KESEHATAN

Cara kita berpikir bisa membantu redakan penyakit

Ilustrasi efek plasebo.
Ilustrasi efek plasebo. | Motortion Films /Shutterstock

Anda mungkin menyadari atau pernah mengalami bahwa ada kalanya cara kita berpikir, terutama pikiran positif bisa membantu meredakan suatu penyakit. Kini, studi baru semakin memperkuat kebenaran hal tersebut.

Dalam dunia medis, kesembuhan lewat cara berpikir atau dikenal sebagai “efek plasebo” masih diperdebatkan ahli. Terutama para ilmuwan saraf, sering kali mengaitkan gagasan itu dengan pseudosains atau ilmu semu, di mana sesuatu yang diklaim sebagai ilmiah, tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Di sisi lain, khususnya oleh para psikolog, efek plasebo diyakini berasal dari kekuatan pikiran dengan mengandalkan metode pikiran-tubuh (mind-body). Banyak sudah uji klinis yang membuktikan efektivitasnya.

Singkatnya, sama halnya dengan orang yang percaya bisa mewujudkan mimpi jika mengusahakannya, keyakinan Anda bahwa suatu pengobatan akan berhasil menyembuhkan mungkin lebih efektif daripada obat atau perawatan itu sendiri.

Untuk membuktikan bahwa cara kita berpikir bisa meredakan penyakit bukan sekadar pseudosains, sekelompok peneliti dari Stanford University menghelat studi baru.

Menukil situs NPR, studi yang dipimpin oleh psikolog Alia Crum, peneliti utama di Stanford's Mind and Body Lab, melibatkan sejumlah keluarga yang memiliki anak-anak dengan alergi kacang serius dan telah terdaftar dalam studi imunoterapi oral yang telah lebih dulu dihelat olehnya.

Imunoterapi oral (OIT) merupakan bentuk pengobatan baru di bawah pengawasan medis yang terbukti aman dan menjanjikan dalam mengatasi alergi makanan parah. Konsepnya mengharuskan pasien mengonsumsi makanan pemicu alergi dengan peningkatan jumlah secara bertahap setiap hari selama berbulan-bulan guna mengajarkan sistem kekebalan tubuh menolerir alergen.

Akan tetapi, karena Food and Drug Administration (FDA) di AS belum menyetujuinya, dan sejumlah kalangan medis masih meragukan efektivitasnya, kebanyakan pasien cuma bisa mendapatkan OIT lewat mendaftar dalam penelitian, yang telah ada lusinan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Dr. Brian Vickery, ahli alergi-imunologi di Emory University yang tidak terlibat dalam studi baru, banyak pasien dalam studi-studi OIT mengeluh gejala alergi yang tidak menyenangkan meski tidak sampai mengancam jiwa. Dalam lebih dari satu dekade penelitian, hampir seperlima pasien keluar dari percobaan hanya karena stres terkait gejala.

Oleh sebab itu, mengingat keberhasilan konsep OIT didominasi kekuatan pikiran, Crum dan tim mengamati bagaimana pola pikir dan faktor sosial memengaruhi kesehatan fisik. Mereka juga menguji secara ilmiah seperti apa tepatnya bentuk kekuatan pikiran dan dampaknya.

Simpulannya, memperkuat studi-studi sebelumnya yang membuktikan bahwa pikiran berpengaruh pada kesehatan, efek dari OIT "bukan hanya zat farmasi. Ini adalah produk gabungan dari zat dan pola pikir kita. Keyakinan kita tentang sifat penyakit dan kemampuan tubuh kita untuk menolerir dan merasakan," kata Crum.

Untuk studi, selain menerapkan konsep OIT pada pasien anak, peneliti juga membagi keluarga secara acak dalam dua kelompok.

Tiap keluarga sama-sama dibekali pengetahuan membedakan mana gejala alergi yang ringan hingga yang berpotensi serius, dan bilamana mereka perlu menghubungi bantuan medis atau memberikan epinefrin--suntikan untuk reaksi alergi parah.

Tiap bulan mereka mendapat sejumlah fasilitas perawatan dan tiap hari mereka diminta mengisi survei pemantauan yang ketat, termasuk seberapa cemas orang tua akan munculnya gejala.

Bedanya, satu kelompok diberi sinyal positif sedangkan kelompok lain diberi sinyal negatif. Orang tua dalam kelompok positif diberi tahu bahwa munculnya gejala alergi bisa menjadi tanda pengobatan bekerja. Misalnya karena sistem kekebalan tubuh sedang belajar untuk menurunkan rasa sensitif.

Sementara kelompok negatif, diberi tahu kemungkinan terburuk bahwa gejala alergi yang muncul mungkin efek samping tidak diinginkan dari pengobatan.

Secara menyeluruh hasil studi ini memuaskan, meski Crum menyarankan studi lebih lanjut dalam skala besar.

Di akhir penelitian, pengawasan ketat dan akses memudahkan ke profesional medis membuat seluruh peserta berhasil menoleransi setidaknya sebutir kacang tanah. Sepanjang studi, tak ada anak yang perlu menggunakan epinefrin.

Namun, kelompok dengan sinyal positif lebih unggul. Pertama, para orang tua jadi lebih kreatif untuk meyakinkan anaknya bahwa munculnya gejala bukan masalah besar.

Kedua, di antara begitu banyak kecemasan, orang tua lebih tenang sehingga anaknya lebih tabah menghadapi penyakit. Ketiga, keluarga-keluarga itu lebih intens dan mau tahu segala hal terkait alergi dan gejalanya dibanding kelompok negatif.

Pendek kata, seperti ditegaskan Dr Lissa Rankin, peneliti dan penulis buku Mind Over Medicine, tak ada keraguan bahwa kombinasi keyakinan positif dan perawatan yang tepat dapat mengaktifkan mekanisme penyembuh diri alami dan membantu tubuh meredakan penyakit.

Sebaliknya, pungkas dia, ada bukti Ilmiah bahwa keyakinan negatif berlebih atau dikenal sebagai efek nocebo membahayakan kesehatan.

Itulah mengapa orang dengan prognosis medis yang buruk atau risiko kematian tinggi seperti pada pasien kanker maupun depresi parah yang kesulitan berpikir positif benar-benar rentan dan sulit sembuh. Pun mereka yang begitu takut dan cemas akan suatu penyakit atau mengira dirinya sakit.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR