Cedera kepala tingkatkan risiko gangguan mental

Trauma
Trauma | Cat Box /Shutterstock

Ketika orang mengalami cedera otak traumatis ringan, misalnya karena kecelakaan mobil, risiko masalah kesehatan mental pun jadi lebih tinggi.

Pernyataan tersebut diungkap penelitian yang menghubungkan cedera otak traumatis ringan dengan risiko gangguan stres pascatrauma dan depresi setelah cedera lebih tinggi.

Cedera otak traumatis dapat diklasifikasikan sebagai ringan jika orang kehilangan kesadaran atau kebingungan dan disorientasi lebih pendek dari 30 menit.

Saat diperiksa, misalnya melalui MRI, sering kali hasilnya normal. Namun, pasien cedera tersebut memiliki masalah kognitif seperti sakit kepala, kesulitan berpikir, masalah ingatan, defisit perhatian, perubahan suasana hati dan frustrasi.

Meski disebut ringan, pengaruhnya tetap besar karena membuat orang kelelahan, mengalami gangguan penglihatan, hilang ingatan, perhatian atau konsentrasi buruk, pusing, kehilangan keseimbangan, kejang, mual, mengalami perubahan suasana hati, dan kebingungan.

Untuk membuktikan hubungan antara cedera dengan trauma dan depresi, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal medis JAMA Psychiatry ini melakukan riset terhadap 1.155 pasien dengan cedera otak traumatis ringan.

Selain itu, dilibatkan 230 orang dengan cedera bukan di kepala dari 11 rumah sakit dengan pusat trauma di seluruh Amerika Serikat, antara tahun 2014 dan 2016.

Di antara pasien cedera otak traumatis ringan, 61,8 persen disebabkan oleh tabrakan kendaraan bermotor, 29,2 persen akibat dari jatuh atau cedera tidak disengaja lain, 6,1 persen disebabkan oleh kekerasan atau penyerangan, dan tiga persen berasal dari penyebab yang tidak ditentukan.

Penilaian terhadap kesehatan setiap pasien dilakukan tak lama setelah mereka dirawat di rumah sakit, misalnya dua minggu kemudian dan tiga bulan, enam bulan dan 12 bulan setelah cedera. Pada titik-titik itu, pasien dinilai untuk gangguan stres pasca-trauma dan gejala gangguan depresi berat.

Para peneliti menemukan pasien dengan cedera otak traumatis ringan lebih mungkin melaporkan trauma dan depresi pada tiga dan enam bulan setelah cedera. Kemudian, peneliti mengatakan jika ada masalah kesehatan mental sebelum cedera otak traumatis, itu bisa faktor risiko kuat untuk alami trauma dan depresi berat.

Gejala depresi dan gangguan stres pasca-trauma

Ada beberapa cara untuk mengetahui apakah Anda mengalami depresi setelah cedera otak traumatis ringan, misalnya merasa sedih, tertekan, dan putus asa hampir sepanjang hari. Bahkan menimbulkan pikiran untuk bunuh diri.

Juga ada perubahan pada kebiasaan tidur, seperti kurang tidur atau lebih banyak tidur dari biasanya. Anda pun akan kehilangan minat pada aktivitas yang biasa dilakukan, meningkatkan penggunaan alkohol, dan gangguan pola makan.

Sedangkan gejala gangguan stres pascatrauma dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu ingatan mengganggu, penghindaran, perubahan negatif dalam pemikiran dan suasana hati, serta perubahan dalam reaksi fisik dan emosional. Gejala dapat bervariasi dari waktu ke waktu atau berbeda dari orang ke orang.

Gejala ingatan mengganggu dapat meliputi ingatan berulang tentang peristiwa traumatis, mimpi buruk, atau kesedihan parah bila ada sesuatu yang mengingatkan Anda pada peristiwa traumatis

Kemudian, gejala penghindaran termasuk mencoba berpikir atau berbicara tentang peristiwa traumatis, menghindari sesuatu seperti tempat atau orang yang mengingatkan Anda tentang peristiwa itu.

Untuk perubahan negatif dalam pemikiran dan suasana hati, Anda mungkin jadi sering melihat segala sesuatu bahkan diri sendiri secara negatif, mati rasa secara emosional, putus asa soal masa depan, sulit mempertahankan hubungan, dan merasa terpisah dari orang terdekat.

Sedangkan pada perubahan reaksi fisik dan emosional, Anda jadi mudah kaget atau takut, selalu waspada terhadap bahaya, merusak diri sendiri, mudah marah, dan berperilaku agresif.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR