TUMBUH KEMBANG

Cara meyakinkan orang tua agar mau memvaksin anak

Ilustrasi vaksinasi untuk bayi.
Ilustrasi vaksinasi untuk bayi. | Chompoo Suriyo /Shutterstock

Kendati mengatakan bahwa realisasi target program imunisasi tahun 2016 sudah terpenuhi, namun pemberiannya masih belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu hal yang masih jadi pertanyaan, bagaimana cara meyakinkan orang tua tentang pentingnya memvaksin anak?

"Tren cakupan imunisasi lengkap secara nasional mengalami peningkatan, namun masih terdapat anak-anak yang sama sekali belum mendapatkan imunisasi," ungkap Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Mohamad Subuh, dikutip dari Antaranews.com.

Hal ini terlihat dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang setiap tahun dilakukan Badan Pusat Statistik. Hasil SUSENAS Maret 2016 menunjukkan bahwa baru 59,99 persen balita di Indonesia yang tercatat telah mendapatkan imunisasi secara lengkap.

Beberapa penyebab belum meratanya cakupan pemberian imunisasi, selain faktor geografis, adalah semakin merebaknya gerakan antivaksin beberapa waktu belakangan ini. Dilansir dari Detik.com, pro-kontra vaksinasi di Indonesia kembali menguat setelah berita anak-anak dari salah satu selebritas terkena campak karena tidak pernah mendapatkan vaksinasi.

Peristiwa ini memicu perdebatan antara kelompok provaksin dan antivaksin dengan argumentasi masing-masing. Dari sinilah terungkap bahwa jumlah masyarakat yang menolak vaksinasi cukup tinggi.

Penolakan mereka didasari oleh berbagai faktor, salah satunya adalah agama. Hal yang sama juga disampaikan dokter Prima Yosephine, Kepala Sub-Direktorat Imunisasi Direktorat Surveilans, Imunisasi dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Selain itu, menurut Dokter Prima orang tua menolak vaksinasi dengan alasan mereka tidak menginginkan anaknya mengalami demam pasca-imunisasi, juga faktor budaya, serta ketidaktahuan tentang kewajiban vaksin.

Sementara, dilansir dari Bisnis.com, berdasarkan perkiraan yang dikeluarkan oleh WHO/UNICEF pada tahun 2015, hampir 1 juta anak Indonesia tidak mendapatkan imunisasi sama sekali atau tidak lengkap status imunisasinya.

Pemberian imunisasi lengkap yang dimaksud adalah adalah balita mendapat imunisasi BCG satu kali, DPT tiga kali, polio tiga kali, campak satu kali, dan hepatitis B tiga kali.

Pada periode 2012-2014 persentase balita yang mendapatkan imunisasi lengkap trennya meningkat. Namun, tahun 2015 persentasenya menurun menjadi 52,26 persen. Angka tersebut lebih rendah dibanding periode 2012-2014.

Tidak hanya di Indonesia, gerakan antivaksinasi juga terdapat di negara-negara lain. Bahkan di Amerika Serikat (AS) masih ada perdebatan tentang keamanan dan kemanjuran dari vaksinasi, kendati sudah terbukti vaksinasi telah menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia selama lebih dari 200 tahun.

Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), secara keseluruhan tingkat vaksinasi pada anak-anak di AS tetap tinggi, namun pemerintah gagal mencapai sasaran yang ditetapkan pada tahun 2020.

Dan di daerah-daerah yang tingkat cakupan vaksinasinya rendah, bermunculan beberapa penyakit yang sebenarnya dapat dengan sangat mudah dicegah oleh vaksin, termasuk campak.

Hal inilah yang mendorong para ahli mencari tahu bagaimana cara meningkatkan pengetahuan dan kepedulian para orangtua terhadap pentingnya vaksinasi. Berbagai cara untuk mempengaruhi para orangtua agar memberikan vaksinasi pada anak-anaknya lebih banyak gagal.

Bahkan Quartz menulis bahwa menyodorkan fakta-fakta tentang pentingnya vaksinasi justru dapat menyebabkan efek bumerang.

Seperti dalam penelitian yang dilakukan oleh Brendan Nyhan, seorang profesor dari Department of Government dari Dartmouth College, AS, tentang perilaku orang-orang ketika disodori fakta tentang pentingnya vaksinasi flu.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam US National Library of Medicine National Institutes of Health ini menyebutkan bahwa sekitar 43 persen masyarakat AS percaya bahwa vaksin flu justru dapat menyebabkan seseorang menderita penyakit tersebut.

Dengan tujuan mengurangi kekhawatiran tersebut, dilakukan penyebaran informasi untuk mengoreksi pendapat tersebut melalui situs-situs resmi, seperti CDC.

Hasilnya memang dapat mengurangi kekhawatiran masyarakat secara signifikan, namun koreksi tersebut ternyata membuat masyarakat semakin mengurangi niat untuk melakukan vaksinasi flu

Namun, baru-baru ini para peneliti dari Kaiser Permanente Colorado, University of Colorado, bersama Emory University, melakukan penelitian tentang bagaimana usaha yang dapat dilakukan komunitas kesehatan untuk meyakinkan orangtua tentang manfaat dan pentingnya vaksinasi.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics ini menawarkan sebuah gagasan kepada komunitas kesehatan, termasuk dokter, untuk menggunakan media sosial sebagai alat intervensi. Media sosial dapat menjadi saluran jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang vaksinasi, yang dimulai selama kehamilan.

Para peneliti menemukan bahwa orang tua yang menerima intervensi tersebut cenderung memberikan imunisasi pada bayinya sesuai jadwal.

Jason Glanz, PhD, penulis utama dan peneliti senior di Kaiser Permanente Colorado Institute for Health Research, mengatakan saat ini banyak orang tua yang memanfaatkan internet untuk mencari informasi, termasuk tentang vaksinasi. "Ada beberapa informasi yang bagus, namun tidak kurang juga yang buruk," jelas Glanz.

Penelitian ini melibatkan 1.093 perempuan hamil, yang dibagi menjadi tiga kelompok.

Pertama, kelompok yang tidak menerima informasi tambahan mengenai vaksin selama kehamilan atau setelah kelahiran. Kedua, kelompok yang menerima akses ke situs-situs yang memberikan informasi mengenai vaksin. Ketiga, kelompok yang mendapatkan akses ke situs yang sama, dan juga dapat berinteraksi melalui media sosial dengan tim peneliti dan peserta lainnya, termasuk mengajukan pertanyaan terkait vaksin.

Setiap calon ibu juga diberikan sebuah kuis untuk mengukur tingkat keragu-raguan mereka seputar vaksin pada awal penelitian, kemudian didistribusikan secara acak di antara ketiga kelompok tersebut sebagai 'ragu-ragu' atau 'tidak ragu-ragu' terhadap vaksin.

Semua peserta mengikuti penelitian ini sampai bayi mereka berusia 200 hari, untuk memeriksa status vaksinasi bayi. Hasilnya; bayi yang ibunya berada di dalam kelompok yang menerima intervensi media sosial, cenderung lebih up-to-date pada akhir 200 hari penelitian, daripada mereka yang tidak menerima informasi tambahan atau intervensi media sosial.

Selain itu, tidak ada perbedaan yang terlihat antara kelompok yang tidak menerima informasi tambahan, maupun yang hanya mendapat dari informasi vaksin melalui situs saja.

Penelitian baru ini juga menunjukkan bahwa dengan menghabiskan waktu 5 sampai 10 menit untuk menerima informasi antivaksin, meningkatkan keraguaan tentang vaksinasi pada para orang tua.

Di sinilah pentingnya media sosial dalam membantu melakukan intervensi informasi selama kehamilan. Hal ini bisa jadi salah satu kunci sukses meningkatkan pemahaman orang tua tentang pentingnya vaksinasi, daripada setelah kelahiran.

Menurut Glanz, umumnya informasi tentang vaksin diberikan kepada orang tua setelah kelahiran, akan tetapi umumnya orang tua justru telah melakukan pencarian informasi mengenai vaksinasi selama kehamilan. Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa informasi tersebut memang lebih efektif bila disampaikan sebelum anak lahir.

Lebih lanjut Glanz mengatakan pada pada Science Daily bahwa hasil penelitian ini menyarankan agar situs-situs menggunakan komponen interaktif, yang berpotensi untuk melengkapi interaksi tatap muka secara klinis. "Hal ini dapat membantu para tenaga medis untuk mengurangi kesalahan informasi, dan menawarkan solusi bagi masalah yang dihadapi para pasien."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR