Berakhirnya era sepatu hak tinggi

Agaknya ungkapan "Beauty is pain" mulai basi.  Era sepatu hak tinggi telah berakhir, digeser oleh kets nan nyaman.
Agaknya ungkapan "Beauty is pain" mulai basi. Era sepatu hak tinggi telah berakhir, digeser oleh kets nan nyaman. | Africa Studio /Shutterstock

Agaknya ungkapan "Beauty is pain" mulai basi.

Sepatu hak tinggi telah lama mendominasi. Namun kini era sepatu hak tinggi telah berakhir. Perempuan lebih pilih sepatu kets ketimbang stiletto.

Kesimpulan ini diungkap sebuah studi yang dilakukan analis konsumen Mintel terhadap perempuan di Inggris. "Untuk pertamakalinya, penjualan sepatu kets melamapui sepatu hak tinggi," ujar analis fesyen senior Mintel, Tamara Sender.

Dalam setahun terakhir terbukti 37 persen perempuan Inggris membeli sepatu kets. Sementara hanya 33 persen saja yang membeli sepatu berhak. Fakta menarik lain, pembeli sepatu kets ini tak hanya perempuan muda, melainkan didominasi perempuan berusia 35 hingga 44 tahun.

"Selama beberapa tahun terakhir, secara umum sepatu hak datar cenderung lebih populer di kalangan perempuan. Ini terlihat di catwalk, desainnya jadi lebih baik di tangan para desainer kelas atas, jadi sebenarnya wajar saja jika banyak perempuan ingin memakainya," kata editor fesyen majalah InStyle Hannah Rochell seperti dilansir BBC.

Rochell juga melihat tren ini di kantor dan dunia fesyen pada umumnya. Mereka yang dulu kerap bersepatu hak tinggi, kini sudah tidak mengenakannya lagi.

Survei Mintel pun mendukung pernyataan Rochell. Sebanyak 74 persen perempuan yang disurvei menyatakan kenyamanan lebih penting daripada gaya dalam hal pilihan sepatu.

"Bagi saya, mengenakan sepatu hak datar atau kets terasa lebih menguatkan karena selain bisa tampil dengan baik, saya juga merasa nyaman dan praktis, saya bisa lari, bisa jalan dengan leluasa," papar Rochell.

Menurut Mintel, tren sepatu kets ini tidak berkorelasi dengan tren athleisure yang mengemuka sejak 2015. Dikatakan Sender, data menunjukkan 50 persen konsumen yang membeli sepatu olahraga dalam 12 bulan terakhir tidak menggunakannya untuk keperluan olahraga.

Tren sepatu kets terlihat pula lewat para selebriti-jadi desainer yang merilis sepatu kets. Beberapa contoh misal, Rihanna dengan Fenty-nya, juga Kanye West dengan Yeezy yang ludes dalam hitungan detik.

Dari kacamata kesehatan, tren ini bisa jadi berdampak positif bagi banyak perempuan. Bagaimanapun, seperti ditulis situs NHS, sepatu hak tinggi bisa jadi tak baik untuk kesehatan. "Mengenakannya untuk acara malam yang formal cenderung tidak berbahaya. Namun mengenakannya sepanjang pekan saat bekerja dapat mengganggu kaki, apalagi jika pekerjaan mengharuskan Anda banyak berjalan atau berdiri."

Podiatris Dr. Steve Rosenberg juga menulis di Huffington Post tentang betapa tak baiknya sepatu hak tinggi untuk kesehatan. Dari aspek desain, sepatu hak tinggi memang bisa membuat kaki pemakainya lebih jenjang, seksi, dan seterusnya. Namun sepatu ini memang tidak dirancang untuk mengikuti bentuk kaki dengan nyaman. Rosenberg pun mempertanyakan, kenapa perempuan tetap membeli sepatu berhak tinggi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR