Bercinta tidak memicu serangan jantung

Ilustrasi serangan jantung.
Ilustrasi serangan jantung. | Chanyanuch Wannasinlapin /Shutterstock

Sebagian orang dengan penyakit jantung menghindari aktivitas seksual karena takut akan risiko mati mendadak akibat gagal jantung.

Bisakah bercinta menyebabkan jantung tiba-tiba berhenti berdetak? Sebuah studi baru menunjukkan bahwa, walaupun hal ini bisa terjadi, kemungkinannya sangat kecil.

Pemikiran ini rupanya bercokol di otak sebagian orang, karena maraknya adegan serupa dalam film. Sebut saja Something's Gotta Give, atau serial Mad Men. Di mana salah satu adegannya memperlihatkan tokoh yang sedang bercinta, lalu mengalami gagal jantung.

Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology tersebut, peneliti menganalisis informasi dari lebih dari 4.500 orang yang mengalami serangan jantung di antara tahun 2002 hingga 2015 dalam sebuah komunitas di Amerika Serikat.

Serangan jantung adalah suatu kondisi di mana jantung tiba-tiba berhenti berdetak, menghentikan aliran darah ke otak dan organ vital lainnya. Sering kali ini terjadi tanpa didahului gejala tertentu, dan jika tidak segera diobati, hampir selalu berakibat fatal.

Studi tersebut menemukan, di antara kasus-kasus tersebut, kurang dari satu persen kasus gagal jantung terjadi mana kala atau sesaat setelah aktivitas seksual.

Periset mengklaim, penelitian ini adalah yang pertama meneliti aktivitas seksual sebagai pemicu potensial serangan jantung di kalangan populasi umum. Temuan ini dipresentasikan pada (12/11) pada pertemuan American Heart Association's Scientific Sessions di Anaheim, California, AS, dan dipublikasikan di Journal of American College of Cardiology.

"Walau serangan jantung adalah kondisi sangat buruk dengan kemungkinan kematian yang tinggi, kemungkinan hal ini terjadi selama aktivitas seksual sangat rendah," ujar Dr. Sumeet Chugh, penulis senior studi yang juga direktur medis Heart Rhythm Center di Cedars-Sinai Heart Institute, Los Angeles.

Dalam kasus yang jarang terjadi di mana hubungan seksual dikaitkan dengan serangan jantung, hampir semua kasus--94 persen--terjadi pada laki-laki. Studi tersebut menemukan: di antara laki-laki, sekitar 1 dari 100 kasus gagal jantung dikaitkan dengan hubungan seksual, hanya 1 dari 1.000 kasus terjadi pada perempuan.

Orang yang mengalami serangan jantung saat berhubungan seksual cenderung sedikit lebih muda, rata-rata berusia sekitar 60 tahun, dibandingkan mereka yang mengalami serangan jantung mendadak pada waktu lain, rata-rata berusia sekitar 65 tahun.

Namun, mereka yang mengalami serangan jantung saat berhubungan seks punya kemungkinan yang sama memiliki kondisi jantung atau sedang dalam pengobatan jantung, seperti halnya mereka yang mengalami serangan jantung pada waktu lain.

Studi tersebut juga menemukan bahwa meskipun serangan jantung yang terkait dengan aktivitas seksual biasanya disaksikan oleh pasangan orang tersebut, bystander CPR hanya dilakukan pada sepertiga kasus. Bystander CPR adalah CPR yang dilakukan oleh saksi sebelum ambulans muncul.

Menurut periset, temuan ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk mendidik masyarakat tentang pentingnya CPR untuk pasien serangan jantung.

"Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa CPR yang dilakukan oleh saksi atau orang yang ada pada saat kejadian dapat meningkatkan kemungkinan bertahan hidup dari serangan jantung," kata Chugh."

Menurutnya, jika CPR dipelajari dan dilakukan oleh semua pasangan seksual, ada kemungkinan baik untuk meningkatkan kelangsungan hidup.

Dikutip BBC sebuah studi lain yang juga dipresentasikan dalam konferensi tersebut memperlihatkan bahwa CPR bisa mulai diajarkan bahkan pada anak yang baru berusia enam tahun.

Penelitian ini, menurut Dr. Michael J, Ackerman, yang tidak terlibat dalam studi, telah menjawab pertanyaan besar yang selama ini jadi momok bagi mereka yang punya penyakit jantung. "Jawabannya baik bagi mereka yang menggemari seks," ujar Dr. Ackerman dilansir CNN.com.

Tiga tahun lalu, Dr. Ackerman pernah mempublikasikan studi serupa yang mengamati pasien dengan penyakit jantung genetik. Bersama rekannya, ia menunjukkan bahwa ketika kondisi genetik ini didiagnosis dan ditangani, maka hubungan seksual jarang memicu serangan jantung.

Menurutnya, mengetahui fakta tersebut sangatlah penting untuk mengusir kecemasan mereka yang punya kehidupan seks aktif.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR