CITRA TUBUH

Benarkah tren body positivity memicu obesitas?

Ilustrasi body positivity.
Ilustrasi body positivity. | Roman Samborskyi /Shutterstock

Ada kata positif dalam body positivity. Namun, efek kampanye mencintai tubuh apapun bentuknya diklaim peneliti bisa berdampak buruk. Benarkah demikian?

Akhir-akhir ini kampanye body positivity makin sering digaungkan oleh media, selebritas, dan jenama besar. Penyanyi Demi Lovato mengunggah foto-foto stretch mark-nya mendorong perempuan agar merasa nyaman apapun kondisi kulit mereka.

Ada pula jenama Dove yang secara konsisten menampilkan sosok perempuan apa adanya di laman instagram. Belum lama ini, model ukuran plus Tess Holliday menghiasi sampul edisi digital pertama majalah SELF.

Sebenarnya pesan di balik gerakan ini positif. Namun, sebuah penelitian baru-baru ini jadi pengingat.

Para peneliti di baliknya mempertanyakan apakah body positivity sebenarnya berefek tak sehat. Atau setidaknya, gerakan ini punya beberapa kelemahan.

Penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Obesity ini menganalisis hasil survei kesehatan nasional di Inggris. Survei tersebut berfokus pada peserta dengan indeks massa tubuh (BMI) 25 atau lebih tinggi, dan bagaimana orang-orang ini menggambarkan berat badan mereka.

Hasil penelitian menunjukkan banyak dari mereka yang disurvei berpendapat bahwa berat badan mereka "sudah cukup ideal" atau "terlalu ringan."

Penulis penelitian menyimpulkan bahwa tren ini dipicu oleh kampanye body positivity. Karena paparannya tinggi, orang cenderung menilai diri--berat badan--mereka sudah cukup ideal.

Para peneliti pada dasarnya berasumsi bahwa laporan diri yang "tidak akurat" tentang berat badan sendiri diterjemahkan menjadi masalah budaya yang lebih besar. Kelebihan berat badan dan obesitas dianggap jadi sesuatu yang normal, bukan masalah serius.

Meskipun para peneliti berpendapat bahwa body positivity mungkin ada hubungannya dengan hasil riset mereka, penelitian ini sebenarnya tidak mengeksplorasi body positivity sebagai salah satu faktor.

Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute, orang dengan BMI 25 hingga 29 dianggap kelebihan berat badan. Sementara mereka dengan BMI 30 atau lebih tinggi dianggap obesitas. Di sisi lain perlu diketahui bahwa BMI sebenarnya bukan benar-benar ukuran kesehatan yang dapat diandalkan.

Dan lagi, penelitian ini tidak menyelisik bahaya dari gerakan body positivity secara lebih dalam. Atau efek dari gerakan secara umum pada orang yang terlibat dalam penelitian, atau pada bagaimana mereka berpikir tentang kesehatan mereka.

Para peneliti hanya menganalisis hasil survei kesehatan, dan temuan utama mereka adalah persentase orang yang salah memahami apa yang dimaksud dengan berat badan sehat secara signifikan “meningkat dari waktu ke waktu antara tahun 1997 dan 2015.

Pun demikian para peneliti tidak menyelisik lebih jauh ke gaya hidup setiap individu atau kebiasaan kesehatan di luar rincian yang terkait dengan berat badan dan persepsi mereka akan berat badan.

Seperti dilaporkan Health News Review, penelitian ini tidak dirancang untuk mengukur hubungan antara budaya ukuran plus dan kesehatan, demikian halnya dampak kampanye body positivity pada berat badan seseorang.

Para peneliti hanya mengamati persepsi orang akan berat badan mereka. "Penting untuk mengklarifikasi bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diamati dalam studi ini tidak memungkinkan bagi kita untuk menarik kesimpulan tentang body positivity," tegas Rebecca Puhl, PhD, wakil direktur Rudd Center for Food Policy & Obesity at the University of Connecticut.

Beberapa pakar pun bereaksi atas penelitian ini, menilai kesimpulannya memicu misleading. Bahkan menilai para penulisnya tidak memiliki bukti atas klaim yang mereka kemukakan.

Jessica Alleva, PhD, asisten profesor psikologi di Maastricht University Belanda mengingatkan pentingnya berhati-hati membaca dan menarik kesimpulan agar tak terjebak dalam perspektif yang salah.

Penting untuk mengetahui bahwa makna sebenarnya dari body positivity bukan sekadar penerimaan diri, atau tubuh dalam segala bentuk dan ukuran. Body positivity adalah tentang menjadi sehat, dan mencintai diri sendiri.

Mempraktikkan body positivity berarti tidak sekadar menyoroti pentingnya percaya diri dengan penampilan. Seseorang juga harus memiliki kekuatan fisik dan emosional, kesehatan seutuhnya.

Body positivity bukan alasan untuk memelihara gaya hidup tidak sehat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR