POLUSI UDARA

Berbagai penyakit akibat polusi

Ilustrasi sakit karena polusi udara.
Ilustrasi sakit karena polusi udara. | Aslysun /Shutterstock

Kualitas udara Indonesia menjadi perhatian internasional. Pasalnya, seiring perhelatan Asian Games 2018 yang akan dimulai beberapa pekan lagi, Jakarta justru menduduki peringkat pertama kota paling terpolusi di dunia versi aplikasi AirVisual.

Sementara itu, kota-kota lain di Indonesia seperti Bogor dan Denpasar juga memiliki kondisi udara yang tergolong tidak sehat. Padahal, kualitas udara yang buruk berpotensi mengancam kesehatan masyarakat dengan menebar berbagai penyakit.

Laman Enviromental Pollution Centers menulis bahwa penyakit-penyakit itu bisa dimulai dari kondisi yang ringan seperti iritasi mata, hidung, mulut dan tenggorokan, juga tingkat energi yang berkurang dan sakit kepala.

Lebih lanjut, polusi udara juga berpotensi menciptakan berbagai kondisi lebih serius yang diam-diam membunuh.

Kepada CNN Indonesia, dokter ahli paru Agus Dwi Susanto mengatakan bahwa efek polusi udara biasanya dimulai dari paru, karena polusi udara baik di dalam atau luar ruangan saat kita menarik napas berhubungan langsung dengan sel paru.

Penyakit paling umum, lanjut dia, adalah yang menyerang saluran pernapasan. Pada tahap awal, polusi udara yang kita hirup menyebabkan perubahan subklinis atau kerusakan tanpa timbulnya gejala dan tidak memerlukan obat.

"Ini yang sering tidak disadari karena tidak ada gejala, tapi sebenarnya polusi udara sudah merusak. Dampaknya tentu tidak sekarang, tapi 10 atau 20 tahun lagi," tutur Agus yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.

Padahal, melansir Science News, satu studi jelas menunjukkan bahwa hanya butuh waktu 15 menit bagi relawan sehat yang diminta bersepeda di daerah terpolusi untuk terpapar udara kotor. Di dalam aliran darah mereka terdeteksi mengandung nanopartikel yang tetap bertahan selama tiga bulan.

Jadi terbayang, jika kita terus menerus menghirup udara kotor, “Dari sel paru, partikel polusi itu bisa menyerang organ lainnya dalam tubuh melalui peredaran darah," papar Agus.

Alhasil, selain mengakibatkan berkurangnya respons paru, akan terjadi juga kerusakan fungsi organ pada tingkat sel. Pada tahap lanjut, kerusakan sel itu semakin luas dan mulai menunjukkan gejala yang memerlukan penanganan, hingga menyebabkan kematian.

Laporan global disease burden 2017 telah mengungkap bahwa polusi udara di luar ruangan merupakan salah satu penyebab utama kematian dini di dunia, yang sebagian besar disebabkan penyakit kardiovaskular seperti jantung dan strok.

Menurut Dr. Jeffrey Drazen, profesor kesehatan lingkungan di Harvard T.H. Chan School of Public Health, ada hubungan biologis yang jelas antara polusi udara dan penyakit jantung.

Kata dia, jika partikel polusi yang telah melewati paru masuk ke peredaran darah, maka sel-sel kekebalan yang disebut makrofag akan aktif. Sel-sel ini terlibat dalam terciptanya plak penyumbat arteri yang mengganggu aliran darah.

Akibatnya, "Terjadi inflamasi yang mengakibatkan disfungsi pembuluh darah sehingga tidak dapat bekerja dengan baik dan menyerang jantung,” tambah dokter ahli jantung Ario Soeryo Kuncoro.

Selain jantung, sekitar 42 persen kematian global disebabkan penyakit saluran pernapasan,yang berkembang menjadi infeksi saluran pernapasan, asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), hingga kanker paru-paru.

Bahkan, beberapa penelitian telah menemukan hubungan antara partikel polusi, nitrogen dioksida dan ozon dengan kanker ginjal, kandung kemih, dan kanker kolorektal.

Studi lain menemukan bahwa paparan polusi udara pada janin dan bayi terkait dengan berbagai jenis kanker masa kanak-kanak terutama leukemia dan kanker retina.

Memang, pada tahun 2013, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) telah mengklasifikasikan materi partikulat sebagai karsinogen manusia.

Sebagai informasi, menukil Vital Strategies, materi partikulat (PM) atau disebut partikel polusi biasa ditemukan pada debu, jelaga, dan asap. Sementara partikulat halus atau PM2.5, yang diproduksi langsung dari pembakaran berbagai bahan bakar berbasis karbon seperti emisi industri dan kendaraan, memiliki dampak terbesar terhadap kesehatan masyarakat secara global.

Ini diketahui berperan penting pada peningkatan risiko diabetes dengan mengurangi produksi insulin dan memicu peradangan, sehingga tubuh mengalami kesulitan mengubah glukosa darah menjadi energi yang dibutuhkan.

Agus menambahkan bahwa partikel polusi seperti PM2,5, NOx dan SO2 juga bisa menyerang organ tubuh lainnya seperti usus, ginjal hingga otak.

Dan betul adanya bahwa racun yang kita hirup dari udara bisa berefek pada sel-sel saraf. Satu studi membuktikan polusi udara bisa meningkatkan kenakalan remaja.

Lalu, studi 2012 oleh peneliti Harvard menemukan bahwa paparan polusi tinggi menyebabkan penurunan kognitif lebih cepat, yang lebih lanjut diketahui karena penurunan jumlah materi putih di otak.

Karenanya tak mengherankan jika lusinan studi setelahnya menghubungkan polusi dengan risiko Alzheimer atau demensia, juga kejadian neurologis lainnya.

Pada perempuan dan ibu hamil, meski dibutukan studi lebih lanjut, polusi udara pun terkait dengan kesehatan reproduksi dan penyakit ginekologi. Ini bisa menyebabkan ketidakteraturan menstruasi—khususnya pada remaja-- dan ketidaksuburan, termasuk penurunan berat badan, gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, serta gangguan perkembangan mental dan fisik.

Selain itu, ada sejumlah bukti bahwa polusi udara—terutama bagi mereka yang tinggal dekat jalan raya-- berkontribusi pada kelebihan berat badan dan pembesaran BMI. Penyebabnya diperkirakan berasal dari gangguan hormon, atau terkait genetik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR