas," katanya seraya menerangkan bahwa urea bersifat hidrofilik dan memiliki efek keratolitik.

Artinya, seperti dijelaskan dokter kulit Whitney Bowe, MD, ketika kulit terpapar urea dalam konsentrasi tertentu yang diresepkan dokter, maka kulit akan lebih terhidrasi dan membantu pengelupasan sel-sel mati. Ini memberikan kulit penampilan yang lebih cerah, tekstur lebih halus, dan sehat bercahaya.

“Air seni juga mengandung mineral, garam, hormon, antibodi, dan enzim, yang beberapa di antaranya mungkin benar-benar bermanfaat bagi kulit," ujar Bowe.

Bowe berpendapat tak ada yang perlu dipermasalahkan soal terapi urine. Bahkan jika diminum.

Hanya saja, ia lebih merekomendasikan menggunakan urine dari luar layaknya toner--dioleskan ke wajah pakai kapas, didiamkan 10 menit, lalu dibilas dengan air.

Kata dia, selama urine tidak beracun, lalu Anda menggunakan urine sendiri, dan segera menggunakannya untuk menghindari kontaminasi bakteri, maka tidak ada masalah.

Namun, sambung dr Neal Schultz, MD, selain belum jelas apakah zat-zat dalam urine benar-benar menembus permukaan kulit mengingat cukup sulit melakukan penelitian seperti itu, kandungan urea dalam urine cuma sedikit.

Bahkan masih jauh lebih rendah dari konsentrasi urea dalam krim wajah di pasaran, yang artinya tidak memberi manfaat signifikan pada kesehatan.

Ini juga berlaku bagi urine yang diminum. Kecuali, seseorang melakukannya sambil menerapkan gaya hidup sehat.

Sebagai alternatif minuman, ia mengatakan teh hijau dan cuka sari apel masih lebih bermanfaat dan terbukti aman.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR