Cara bertahan dengan atasan yang tak menyenangkan

Ilustrasi
Ilustrasi
© ra2studio /Shutterstock

Pertanyaan:

Saya sudah bekerja selama setahun di perusahaan sekarang dan saya juga merasa cukup nyaman. Mulai dari pekerjaan, sampai lingkungan kantor dan teman-teman pun saya suka.

Satu-satunya yang membuat saya kurang betah adalah bos baru yang menggantikan atasan lama yang dipindahkan ke divisi lain. Sifat bos baru ini benar-benar menurunkan semangat kami para karyawan, sampai-sampai ada beberapa yang resign karenanya.

Apa yang harus saya lakukan supaya bisa tahan bekerja dengan atasan yang tidak saya senangi? Masalahnya, saya sangat suka dengan pekerjaan ini sehingga belum mau resign. Mohon bantuannya.

Jawaban:

Dalam satu sesi training yang pernah saya ikuti, dua orang peserta (A dan B) diminta untuk berdiri berhadapan dan masing-masing menggenggam satu buah pulpen secara vertikal. A diminta untuk menggenggam pulpennya dengan genggaman normal, sementara B diminta untuk menggenggam pulpennya dengan genggaman erat.

Si B diminta untuk memukulkan pulpen di genggamnya ke pulpen yang digenggam oleh si A. Hasilnya tentu saja pulpen si A jatuh dengan mudah ke lantai, karena A hanya menggenggamnya dengan genggaman normal atau tidak erat.

Setelah mengambil pulpen yang jatuh ke lantai, A diminta untuk menggenggamnya dengan lebih erat seperti yang dilakukan oleh B, kemudian B mengulangi lagi dengan memukulkan pulpennya ke pulpen yang digenggam si A.

Apa yang terjadi? Karena kali ini pulpen si A digenggam dengan erat, maka pulpen tersebut tidak jatuh dan tetap berada di genggamannya, meskipun B sudah berkali-kali mencoba menjatuhkannya.

Permainan sederhana ini mengajarkan kita tiga hal, sebagai berikut:

  1. Hal-hal di luar kendali akan selalu ada dan bisa terjadi pada diri kita kapan saja--dalam hal ini digambarkan dengan pulpen yang digenggam dengan erat oleh si B.

  2. Hal-hal di luar kendali tersebut bisa menghancurkan kita bila kita tidak memiliki ketangguhan mental, sebagaimana digambarkan oleh cara si A menggenggam pulpen pertama kali.

  3. Hal-hal di luar kendali tidak akan memengaruhi kita apabila kita membentuk mental yang tangguh, dengan cara fokus pada hal-hal yang ada dalam kendali kita. Misalnya, pola pikir kita, cara kita bereaksi pada sesuatu, serta sikap dan perilaku kita yang selalu berusaha fokus pada hal-hal positif, sebagaimana si A yang kemudian menggenggam pulpennya dengan erat.

Kembali pada situasi yang Anda hadapi, sifat bos baru Anda yang tidak sesuai harapan bisa dikategorikan ke dalam hal yang di luar kendali. Apakah sifatnya bisa menghancurkan atau justru makin memperkuat ketangguhan mental Anda, semua tergantung pada bagaimana Anda menyikapinya.

Mengingat Anda sangat menikmati pekerjaan, lingkungan kerja, serta teman-teman kantor, maka saya sarankan untuk fokus pada hal-hal itu saja. Sebab, banyak hal negatif yang sebetulnya tidak terlalu penting, tapi karena terlalu dipikirkan maka tanpa disadari memengaruhi kehidupan Anda.

Mulai sekarang, perkuat terus ketangguhan mental Anda, sambil berusaha secara proaktif membangun komunikasi dengan bos Anda. Dengan begitu, Anda dapat memahami apa ekspektasi dia terhadap Anda, serta bagaimana agar Anda bisa membantunya mencapai target dari perusahaan.

Sebaliknya pun demikian. Dengan komunikasi yang terbangun, bos Anda diharapkan bisa lebih memahami serta menjaga perasaan dan motivasi para bawahannya, khususnya yang memiliki dedikasi tinggi seperti Anda.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.