KESEHATAN MENTAL

Dampak kerajinan tangan dan kegiatan seni pada otak manusia

Ilustrasi prakarya.
Ilustrasi prakarya. | DangBen /Shutterstock

Jangan abaikan kegiatan kerajinan tangan, seperti merajut, mewarnai, memasak, menghias kue, berkebun, menjahit, sampai dengan membuat keramik.

Menurut psikolog, Mihaly Csikszentmihalyi, dalam bukunya yang berjudul Flow: The Psychology of Optimal Experience kegiatan membuat kerajinan tangan itu merupakan kegiatan yang berulang dan dengan tingkat keterampilan yang selalu dapat ditingkatkan yang disebut dengan flow atau aliran.

Hal ini memungkinkan seseorang memasuki keadaan yang seimbang secara sempurna antara keterampilan dan tantangan. Kemudian, menghasilkan pengalaman optimal. Sebab, selama berada dalam keadaan yang mengalir itu seseorang biasanya merasakan kesenangan yang mendalam, kreativitas, dan keterlibatan secara total dengan kehidupan.

Keadaan yang tenang itulah yang kita butuhkan ketika kita merasa kewalahan dengan tuntutan yang tidak ada habisnya dari dunia pekerjaan dan keseharian selama tujuh hari dan 24 jam terus menerus.

Kegiatan seni dan kerajinan dianggap mampu menangkal tekanan serta desakan kehidupan modern.

Dalam artikel yang dimuat Science Alert, Susan Luckman, seorang profesor ilmu-ilmu budaya dari University of South Australia, mengatakan bahwa selama lebih dari satu abad, kegiatan berbasis seni dan kerajinan telah menjadi bagian penting dari terapi okupasi yang muncul sebagai bagian dari bidang kesehatan yang berbeda, terutama di akhir perang dunia pertama dalam memenuhi kebutuhan para tentara untuk kembali sembuh dari luka-luka fisik dan mental akibat perang.

Hal ini, jelasnya, termasuk keadaan yang sekarang kita sebut sebagai gangguan stres pasca-trauma.

Luckman menyebutkan bahwa merajut, menenun, menganyam, dan berbagai kegiatan kerajinan lainnya merupakan hal yang biasa dalam dukungan repatriasi yang ditawarkan di banyak negara berbahasa Inggris kepada para veteran dua perang dunia yang telah kembali.

Luckman merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Department of Clinical Therapies, University of Limerick, Irlandia, pada tahun 2017.

Penelitian tersebut mempelajari manfaat terapi okupasi terhadap kesembuhan para veteran perang dunia. Mereka menemukan bahwa kegiatan seni dan kerajinan dianggap sebagai terapi pengalihan pikiran dari rasa sakit dan perasaan negatif. Selain itu, efektif juga dalam pengembangan keterampilan yang diarahkan untuk masuk kembali ke dunia kerja.

Bahkan, sebuah penelitian lain dilakukan dalam usaha untuk lebih memahami bagaimana kerajinan, khususnya merajut, sangat bermanfaat bagi tubuh dan pikiran, terutama kesehatan mental dan kesejahteraan.

Suatu penelitian yang dilakukan oleh Jill Riley, Betsan Corkhill dan Clare Morris dari Occupational Therapy, School of Healthcare Studies, Cardiff University, Cardiff, Inggris, berusaha untuk lebih memahami bagaimana kerajinan rajut sangat bermanfaat bagi tubuh dan pikiran.

Lebih lanjut situs Big Think menuliskan bahwa penelitian daring berskala internasional itu melaporkan bahwa mereka telah memperoleh manfaat psikologis dari praktek tersebut, yakni merasa rileks, terbebas dari stres, merasa telah mencapai suatu penyelesaian, mendekat ke tradisi, menjadi lebih berbahagia, kecemasan berkurang, meningkatkan kepercayaan diri, meningkatkan kemampuan kognitif, peningkatan daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan menyelesaikan masalah.

Luckman menunjukkan suatu penelitian lain dalam konteks yang lebih klinis, yang dilakukan oleh sebuah tim peneliti dari Department of Psychiatry, University of British Columbia, Vancouver, Kanada.

Penelitian yang dipublikasikan dalam situs National Institute of Health ini membuktikan bahwa memperkenalkan kerajinan, khususnya merajut, ke dalam kehidupan para pasien rumah sakit yang menderita anoreksia nervosa dapat menyebabkan berkurangnya ketakutan dan gejala gangguan makan.

Dilaporkan sekitar 74 persen peserta penelitian menggambarkan bahwa emosi dan perasaan negatif mereka seolah menjauh. Lebih dari setengahnya mengakui bahwa mereka merasa tidak terlalu stres lagi dan merasa tidak ingin bertindak ‘mengikuti lamunan’ mereka.

Luckman menyebutkan suatu penelitian yang dilakukan oleh Lyndsay W. Anderson dan Christina U. Gustavson dari MedStar Georgetown University Hospital and Capital Breast Care Center, bahwa merajut terbukti dapat mengurangi stres dan kelelahan (fatigue) pada para perawat di bangsal pasien kanker.

Beberapa penelitian lain juga menemukan sejumlah manfaat melakukan kegiatan-kegiatan seni dan kerajinan.

The Conversation menuliskan bahwa kendati kegiatan seni dan kerajinan awalnya dianggap sebagai kegiatan yang bersifat pribadi, tetapi manfaatnya juga muncul secara substansial dari hubungan sosial yang terkait dengan kegiatan tersebut.

Kegiatan kerajinan dan seni dapat membantu mereka yang pemalu, sakit, maupun mereka yang menderita berbagai bentuk kecemasan sosial, untuk mampu keluar dari fokus diri yang menyebabkan mereka merasa tidak nyaman pada diri mereka sendiri. Mereka mengembangkan keterampilan yang membuat diri berarti.

Hasil penelitian mengenai manfaat kerajinan dan kegiatan seni terhadap kesehatan fisik serta mental memang masih kualitatif. Jadi, masih harus diteliti lebih mendalam dan solid. Namun, peneliti memastikan bahwa dua hal tersebut memainkan peranan penting dalam meningkatkan kualitas hidup mereka yang rutin mempraktekkannya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR