KONSUMERISME

Black Friday: Hari belanja berlatar krisis ekonomi

Konsumen antre di MediaMarkt, sebuah retailer elektronik di Belanda pada hari Black Friday di Rotterdam, Belanda (23/11/2018)
Konsumen antre di MediaMarkt, sebuah retailer elektronik di Belanda pada hari Black Friday di Rotterdam, Belanda (23/11/2018) | Robin Utrecht /EPA-EFE

Tradisi Black Friday adalah hari belanja barang ritel dengan diskon besar-besaran--hingga 80 persen--yang dimulai di Amerika Serikat. Momen ini diselenggarakan sehari setelah Hari Thanksgiving, atau hari Jumat pada minggu keempat bulan November.

Di 20 negara bagian, warga diliburkan, dan secara tidak resmi dianggap sebagai awal musim belanja dalam rangka Natal pada akhir tahun.

Di Indonesia, tradisi Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) biasa digelar tiap 11 November (1111) dan 12 Desember (1212)--berdekatan dengan tradisi Jumat Hitam. Meski tradisinya tak populer di sini, sejumlah toko daring memanfaatkan momen tersebut untuk meluncurkan sejumlah program.

Istilah "Black Friday" atau Jumat Hitam digadang mengacu pada catatan keuangan pengusaha ritel atau toko-toko yang "menjadi hitam" alias tidak lagi merah. Banyaknya orang berbelanja, bisnis ritel berharap dapat menutup tahun tanpa kerugian.

Meski tradisi mencatat kerugian dengan tinta merah benar adanya, istilah ini awalnya tidak mengacu pada kebiasaan peritel tersebut.

Dicatat oleh situs History, istilah “Black Friday” tercatat pertama kali bukan untuk merayakan hari belanja, tetapi menandai krisis ekonomi di AS lantaran remuknya harga emas pada 24 September 1869.

Dua pialang Wall Street, Jay Gould dan Jim Fisk, kongkalikong untuk membeli emas sebanyak mungkin, berharap harganya akan naik sehingga bisa menuai untung saat dijual lagi. Pada Jumat bulan kesembilan Masehi itu, konspirasi keduanya terbongkar. Pasar saham pun kolaps dan membangkrutkan para pemainnya di Wall Street.

Istilah Black Friday yang kini dikenal, berawal dari masa kelam di Philadelphia--kota terbesar keenam di AS--di negara bagian Pennsylvania. Pada 1950-an, polisi di kota itu menggunakannya justru untuk mendeskripsikan kekacauan yang terjadi setelah perayaan Thanksgiving.

Saat itu, berbondong-bondong orang datang ke kota untuk menyaksikan laga sepak bola khas AS yang menampilkan angkatan perang negeri Paman Sam itu pada Sabtu setiap tahun. Polisi kota Philly disibukkan oleh luapan massa tak terkendali, bercampur antara kemacetan dan aksi kriminal oleh para pencopet yang mengiringinya.

Lalu pada 1961, istilah “Black Friday” coba diubah menjadi “Big Friday”, tetapi gagal. Istilah pengganti ini tak populer. Hingga 1980-an, muncullah wacana untuk menjadikan istilah tersebut sebagai upaya "menghitamkan" buku kas para peritel.

Kisah inilah yang populer hingga kini. Jumat Hitam tak lagi bermakna negatif seperti sejarah yang menyertainya. Ajang belanja yang tadinya dibuat hanya sehari, kemudian dijadikan empat hari, mengalahkan ajang belanja lainnya di AS.

Tahun ini, lembaga ritel AS, National Retail Federation, memperkirakan bakal ada 164 juta orang yang bersiap belanja pada Jumat Hitam pada 23 November 2018 waktu AS ini--hingga yang belanja secara daring pada Senin tiga hari berikutnya.

“Baik mereka yang akan menuju toko setelah pesta kalkun saat Thanksgiving, maupun yang lewat daring pada Cyber Monday, konsumen akan berbelanja sepanjang akhir pekan tersebut dan peritel akan bersiap untuk menyambut mereka," demikian kata Presiden dan CEO NRF, Matthew Shay.

Survei yang mereka lakukan memprediksi konsumen akan berbelanja pada akhir pekan panjang pada hari Thanksgiving sebanyak 21 persen (34 juta). Adapun mereka yang berencana berbelanja saat Jumat Hitam diprediksi bakal mencapai 71 persennya.

Dalam laporan NRF 2018 Holiday Spending Survey, yang dilakukan Prosper Insights & Analytics, belanja secara daring akan menjadi pilihan utama. Lewat daring, pembeli tentu tak perlu antre secara fisik di toko.

Buy Nothing Day, melawan Black Friday

Aktivitas berbelanja massal yang tak hanya populer di AS ini bukan tanpa kritik. Pada 1992 di Kanada, muncul gerakan yang melawannya, dipelopori majalah Adbusters. Gagasan yang dibungkus dengan nama "Buy Nothing Day" ini justru menyarankan warga untuk rehat belanja selama 24 jam.

Adbusters melalui situs kampanyenya, mendefinisikan Jumat Hitam sebagai "Orang-orang berebut untuk berbelanja, sehari setelah bersyukur atas apa yang dimilikinya." Definisi ironis atas fenomena Black Friday yang berlaku setelah Thanksgiving.

Digagas oleh seniman Kanada, Ted Dave, konsep gerakan yang dibesarkan Adbusters ini adalah “sehari bagi publik untuk berpikir ulang tentang konsumsi berlebihan", termasuk di dalamnya dampak berbagai produk (yang dibeli) terhadap lingkungan.

Beberapa aktivitas yang disarankan sebagai ekspresi melawan hari belanja massal secara internasional itu di antaranya pemotongan kartu kredit sebagai simbol untuk menghentikan utang konsumtif berlebihan; atau “zombie walks”, saat para aktivis pendukung ide ini berkeliaran di kompleks pertokoan menyaru zombie.

Mengutip George Monbiot, seorang enviromentalis asal Inggris, Adbusters menulis, "Pangganglah roti, tulislah puisi, berikanlah ciuman, bercandalah dengan mereka, tapi demi Tuhan hentikanlah menyampahi Bumi demi menunjukkan kepedulian Anda kepada seseorang. Aksi itu justru menunjukkan hal yang sebaliknya."

Sementara itu, lembaga riset GlobalData memproyeksikan nilai total belanja pada Black Friday di AS pada tahun ini akan meningkat 6 persen dibanding 2017. Total nilai belanja diprediksi mencapai sekitar $60 miliar, dan belanja daring akan meningkat 33 persen dibanding tahun lalu.

Adapun di Inggris, bank Barclaycard yang menguasai sekitar 50 persen pangsa pasar kartu kredit warga, menyatakan jumlah total transaksi hingga Jumat (23/11) pukul 15:00 waktu setempat meningkat 10 persen dibanding tahun lalu.

Barclaycard seperti dikutip BBC mencatat rekor jumlah transaksi sebanyak 1.087 kali per detik antara pukul 13:00-14:00. Meski demikian, nilai totalnya sebenarnya turun hingga 12 persen dibandingkan periode yang sama.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR