''Catcalling'' adalah pelecehan, bukan semata canda

Ilustrasi dua orang pria yang tengan melakukan catcalling pada seorang perempuan di jalan.
Ilustrasi dua orang pria yang tengan melakukan catcalling pada seorang perempuan di jalan. | Napocska /Shutterstock

Dipanggil-panggil atau digoda ketika sedang berada di jalan, mungkin pernah dialami oleh semua perempuan di seluruh dunia. Bahkan mungkin ada yang sampai mengalami pelecehan seksual secara fisik.

Kaum laki-laki mungkin menganggap bahwa panggilan-panggilan itu hanya sebuah keisengan saja. Apalagi mereka melakukannya secara spontan, sambil tertawa-tawa, dan mereka tidak mengenal para perempuan tersebut. Setelah melakukannya, mereka segera melupakannya.

Padahal apa yang mereka lakukan itu sudah termasuk pelecehan di jalan, atau street harassment. Dan para perempuan yang mengalaminya tidak menganggap hal demikian ini sebagai sesuatu yang lucu, apalagi menghibur.

Godaan-godaan verbal di jalanan, yang biasa disebut catcalling, merupakan perbuatan yang sangat menganggu. Membuat perempuan yang mengalaminya merasa tidak nyaman, dan merasa terancam.

Bahkan ketika hal itu terjadi, seringkali para perempuan tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Apakah menanggapi, termasuk menegur atau marah kepada para pelaku, atau mengacuhkan mereka?

Seorang perempuan berkebangsaan Belanda, Noa Jansma, memutuskan untuk melakukan sesuatu terhadap mereka yang melakukan catcalling padanya.

Dilansir dari Independent, perempuan berusia 20 tahun itu telah menemukan sebuah cara yang brilian untuk menghadapi para pelaku pelecehan, sekaligus mengirimkan pesan kuat pada saat yang bersamaan.

Dia berswafoto dengan setiap pelaku catcalling yang ditemuinya.

Dan kegiatan ini tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Jansma meminta para pelaku untuk berswafoto dengannya dan mereka melakukannya dengan senang hati. Agaknya para lelaki tersebut sama sekali tidak menyadari situasinya.

Jansma sudah membuat akun Instagram, @dearcatcallers, agar dapat mendokumentasikan setiap kejadian yang dialaminya.

Hanya dalam waktu satu bulan, dia telah mengunggah 30 buah foto, dan berhasil mendapatkan 45.000 pengikut. Saat ini followers akun tersebut telah lebih dari 248.000 pengikut.

Terdapat kesamaan pada setiap foto; wajah Jansma yang dingin dan wajah satu atau lebih laki-laki dengan ekspresi ceria. Tampak sekali mereka tidak menyadari bahwa perbuatan mereka membuat Jansma merasa tidak nyaman.

#dearcatcallers "baby! Baby! *whisting*"

A post shared by dearcatcallers (@dearcatcallers) on

Bahkan, orang pertama yang diminta berswafoto telah memberikan komentar bernada antusias, pada salah satu foto yang diunggahnya, ungkap Jansma.

Apa yang dilakukan Jansma dengan mengabadikan para pelaku pelecehan ini bukan tanpa maksud. Catcalling bukanlah suatu pujian atau ungkapan rasa kagum.

Instagramnya dibuat untuk meningkatkan kesadaran tentang objektifikasi perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengutip Evening Standard, menurut Jansma selama masih banyak orang yang belum mengetahui seberapa sering dan dalam konteks apa terjadi catcalling, dia akan menunjukkan para pelaku catcalling terhadapnya selama satu bulan. Kemudian dia akan menyerahkan akun instagramnya kepada perempuan lain di seluruh dunia.

Bukan yang pertama

Sebenarnya upaya mendokumentasikan peristiwa catcalling sudah sering dilakukan. Washington Post mengangkat liputan tentang pelecehan di jalanan dengan menampilkan video rekaman yang dilakukan oleh Hollaback!, sebuah organisasi anti pelecehan jalanan di Amerika Serikat.

Dalam video yang direkam secara sembunyi-sembunyi ini memperlihatkan seorang perempuan yang berjalan-jalan di seputar Manhattan selama beberapa jam. Tampak dalam rekaman video tersebut, gangguan-gangguan yang dialami perempuan itu. Mulai dari siulan, hingga tawaran uang, bahkan kalimat yang menyiratkan perempuan tersebut dapat manfaatkan untuk kepentingan ekonomi.

Di Jakarta, pada Januari 2017 lalu, seorang perempuan berkebangsaan Australia yang telah tinggal di Indonesia selama 5 tahun, Kate Walton, juga mendokumentasikan peristiwa catcalling yang dialaminya, melalui cuitannya di Twitter.

Dilansir Kumparan, Kate berjalan dari Plaza Senayan hingga Pasar Mayestik, dan mencuitkan setiap peristiwa catcalling yang dialaminya.

Melanggar hukum

Di beberapa negara, tindakan catcalling ini termasuk perbuatan yang melanggar hukum dan pelakunya dapat dijatuhi hukuman, mulai dari denda yang cukup tinggi hingga ancaman kurungan.

Sejauh ini, terdapat enam negara yang sudah memiliki undang-undang yang mengatur pelecehan jalanan, yaitu Belgia, Portugal, Argentina, Kanada, New Zealand dan Amerika Serikat.

Sementara itu, situs Fortune menyebutkan bahwa Prancis sedang berusaha menggolkan undang-undang yang akan mengkriminalkan para pelaku catcalling.

Dan pada 1 Januari 2018, Belanda akan memberlakukan undang-undang yang menyatakan bahwa pelaku catcalling adalah perbuatan kriminal, dan akan dikenakan denda maksimum sebesar 8.200 euro (Rp130 juta) atau tiga bulan penjara.

Dikutip dari Dutch News, setelah undang-undang ini diberlakukan, para pelaku dapat dilacak untuk kemudian diperiksa dan dijatuhi hukuman. Beberapa wilayah di Belanda, seperti Amsterdam, Rotterdam dan Den Haag bahkan telah menambahkan pasal bahwa mengintimidasi perempuan dan kaum homoseksual merupakan tindak kejahatan.

Namun, meskipun sudah diberlakukan undang-undang tentang pelecehan, kejadian-kejadian semacam itu kemungkinan akan tetap ada.

Peran aktif masyarakat untuk bertindak menyadarkan para pelaku sangat dibutuhkan, agar semakin banyak orang yang menyadari bahwa pelecehan secara verbal sangat berbahaya. Dan mendorong terjadinya pelecehan seksual.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR