Berpura-pura dapat meningkatkan kreativitas

Ilustrasi
Ilustrasi | Kaspars Grinvalds /Shutterstock

Ternyata kita cenderung memandang kreativitas dalam perspektif tak kreatif. Padahal, kreatif itu bukan sifat bawaan lahir, melainkan sesuatu yang bisa dibentuk menurut konteks.

Saat Anda merasa kurang kreatif, solusinya adalah: halloweenisme psikologis.

Istilah tersebut diciptakan oleh profesor Harvard Medical School, Srini Pillay. Maksudnya, seseorang bisa mencoba berbagai identitas--layaknya memakai kostum kala Halloween--atau perspektif untuk memancing cara berpikir yang lebih kreatif.

Dalam tulisannya di Harvard Business Review, psikiater Srini Pillay menyoroti pentingnya "menjadi tidak fokus", dan lebih spesifik lagi, hasil studi yang mendemonstasikan sesuatu yang disebut "efek stereotip".

Pillay mengutip sebuah studi yang dilakukan Denus Dumas dan Kevin Dunbar. Dalam studi tersebut, periset mengumpulkan sekelompok mahasiswa dan mahasiswi.

Mereka dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama diminta membayangkan mereka adalah penyair eksentrik, kelompok kedua adalah pustakawan yang kaku, kelompok ketiga tidak diberi peran spesifik, bersikap normal.

Dumas dan Dunbar kemudian memperlihatkan benda seperti buku, wortel, garpu, celana, dan sekop. Para mahasiswa kemudian diberi waktu dua menit untuk menyebutkan kegunaan masing-masing benda tersebut, lalu menggantinya dengan benda yang lain.

Ternyata, berpura-pura menjadi orang yang kreatif benar-benar membuat orang lebih inovatif. "Kami menemukan bahwa ketika partisipan mengambil peran stereotip yang berjiwa bebas--seperti penyair eksentrik--kefasihan dan orisinalitas mereka meningkat secara signifikan," tulis Dumas dan Dunbar.

Jadi, kunci menuju kreativitas bukan terletak pada keyakinan pada diri sendiri. Anda hanya perlu meyakini bahwa Anda adalah orang lain yang kreatif.

Menurut Pillay, halloweenisme psikologis bisa berhasil karena dengan melakukannya seseorang mencoba untuk secara sadar membuyarkan fokus. Ini secara positif merangsang default mode network (DMN) dalam otak dan bagian otak yang langsung beraksi saat seseorang dalam keadaan tidak fokus pada pikiran tertentu yang spesifik.

DMN mungkin cenderung tenang, namun bukan berarti tak terpakai. Sepanjang hari DMN mengaduk-aduk memori, menyusun ide, menyisipkan masa lalu, sekarang dan masa depan ke dalam rasa di mana kita menempatkan diri dalam ruang dan waktu.

Seperti ditulis Susie Neilson dalam The Science of Us, ide revolusioner di balik halloweenisme psikologis adalah:

"Bagaimana jika kita berhenti menghakimi diri sendiri karena kelelahan mental kita, dan sebaliknya mulai memanfaatkan itu. Mengubah cara pandang kita akan berkhayal dapat berarti menyelesaikan dua masalah sekaligus: Anda jadi semakin kreatif, dan Anda memberi ruang bagi diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang kerap membuat Anda merasa bersalah. Membayangkan Anda berada dalam situasi baru, atau bahkan identitas baru belum pernah membuat Anda merasa seproduktif ini."

Jadi, luangkan waktu untuk mempraktikkan halloweenisme psikologis. Berkhayal lah, niscaya Anda bisa memenuhi tanggung jawab sehari-hari dengan lebih baik dan tentu saja, kreatif.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR