TUMBUH KEMBANG

Bicara soal kesehatan mental pada anak

Bicara pada anak soal kesehatan mental.
Bicara pada anak soal kesehatan mental. | Tom Wang /Shutterstock

Masalah kesehatan mental tidak hanya bisa terjadi pada orang dewasa, anak-anak pun punya risiko yang sama. Tekanan keluarga, sekolah, atau pertemanan juga bisa membuat anak stres, bahkan depresi.

Untuk itu, orang tua perlu bicara dengan anak soal apa itu kesehatan mental.

"Tidak pernah terlalu dini atau terlalu terlambat untuk mulai memikirkan tentang kesehatan mental anak, tetapi pastikan Anda memilih bahasa Anda dengan hati-hati," kata Sarah Kendrick dari Place2be, layanan amal untuk kesehatan mental anak.

Lalu, kapan waktu yang tepat bicara dengan anak? Pilihlah momen tenang agar anak tidak merasa tertekan. Anda bisa bicara di mobil selama perjalanan ke suatu tempat atau saat beraktivitas santai bersama anak. Percakapan yang tidak seperti interogasi akan sangat membantu.

Pada pembahasan awal, Anda bisa bicara mengenai perbedaan emosi. Dari usia muda, anak-anak harus mulai belajar apa itu emosi dan perasaan. Bahkan bayi pun mengalami emosi dasar, seperti senang dan takut.

Anda dapat membantu anak-anak belajar tentang apa itu emosi dan mengapa itu terjadi. Lakukan sesering mungkin untuk mengenalkan pada anak bagaimana perasaan Anda dengan menamai emosi menggunakan kata-kata sederhana.

Anda juga dapat berbicara dengan anak-anak tentang bagaimana emosi membuat mereka merasakan sesuatu di dalam tubuh, misalnya sedih membuat lelah atau saat gembira, rasanya seperti ada kupu-kupu di dalam perut.

Anak akan mulai memahami emosi yang dialami, mengapa bisa terjadi, serta melihat ada hubungan antara apa yang mereka rasakan dalam pikiran dan dampaknya pada tubuh.

Setelahnya, Anda bisa berdisksusi lebih lanjut tentang bagaimana mengatasi emosi yang muncul secara positif.

Saat anak sudah cukup umur dan telah banyak berdiskusi soal kesehatan mental, orang tua pun bisa membicarakan bagaimana masalah kesehatan mental memengaruhi kehidupan, jenis-jenis gangguan kesehatan mental, bahkan tentang bunuh diri.

Ketika ada orang bunuh diri, apalagi orang terdekat, banyak orang tua merasa perlu menyembunyikan informasi tersebut dari anak. Padahal para ahli menyarankan untuk membicarakannya dengan anak-anak untuk memahami kematian dan meminimalkan rasa takut.

"Bersikaplah jujur tentang fakta bahwa itu adalah bunuh diri," kata Jill Dennison dari Canadian Mental Health Association.

Setelah membicarakan kesehatan mental dengan anak, bukan berarti tugas Anda selesai. Sebaiknya bicarakan hal-hal semacam ini secara berkala sesuai dengan usia anak. Kemudian, orang tua harus selalu memperhatikan kondisi anak.

Bila anak memberi tahu ada sesuatu yang mengganggu mereka, dengarkan dengan serius. Apa yang terasa kecil bagi orang dewasa, bisa jadi hal luar biasa bagi anak.

Jika orang tua bisa jadi teman bagi anak bercerita, ini akan menjaga jalur komunikasi tetap baik. Anak akan tetap terbuka atas masalah-masalah yang dihadapi.

Anda pun perlu memberi tahu bahwa bila anak atau orang lain mengalami masalah kesehatan mental, tidak perlu malu dan menyalahkan diri. Sebab siapapun sebenarnya bisa dipengaruhi oleh kesehatan mental yang buruk, termasuk anak-anak.

Pastikan anak tahu, sama seperti sakit fisik, gangguan kesehatan mental pun bisa diatasi dengan baik bila anak mau berkonsultasi dengan pakar kesehatan.

Kesehatan mental dan kesejahteraan anak

Mengutip WHO, 10 sampai 20 persen anak-anak dan remaja di seluruh dunia mengalami gangguan mental. Setengah dari semua gangguan mental dimulai pada usia 14 tahun.

Sementara itu, mengutip detikcom, penelitian oleh dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, pada kurang lebih 941 siswa sekolah di daerah Jakarta menunjukkan lebih dari 30 persen mengalami depresi dan 18,6 persen di antaranya memiliki keinginan untuk bunuh diri.

Oleh karena itu, orang tua harus lebih sensitif terhadap perubahan perilaku yang terjadi pada anak. Misalnya, anak yang pendiam tiba-tiba menjadi lebih agresif atau pemberani tanpa sebab yang jelas.

Anak-anak gangguan mental menghadapi tantangan besar dengan stigma, isolasi, dan diskriminasi, serta kurangnya akses ke fasilitas perawatan kesehatan dan pendidikan, dan ini melanggar hak asasi manusia mereka.

Pada anak-anak dengan masalah kesehatan, mereka butuh perawatan intensif karena dapat memengaruhi perkembangan, pencapaian dalam pendidikan, serta potensi untuk hidup sejahtera.

Berbicara dengan anak-anak tentang kesehatan mental dapat membantu mengurangi stigma dan penilaian tentang penyakit mental saat mereka tumbuh dewasa.

Obrolan semacam ini akan membuat anak mau mencari bantuan bila mengalami gangguan kesehatan mental, mampu menolong orang lain, dan membuat anak tidak memandang sebelah mata pada orang dengan gangguan kesehatan mental.

BACA JUGA