KEKERASAN TERHADAP ANAK

Bullying bisa mengubah otak remaja

Ilustrasi perundungan.
Ilustrasi perundungan. | UVgreen /Shutterstock

Aksi perundungan (bullying) tidak hanya mengganggu perkembangan psikologis anak. Penelitian baru menunjukkan, pengalaman buruk itu mungkin menyebabkan perbedaan struktural fisik pada otak remaja yang sering jadi korban.

Satu dari lima anak telah atau sedang mengalami perundungan. Begitu menurut statistik dari National Bullying Prevention Center di Amerika Serikat (AS).

Sementara survei di Inggris menunjukkan, setengah dari siswa sekolah dasar dan satu dari 10 siswa sekolah menengah di Inggris mengalami perundungan setiap hari.

Kini penelitian baru menunjukkan perundungan bisa menyebabkan perubahan fisik di otak dan meningkatkan kemungkinan penyakit mental. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Molecular Psychiatry.

Dr. Erin Burke Quinlan dari King's College London di Inggris, dan rekannya adalah tokoh di balik penelitian ini. Mereka menganalisis kuesioner dan pemindaian otak 682 pelajar dari berbagai negara di Eropa.

Para peserta adalah bagian dari proyek jangka panjang IMAGEN. Penelitian ini bertujuan menilai perkembangan otak dan kesehatan mental orang dewasa muda melalui kuesioner dan pemindaian otak resolusi tinggi, diambil ketika para peserta berusia 14 dan 19 tahun.

Para ilmuwan menemukan, lebih dari 30 partisipan pernah mengalami perundungan kronis. Kemudian, mereka membandingkan data dengan orang-orang muda yang belum menjadi korban aksi serupa.

Analisis menunjukkan, perundungan parah dikaitkan dengan perubahan volume otak dan tingkat kecemasan pada usia 19 tahun.

Studi ini mengonfirmasi hasil penelitian sebelumnya yang mengaitkan perundungan dengan masalah kesehatan mental. Tak berhenti di situ, studi ini juga mengungkap fakta baru.

Perundungan dapat mengurangi volume bagian otak yang disebut caudate dan putamen.

Caudate berperan penting dalam proses belajar otak, khususnya bagaimana memproses ingatan. Bagian otak ini menggunakan informasi dari pengalaman masa lalu untuk memengaruhi tindakan dan keputusan di masa depan. Sedangkan putamen mengatur gerakan dan memengaruhi pembelajaran.

Para penulis penelitian mengatakan, perubahan fisik pada otak remaja yang terus-menerus dirundung sebagian menjelaskan hubungan antara viktimisasi teman sebaya dan tingkat kecemasan tinggi pada usia 19 tahun.

"Meskipun tidak secara klasik dianggap relevan dengan kecemasan, pentingnya perubahan struktural dalam putamen dan caudate pada munculnya kecemasan kemungkinan besar terletak pada kontribusi mereka terhadap perilaku terkait seperti sensitivitas reward, motivasi, pengondisian, perhatian, dan pemrosesan emosional," jelas Quinlan dalam rilis penelitian.

Quinlan menjelaskan, kondisi saat ini sangat mengkhawatirkan. Sebanyak 30 persen pelajar bisa mengalami perundungan setiap hari.

Padahal perkembangan otak selama masa remaja adalah hal yang sangat penting. Karenanya Burke dan Quinlan berharap ada lebih banyak upaya untuk memerangi perundungan di masa yang akan datang.

Viktimisasi teman sebaya kini menjadi masalah global yang mungkin mengarah pada perubahan fisik di otak, kecemasan yang meluas, dan biaya tinggi bagi masyarakat.

Orang-orang yang menjadi korban perundungan dua hingga tiga kali lebih mungkin mengalami gangguan kecemasan. Penelitian sebelumnya telah menemukan hubungan antara perundungan dan risiko masalah kesehatan mental yang lebih tinggi selama masa kanak-kanak, seperti depresi dan peningkatan risiko bunuh diri.

Itu mengapa para peneliti menekankan pentingnya pencegahan. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, perundungan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.

Ini bisa terlihat dalam aksi cyberbullying yang menyebar luas. Cyberbullying adalah segala bentuk perundungan yang dilakukan melalui ponsel, media sosial, atau internet secara umum.

Perangkat tersebut memungkinkan pelaku intimidasi melanjutkan aksi mereka secara anonim tanpa batasan waktu. Dr. Quinlan menyarankan orang tua berbicara pada sekolah atau guru jika mencurigai mereka jadi korban perundungan. Pasalnya, korban sering enggan memberi tahu siapa pun apa yang sebenarnya terjadi.

"Kadang-kadang seorang anak mungkin tidak mengakui secara verbal bahwa mereka dirundung, jadi orang tua bisa memperhatikan isyarat nonverbal atau perubahan perilaku anak mereka atau sikap mereka terhadap sekolah," kata Quinlan.

Lanjut Quinlan, minta bantuan tenaga kesehatan mental profesional mungkin berguna untuk membantu anak mengembangkan kesiapan saat menghadapi perundungan.

Stephen Russell, profesor perkembangan anak di University of Texas di Austin mengatakan temuan iini menunjukkan "hubungan yang jelas antara perundungan, stres, dan kesehatan jangka panjang".

Russell menambahkan, "Ini akan menjadi data tambahan yang akan membantu mengubah pikiran orang-orang yang berpikir bahwa perundungan itu 'hal alami' atau bagian normal dari tumbuh dewasa."

Seperti Quinlan, Russell menegaskan pentingnya upaya untuk mengurangi perundungan pada tingkat individu dan sekolah. Beberapa strategi telah terbukti berhasil. "Banyak anak muda korban perundungan bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang berkembang," katanya.

"Jadi, meskipun perundungan bahkan bisa memengaruhi struktur otak, tidak berarti kita tak punya kemampuan mengatasi dan memberi kompensasi. Hal-hal yang dapat berubah karena perundungan seperti perhatian atau sensitivitas bisa jadi hal-hal yang dipelajari orang untuk keuntungan mereka sendiri."

Semua sepakat perundungan berefek negatif. Namun, tidak terbatas pada fisik dan psikis.

Pernah ada penelitian mengungkap, perundungan pada masa kanak-kanak berdampak pada kesehatan. Pada akhirnya ini dapat membawa konsekuensi biaya signifikan bagi individu, keluarga mereka, dan masyarakat pada umumnya.

Di Amerika Serikat, para peneliti memperkirakan pencegahan perundungan di SMA bisa mencegah kerugian hingga lebih dari $1 juta per individu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR