KESEHATAN MENTAL

Bunuh diri anak di Jepang capai rekor tertinggi

Ilustrasi anak bunuh diri.
Ilustrasi anak bunuh diri. | Chato.pl /Shutterstock

Jepang adalah salah satu negara pencetus berbagai tren. Namun, tren yang satu ini bukan kabar baik.

Di kalangan generasi muda Jepang, rekor bunuh diri mencapai angka tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Diduga beberapa faktor turut memicu peningkatan angka pada kasus anak, meskipun jumlah bunuh diri secara menyeluruh telah menurun..

Menukil BBC (5/11), survei baru yang dirilis Kementerian Pendidikan Jepang menyebutkan 250 anak muda Jepang usia sekolah, mulai dari SD, SMP, dan SMA, melakukan aksi bunuh diri antara tahun 2016-2017 hingga Maret 2018.

Jumlah tersebut naik lima angka dari tahun lalu, dan tertinggi sejak tahun 1986 yang tercatat memiliki 268 kasus bunuh diri anak.

"Jumlah kasus bunuh diri di kalangan siswa tetap tinggi, dan itu adalah masalah mengkhawatirkan yang harus diatasi," kata pejabat Kementerian Pendidikan Jepang, Noriaki Kitazaki.

Menurutnya, penyebab kenaikan angka bunuh diri tidak jelas. Berdasarkan survei baru, sebanyak 140 siswa tidak meninggalkan penjelasan ataupun surat wasiat mengapa mereka memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Sementara tulis Reuters, alasan 33 anak bunuh diri karena memiliki kekhawatiran tentang masa depan, 31 orang karena masalah keluarga, dan 10 lainnya karena perundungan.

Sebagian besar dari mereka yang bunuh diri adalah pelajar sekolah menengah, dengan rata-rata usia 18 tahun.

Survei terpisah oleh Kantor Kabinet Jepang pada 2015 menemukan setidaknya dua hal. Pertama, total ada 18.048 kasus bunuh diri anak di bawah usia 18 tahun antara tahun 1972-2013.

Selain itu, kasus bunuh diri di kalangan anak-anak cenderung meningkat pada tanggal 1 September, awal tahun ajaran baru usai libur panjang.

"Liburan panjang memungkinkan Anda untuk tinggal di rumah, semacam surga bagi mereka yang dirundung," kata Nanae Munemasa, pelajar 17 tahun, dikutip CNN.

"Ketika musim panas berakhir, Anda harus kembali sekolah. Begitu Anda mulai khawatir ditindas, melakukan bunuh diri mungkin solusi terbaik,” jelasnya.

Nanae pernah ingin bunuh diri karena terus dirundung akibat dicap sebagai pembolos setelah pindah sekolah untuk waktu yang singkat. Namun, niatnya gagal setelah memikirkan lebih lanjut konsekuensi besar dari tindakannya. Kini, ia menggarap blog untuk membantu anak muda lain berpikir logis sebelum memutuskan bunuh diri.

New York Times mencatat, sejauh ini Jepang memang memiliki kasus berkepanjangan soal bunuh diri, dan hampir lazim bila kasus itu juga sering menimpa anak-anak.

Meski ada banyak pihak yang ingin mengentaskan tragedi ini, di Jepang masalah penyakit mental berikut segala intervensinya masih dianggap topik tabu, pun telanjur dilabeli stigma negatif yang lebih besar dibanding negara lain. Alhasil, begitu sulit bagi kaum muda yang tertekan atau ingin mencari bantuan.

Terlebih lagi, sejumlah ahli berpendapat budaya di Jepang mewajibkan pergi sekolah sebagai satu-satunya pilihan, meski anak-anak itu tahu akan ditindas.

Di samping itu, kata Psikiater anak Dr. Ken Takaoka, sistem pendidikan Jepang masih memprioritaskan tindakan kolektif, “Anak-anak yang tidak bisa berbaur dalam kelompok akan menderita,” ujarnya.

"Di Jepang, Anda harus sejalan dengan orang lain. Dan jika Anda tidak bisa melakukan itu, Anda diabaikan atau diganggu," imbuh Nanae.

Vickie Skorji, direktur hotline krisis TELL, layanan konseling dan intervensi krisis di Tokyo, membenarkan pendapat-pendapat tadi.

Menurutnya, menyelisik bantuan di kalangan remaja merupakan upaya yang nyaris sia-sia, karena orang dewasa terdekat macam guru dan orang tua masa kini cenderung lebih sibuk.

"Anda kemungkinan besar akan dirundung, dan kemungkinan tidak mendapatkan layanan dukungan di sekolah dan pengertian dari orang tua," ujar Skorji.

Akibatnya, karena merasa sendirian dan tidak ada tindakan terorganisir yang diambil, anak-anak ini memilih bunuh diri.

"Penting untuk mengajari anak-anak bagaimana mendapatkan bantuan secepat mungkin, karena menjadi semakin sulit menemukan bantuan ketika mereka sudah menderita,” ujar pejabat kementerian pendidikan Koju Matsubayashi kepada Japan Times pada 2016.

Matsubayashi dan pemerintah Jepang telah mengumumkan target memangkas tingkat bunuh diri di negara itu sebesar 30 persen pada 2026, terutama di kalangan anak muda. Salah satunya dengan menyediakan konselor di tiap SD dan SMP di Jepang, dan meluncurkan layanan hotline 24 jam.

Terlepas dari semua, sejumlah pakar menunjukkan bahwa perilaku bunuh diri bisa menular alias membuat orang lain memikirkan ide serupa, terutama pada mereka yang jiwanya masih labil, sudah memiliki pikiran tersebut atau faktor risiko terkait.

Oleh sebab itu, jika Anda memiliki atau mendapati permasalahan terkait niat bunuh diri, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup karena Anda tidak sendiri. Layanan konseling untuk krisis kejiwaan atau mendapatkan informasi seputar pencegahan bisa membantu meringankan keresahan.

Anda bisa menghubungi Yayasanpulih.org lewat pulihcounseling@gmail.com, Indopsycare lewat admin@indopsycare.com, International Wellbeing Center lewat sms/whatsapp di 081290529034, dan Save Yourself lewat hi@saveyorselves.id.

Selain konseling, komunitas IntoThe Light juga menawarkan beberapa program efektif seperti pelatihan, lokakarya, hingga saling berbagi kisah untuk mengurangi angka depresi dan keinginan bunuh diri, khususnya di kalangan muda.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR