Death metal menginspirasi sukacita

Johan Hegg, vokalis band Amon Amarth di Metaldays Festival, Slovenia pada 2017.
Johan Hegg, vokalis band Amon Amarth di Metaldays Festival, Slovenia pada 2017. | Marko Zamrznuti Tonovi /Shutterstock

Bunyi drum yang intens, vokal serak, dan tema lirik membuat orang beranggapan musik death metal membuat orang-orang marah dan sengsara. Namun, para ilmuwan menemukan death metal justru menginspirasi sukacita bagi pendengarnya alih-alih kekerasan atau kesengsaraan.

Dari semua subgenre metal, death metal mungkin paling aneh bagi orang pada umumnya. Simak saja sepotong lirik lagu Hammer Smashed Face dari Cannibal Corpse ini.

Brutality now becomes my appetite. Violence is now a way of life. The sledge my tool to torture. As it pounds down on your forehead.

Membaca lirik itu, tak heran jika orang beranggapan pendengar death metal suka kekerasan. "Paradoks menikmati emosi negatif ini lah yang membuat saya tertarik," kata psikolog musik William Forde Thompson.

Sejak satu dekade lalu, profesor di Macquarie University, Sydney, Australia ini mulai mengamati death metal dan efek emosional bagi para pendengarnya.

Profesor Thompson mengungkap, meski kebanyakan lirik lagunya bertema kekerasan, tidak berarti penggemar death metal lebih mudah melakukan kekerasan. "Penggemar death metal adalah orang-orang baik. Mereka tidak akan keluar dan melukai seseorang," kata Thompson kepada BBC.

Untuk menguji sensitivitas orang terhadap kekerasan, tim peneliti melakukan eksperimen psikologis yang menyelisik tanggapan orang di alam bawah sadar.

Mereka merekrut 32 penyuka death metal dan 48 orang non-penggemar. Seluruh peserta diminta mendengarkan lagu-lagu death metal atau pop sambil melihat gambar-gambar yang bermuatan kekerasan.

Menurut peneliti utama Yanan Sun, tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengukur seberapa banyak otak partisipan melihat adegan kekerasan. Mereka juga ingin membandingkan bagaimana sensitivitas mereka dipengaruhi oleh musik yang didengar peserta.

Untuk menguji dampak dari berbagai jenis musik, mereka menggunakan lagu Eaten dari Bloodbath dan Happy dari Pharrell Williams.

Thompson dan Sun menemukan, para penyuka death metal menunjukkan bias yang sama terhadap pemrosesan gambar kekerasan dengan mereka yang bukan penyuka death metal.

"Jika penggemar musik kekerasan tidak peka terhadap kekerasan, yang jadi kekhawatiran banyak kelompok orang tua, kelompok agama, dan dewan sensor, maka mereka tidak akan menunjukkan bias yang sama," kata Thompson, yang studinya diterbitkan di Royal Jurnal masyarakat Open Science.

Meskipun mungkin ada penelitian yang menghubungkan gim video dengan konten kekerasan dengan agresi, Thompson percaya hal yang sama tidak berlaku dalam musik.

"Respons emosional yang dominan terhadap musik ini adalah sukacita dan pemberdayaan. Saya pikir mendengarkan musik ini dan mengubahnya menjadi pengalaman yang memberdayakan dan indah adalah hal yang luar biasa," papar Thompson.

Pada riset sebelumnya, Thompson juga menemukan hal senada. Mendengarkan lagu death metal membuat pendengarnya merasakan pengalaman positif seperti perasaan berdaya, sukacita, dan damai.

Musik ini membantu mereka melepaskan diri dari perasaan negatif, meningkatkan energi, dan menciptakan kondisi emosional yang kuat.

Namun, perlu diketahui semua reaksi yang dilaporkan ini bersifat laporan peserta lewat survei daring. Menurut profesor psikologi Craig Anderson dari Iowa State University, hasilnya mungkin tidak merefleksikan realitas.

Dan lagi, seperti halnya penelitian lain soal dampak positif mendengarkan death metal, ukuran sampel yang digunakan terbilang kecil.

Satu hal yang pasti, musik--apapun genrenya--bisa membuat orang merasakan sesuatu dengan cara yang tak terduga.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR