Busana seksi penyebab pemerkosaan hanya mitos

Jika baju seksi dijadikan tameng bagi pemerkosa, maka semua pria seharusnya merasa terhina.
Jika baju seksi dijadikan tameng bagi pemerkosa, maka semua pria seharusnya merasa terhina. | Joe Techapanupreeda /Shutterstock

Jumlah kasus kekerasan seksual terus meningkat. Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2016 menunjukkan, kekerasan seksual naik ke peringkat kedua dari keseluruhan kasus kekerasan terhadap perempuan di ranah personal. Peringkatnya jadi nomor satu jika melihat kekerasan yang terjadi di ranah komunitas.

Sementara itu, masih ada sikap sebagian kalangan yang cenderung menyalahkan korban pemerkosaan. Apa yang mereka lakukan, atau busana seperti apa yang mereka kenakan saat kejadian, kerap jadi pertanyaan.

"Saudari pakai BH warna apa hari itu?" tanya hakim anggota pada sebuah sidang kasus pemerkosaan di Jakarta, 2014 silam.

"Sudah tahu gampang sakit, kenapa naik kendaraan umum sendirian? Kenapa nggak ditemani?" tanya pengacara para terdakwa, yang berjumlah empat orang.

"Saudari kan orang berpendidikan ya? Kok orang berpendidikan kerja pakai celana pendek?" tanya sang pengacara lagi.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu masih muncul di ruang pengadilan, tempat korban mencari keadilan. Si korban, seorang karyawati 30 tahun, di Jakarta. Kisahnya ditulis oleh musisi dan aktivis perempuan, Kartika Jahja di blognya.

Mitos tentang busana perempuan sebagai penyebab pemerkosaan, tidak hanya berlaku di Indonesia. Di negara maju sekelas Amerika Serikat (AS) atau Inggris, mitos itupun berlaku.

Katherine Cambareri, seorang mahasiswi fotografi di Universitas Arcadia, AS, mengungkap mitos serupa di negerinya. Kegeramannya terhadap kepercayaan yang salah itu, dituangkan dalam kumpulan foto untuk proyek tesisnya.

"Masyarakat berasumsi korban mengenakan pakaian terbuka saat mereka mengalami pelecehan seksual," ujar Katherine dikutip Huffington Post (27/4/2016). Padahal serangkaian foto hasil jepretannya tidak menunjukkan demikian. Ada celana jin, kaus oblong, dan kemeja flanel.

Cambareri berharap mereka yang melihat karya fotonya dapat membayangkan bertukar tempat dengan korban. Dengan demikian mereka bisa mendapatkan perspektif baru untuk mengakhiri stigma dan menghilangkan prasangka.

Dalam kesempatan lain, pembawa berita CNN, Carol Costello, pernah menulis opini yang bertajuk, "Baju seksi tak membenarkan kekerasan." Ia mengajak Anda membayangkan sebuah percakapan yang muncul dalam kungkung mitos yang selama ini berlaku.

Percakapan fiksi itu tentang anak laki-laki yang melakukan kekerasan seksual pada perempuan, dan membicarakannya bersama Sang Ayah.

Anak laki-laki: "Ayah benar. Saya tidak bisa mengendalikan diri. Dia kelihatan sangat seksi. Saya tahu dia menginginkannya (hubungan seksual)."

Ayah: "Tidak apa-apa nak. Itulah evolusi. Pria sudah digoda sejak zaman manusia gua. Dia (perempuan itu) harusnya pakai baju tertutup. Seberapa pendek sih roknya?"

Itulah gambaran Carol tentang masyarakat yang terkungkung mitos. Ia pun berharap tak menemukan orang tua yang mendidik anak laki-lakinya dengan cara seperti itu. Tapi dapatkah dibayangkan jika percakapan fiktif itu benar-benar terjadi?

Pembawa berita yang pernah mewawancarai empat Presiden AS itu, bahkan bersaksi bahwa selama meliput persidangan kasus pemerkosaan, banyak penyintas yang mengaku mengenakan jin dan kaus saat petaka menimpa mereka.

Di Inggris, mitos tentang pakaian seksi atau "provokatif" yang dikenakan perempuan, telah diakui oleh lembaga penegak hukum The Crown Prosecution Service. Lembaga ini mirip kejaksaan di Indonesia.

Pengakuan itu tampak jelas dalam panduan bagi para jaksanya. Sebuah dokumen panduan yang dipublikasikan untuk umum, menyebutkan beberapa mitos seputar kasus pemerkosaan. Salah satunya soal pakaian.

Dokumen itu menegaskan, "...perempuan berpakaian seksi untuk mendapat perhatian dan sanjungan". Jadi, bukan sebuah "undangan" untuk pemerkosaan. Dalam kasus pemerkosaan, hanya si pelaku lah yang harus bertanggung jawab atas aksinya.

Mitos bahwa pakaian seksi telah menyebabkan pemerkosaan terjadi, bukan hanya salah, namun juga berbahaya. Karena meremehkan fakta bahwa orang yang bersalah sebenarnya pelaku, bukan korban. Hal ini juga bisa menimbulkan reviktimisasi; korban justru ikut disalahkan.

"Seharusnya setiap orang mempunyai pandangan bahwa setiap orang memiliki otoritas terhadap tubuhnya sendiri dan tidak berhak (pantas) untuk dilecehkan," ujar anggota Sindikat Musik Penghuni Bumi (SIMPONI), Berkah Gamulya, dikutip Kompas. Grup ini penyuara isu perempuan.

Berkah berharap, institusi pendidikan bisa mengubah realita pahit ini. Salah satu caranya dengan pendidikan seksualitas komprehensif berbasis keadilan gender.

"Yang harus dilakukan adalah mendidik laki-laki agar memiliki pandangan yang berbeda terhadap perempuan. Bukannya menyuruh anak perempuan mengatur cara berpakaian. Laki-laki harus mengubah perilakunya," kata Berkah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR