Cara dan waktu terbaik minta maaf pada anak

Meminta maaf kepada anak saat orang tua melakukan kesalahan perlu dilakukan
Meminta maaf kepada anak saat orang tua melakukan kesalahan perlu dilakukan | interstid /Shutterstock

Posisi sebagai orang tua terkadang membuat Anda canggung mengucapkan maaf saat dilanda emosi dan berbuat salah pada anak. Bagaimana sebenarnya cara terbaik melakukannya?

Menurut badan perlindungan anak-anak sedunia, United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF) menerangkan, kekerasan anak pada dasarnya bisa dibedakan menjadi lima jenis, yakni fisik, seksual, emosional, pengabaian, dan eksploitasi.

Kekerasan fisik meliputi tindakan menampar, memukul, meninju, membakar, menyakiti, dan memberikan hukuman fisik.

Tenaga Ahli dan Analis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Dr. Naswardi ME. MM., mengatakan setiap tahun KPAI menerima laporan rata-rata 4.500 kasus pelanggaran hak anak.

Ironisnya, riset KPAI tahun 2015 menemukan ayah dan ibu kandung menempati posisi teratas sebagai pelaku kekerasan (28 persen dan 21 persen). Selanjutnya, orang terdekat yang sering melakukan kekerasan pada anak adalah guru (10 persen) dan ayah tiri (enam persen).

Naswardi menegaskan pentingnya orang tua mengubah cara pandang terhadap pengasuhan dan pendidikan anak. Jangan lagi menggunakan kekerasan dan hukuman fisik.

“Yang dibutuhkan anak itu bonding, pelukan, kasih sayang, dan kebersamaan. Jika dulu di ujung rotan ada emas, sekarang sudah tidak jaman lagi mengasuh anak seperti itu," papar dia.

Menurut psikolog Michael Thompson Ph.D., emosi pada orang tua dapat memuncak di suatu titik tertentu saat menghadapi sikap anak-anak.

“Amukan anak-anak kecil membuat orang tua merasa tidak berdaya untuk menuruti kemauan mereka. Namun ketika anak-anak yang berusia lebih besar bersikap demikian seakan-akan menentang dan mengkritik karakter Anda. Maka itu memunculkan kondisi yang berbeda, dan seperti menekan sebuah tombol kesabaran, sehingga Anda dapat melakukan hal-hal yang seharusnya tidak terjadi."

Saat Anda merasa betul-betul marah, Michael menyarankan untuk menunda kemarahan. Katakan kepada anak-anak, “Maaf, saat ini saya tidak dapat berpikir jernih. Tunggu beberapa saat dan saya akan kembali dan bicara lagi kepada kamu.”

Michael menyarankan orang tua untuk berbicara secara terbuka dengan anak-anak yang berusia lebih besar daripada melakukan hukuman fisik atau melontarkan kata-kata negatif.

“Jika Anda terlanjur melakukan atau mengatakan sesuatu yang buruk, katakan pada mereka bahwa Anda menyesal dan tidak merasa baik melakukan hal tersebut. Dari sisi mereka, anak-anak akan merasa lega dan menerima pernyataan itu.”

Para peneliti di Stanford University, Amerika Serikat (AS), menemukan bahwa cara orang tua melihat kesalahan anak baik sebagai hal positif atau hal buruk akan sangat membentuk konsep pada anak terkait kecerdasan. Dalam efek jangka panjang, hal ini akan memengaruhi masa depan mereka.

"Kepercayaan anak-anak tentang kecerdasan memiliki dampak besar pada seberapa baik peran orang tua saat merespons kesalahan anak-anak di masa lampau," kata Kyla Haimovitz, Ph.D., psikolog dan penulis utama studi tersebut dari Departemen Psikologi, Stanford University dinukil dari Liputan6.

"Kita mungkin tidak menyadari, tetapi reaksi terhadap kegagalan anak-anak dapat memiliki efek jangka panjang pada mereka. Yaitu bagaimana mereka memproses kegagalan atau kemunduran lalu bereaksi atas hal tersebut. Bisa membuatnya jadi lebih tangguh dan percaya diri atau malah sebaliknya," ujar Katherine Lee, seorang terapis anak.

Tetap positif

Fajriari Maesyaroh, psikolog dari Yayasan Sahabatku dinukil detikHealth, juga menyarankan untuk menahan diri saat emosi. Hal ini agar saat menegur kesalahan dapat dilakukan dengan cara yang positif.

"Jadi kalau kita punya emosi negatif, entah itu marah, sedih, kecewa, takut, terima saja dulu. Terima, sadari, resapi. Beri label, “Oh sekarang saya sedang marah," terang dia.

Setelah itu Anda dapat mengalihkan energi negatif dengan cara menenangkan diri sejenak. Atau mengalihkan perhatian kepada hal-hal lain, misal dengan cara berbaring sambil mengatur nafas, atau mandi dengan air hangat, bisa juga dengan minum segelas air.

Jika semua hal di atas sudah dapat membuat emosi lebih tennag dan siap menghadapi anak tanpa terpancing, barulah para orang tua bisa berbicara kepada mereka. Karena saat emosi sedang berlebih dan tidak stabil, maka bisa dijamin kata-kata atau tindakan yang keluar tidak akan lagi rasional dan berdampak tak hanya pada orang lain tapi juga diri sendiri.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR