INVESTASI

Cara memastikan investasi tetap sesuai tujuan

MITRA: smart-money.co
investasi
investasi | kan_chana /shutterstock

Sejak masuk 2018, kondisi ekonomi global bergejolak. Pernyataan perang dagang Presiden AS Donald Trump melawan Tiongkok menjadi penanda gejolak pertama. Kondisi pasar keuangan pun naik-turun karenanya dan memengaruhi investasi.

Gejolak selanjutnya timbul baru-baru ini ketika mata uang Lira jatuh dan diprediksi menyeret Turki pada krisis keuangan. Gejolak perekonomian dunia ini sedikit banyak akan berdampak pada ekonomi Indonesia.

Neraca dagang dan pembayaran defisit akibat melemahnya ekspor, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun, nilai rupiah terhadap dollar (AS) jeblok, imbal hasil obligasi pun juga jatuh.

Sebagai investor di pasar modal, tentu kabar semacam ini akan membuatmu khawatir. Namun Anda tidak perlu khawatir, Anda bisa melakukan rebalancing portofolio untuk menghadapi kondisi semacam ini.

Rebalancing portofolio berguna untuk memastikan investasi yang Anda lakukan sesuai tujuan yang sudah Anda tetapkan di masa depan. Contoh kasus, Anda punya target membeli rumah kedua dalam tiga sampai lima tahun mendatang.

Demi tujuan itu, Anda menerapkan strategi investasi 70% saham, sisanya obligasi dan instrumen pendapatan tetap seperti deposito atau dollar. Namun, dalam enam bulan terakhir, dollar terus menguat dan saham jeblok.

Dalam kondisi ini, saham yang Anda miliki ternyata tergerus hingga 5%. Bila hal ini terjadi, Anda harus menyeimbangkannya dengan menjual atau mengurangi investasi dollar dan menambah investasi saham atau sebaliknya.

Bila terjadi krisis keuangan besar seperti 1998 atau 2008, rebalancing menjadi lebih penting. Khususnya bila Anda menempatkan porsi besar pada saham. Saat harga saham jatuh, itu menjadi saat tepat melakukan akumulasi beli.

Mengutip Investopedia, ada tiga alasan untuk melakukan rebalancing portofolio. Pertama, investasi terancam turun lebih dalam dan Anda tidak siap menanggung risiko itu.

Kedua, Anda menjual investasi (misal dollar AS) saat berada di imbal hasil maksimal. Demikian, Anda merealisasikan laba secara nyata. Kemudian Anda ingin menambah investasi dari laba yang Anda dapat.

Ketiga, rebalancing biasanya hanya mengakali 5%-10% nilai portofolio. Bila Anda sedikit salah memilih waktu sekalipun, dana tidak terlalu banyak yang hilang.

MITRA: smart-money.co
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR