Cannabis untuk kosmetik dan perawatan kulit mulai populer

Ilustrasi perawatan kulit wajah
Ilustrasi perawatan kulit wajah | Irina Bg /Shutterstock

Mariyuana (Cannabis sativa) lebih populer sebagai obat-obatan terlarang yang memabukkan dan bisa membawa penggunanya "terbang ke awan". Walau demikian ada beberapa pihak, termasuk organisasi Lingkar Ganja Nusantara (LGN), yang berupaya mempromosikan manfaat positif dari tanaman tersebut, terutama untuk pengobatan.

Kontroversi manfaat mariyuana tersebut masih berlanjut hingga saat ini. Ada negara yang sudah melegalkan penggunaannya dalam dosis tertentu, tak sedikit pula yang tegas mengharamkannya, termasuk pemerintah Indonesia.

Namun, ada varian lain dari Cannabis sativa yang sudah ribuan tahun digunakan untuk berbagai keperluan. Namanya hemp.

Hemp yang lebih banyak ditemukan di Bumi belahan utara, sejak 10.000 tahun lalu sudah dimanfaatkan untuk bahan benang, tali, baju, sepatu, hingga makanan ternak.

Nah, saat ini, beberapa perusahaan mulai menggunakan tumbuhan ini sebagai bahan kosmetik dan perawatan kulit, seperti dituturkan situs Hypebae.

Apa tak malah memabukkan penggunanya?

Kita bahas terlebih dahulu apa beda mariyuana dan hemp. Walau sama-sama dari keluarga Cannabis sativa, mengutip Huffington Post, secara fisik mariyuana--populer disebut ganja di Indonesia--dan hemp tampak berbeda. Ganja lebih banyak cabang dan tangkainya, sedangkan hemp lebih ramping dan tinggi, bisa mencapai 4,5 meter.

Kebun hemp di Prancis.
Kebun hemp di Prancis. | Barbetorte /Wikipedia/CC BY-SA 3.0

Perbedaan lain yang terpenting ada pada kadar tetra hydro cannabinol (THC) yang dihasilkan. THC adalah komponen psikoaktif dalam cannabis yang menyebabkan efek perasaan euforia, rasa lapar dan mengurangi rasa sakit. Efek ini yang kerap dicari ketika mariyuana disalahgunakan oleh pemakainya.

Mariyuana mengandung antara 5-30 persen THC, sementara pada hemp zat tersebut hanya kurang dari 0,3 persen. Oleh karena itulah hemp diklaim tidak memabukkan.

Hal istimewa pada hemp ada pada zat cannabidiol (CBD) yang banyak terkandung di dalamnya. CBD kini kian populer karena memiliki manfaat terapeutik.

Kandungan CBD inilah yang saat ini mulai banyak dicampurkan dengan berbagai bahan lain untuk dijadikan sebagai produk perawatan kulit. Kini kita bisa menemukan produk kecantikan berbahan hemp di mana saja. Mulai dari bom untuk berendam (bath bomb), sabun, serum, pelembap bibir, minyak esensial, hingga maskara.

CBD yang terkandung di dalam produk tersebut memiliki berbagai khasiat tersendiri. Misalnya saja pada bath bom dan minyak esensial, CBD dapat membantu untuk merelaksasi dan membantu meredakan stres lewat aromanya.

Minyak esensial yang mengandung CBD juga sudah banyak dipakai oleh tempat-tempat spa, salah satunya di Harlem Skin & Laser Clinic, New York, Amerika Serikat. Di sini, minyak esensialnya juga diformulasikan sebagai pembersih wajah, serum, dan pelembap.

Sedangkan pada maskara, CBD menjadi salah satu formula unggulan yang dapat melembapkan, menambah volume, serta menambah panjang bulu mata. Cara pakainya sama seperti maskara biasa, Anda hanya harus menyapukannya ke seluruh bulu mata Anda dari akar hingga ke ujungnya dengan beberapa kali pulasan.

Pada kosmetik, minyak hemp yang memiliki kadar CBD yang tinggi ini dapat membantu menenangkan kulit, meredakan peradangan khususnya ketika kulit sedang berjerawat, serta menutrisi lapisan kulit paling atas.

Hal ini juga diamini oleh Joshua Zicher dermatologis asal New York, Amerika Serikat.

"Minyak biji hemp adalah minyak alami yang diambil dari tanaman hemp. Tak seperti yang dipikirkan banyak orang, ini berbeda dari mariyuana, ia tidak memproduksi dan tidak memberikan dampak psikoaktif pada pemakainya," jelasnya seperti dikutip Allure.

Dr. Samer Jaber, seorang ahli dermatologi lainnya dari AS mengaku sangat antusias dengan pengembangan CBD sebagai produk kesehatan dan kecantikan.

"Sayang sekali, berbagai penelitian yang dilakukan untuk meneliti cannabinoids hanya berakhir di laboratorium dengan memelajari sedikit orang saja," terangnya kepada Huffington Post.

Hal ini juga membuat penelitian klinis tetap harus dilanjutkan demi mendapat hasil tentang seberapa efektif kandungan CBD tersebut beraksi di tubuh manusia.

Hingga saat ini, baik tanaman mariyuana maupun hemp masih ilegal di banyak negara, termasuk Indonesia. Di Tanah Air, cannabis merupakan narkotika golongan I. Sehingga siapapun yang memakai, menanam, dan memilikinya terancam hukuman penjara 5 sampai 20 tahun.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR