KUALITAS HIDUP

Demokrasi baik untuk kesehatan rakyat

Ilustrasi partisipasi pemilu di negara demokrasi.
Ilustrasi partisipasi pemilu di negara demokrasi. | Herwin Bahar /Shutterstock

Riset terhadap 170 negara menunjukkan dampak sistem demokrasi terhadap kesehatan populasi untuk pertama kalinya.

Salah satu cara terbaik mengukur peran demokrasi dalam kesehatan masyarakat adalah dengan mengamati penyebab kematian orang dewasa di suatu negara. Termasuk di dalamnya penyakit tidak menular, HIV, penyakit kardiovaskular, dan kecelakaan transportasi.

Penelitian yang dipimpin Stanford Medicine menunjukkan, keempat penyebab kematian ini adalah yang membaik seiring berjalannya demokrasi.

“Hasil penelitian ini menunjukkan, pemilihan umum dan kesehatan masyarakat semakin tidak dapat dipisahkan,” tulis Thomas Bollyky, pemimpin penulis riset yang dipublikasikan di The Lancet pada Rabu (13/3) ini.

"Lembaga dan proses demokrasi, khususnya pemilihan umum yang bebas dan adil, bisa menjadi katalisator penting untuk meningkatkan kesehatan populasi, dengan perolehan kesehatan terbesar yang mungkin untuk penyakit kardiovaskular dan penyakit tidak menular lain."

Penulis studi Tara Templin mengatakan, riset ini memberi pemahaman baru tentang bagaimana tata kelola dan kesehatan menginformasikan debat kebijakan kesehatan global, terutama ketika pendanaan kesehatan global menurun.

“Karena semakin banyak kasus penyakit kardiovaskular, diabetes dan kanker terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, akan ada kebutuhan infrastruktur dan sumber daya perawatan kesehatan yang lebih besar untuk perawatan kronis yang tidak sepenting menyediakan vaksin anak atau perawatan akut," kata Templin.

Penyakit tidak menular, HIV, penyakit kardiovaskular, dan kecelakaan transportasi bertanggung jawab atas 25 persen dari total kematian dan disabilitas pada orang di bawah 70 tahun di negara berpenghasilan rendah dan menengah pada 2016.

Penyakit kardiovaskular menyumbang 14 juta kematian di seluruh negara tersebut. Sebanyak 42 persen kematian terjadi pada individu yang berusia di bawah 70 tahun.

Menurut para peneliti, meningkatnya pengalaman demokrasi selama 20 tahun terakhir telah mengurangi angka kematian di negara-negara ini. Tepatnya antara 8 dan 10 persen, baik karena penyakit kardiovaskular, penyakit tidak menular lain, dan tuberkulosis.

“Pemilihan umum yang bebas dan adil tampaknya penting untuk meningkatkan kesehatan orang dewasa dan penyakit yang tidak menular, kemungkinan besar dengan meningkatkan akuntabilitas dan daya tanggap pemerintah,” jelas peneliti.

Studi ini berfokus pada database Global Burden of Diseases, Injuries and Risk Factors Study, and Financing Global Health. Ini mencakup informasi dari 170 negara antara tahun 1970 hingga 2015. Indonesia termasuk di dalamnya.

Bicara Indonesia, indeks demokrasi Indonesia (IDI) secara nasional dari tahun 2009 hingga tahun 2015 mencapai angka 72,82 dalam skala 0 sampai 100.

Capaian ini masih berada pada kategori “sedang”. Klasifikasi tingkat demokrasi dikelompokkan menjadi tiga kategori: yakni “baik” (indeks > 80), “sedang” (indeks 60 – 80), dan “buruk” (indeks < 60).

Kembali ke riset baru, analisis mengungkap demokrasi berkaitan dengan angka penyakit tidak menular yang lebih baik. Para peneliti berteori, demokrasi mungkin memberikan prioritas lebih tinggi untuk investasi perawatan kesehatan.

"Pemerintah demokratis belum menjadi kekuatan pendorong dalam kesehatan global. Banyak negara dengan peningkatan terbesar dalam harapan hidup dan kematian anak selama 15 tahun terakhir adalah otokrasi pemilu yang mencapai keberhasilan kesehatan mereka dengan kontribusi besar bantuan asing," tulis para peneliti.

Para ahli mencatat, Ethiopia, Myanmar, Rwanda dan Uganda memperpanjang harapan hidup rakyatnya 10 tahun atau lebih antara tahun 1996 hingga 2016. Sementara negara-negara ini termasuk yang paling tidak demokratis di dunia, mereka adalah penerima utama bantuan asing untuk kesehatan.

"Studi ini menunjukkan pemerintahan yang demokratis, bersama dengan langkah-langkah akuntabilitas pemerintah lain, bisa lebih meningkatkan upaya perbaikan kesehatan populasi," tulis para penulis penelitian. "Bersikap sebaliknya sama dengan meyakini bahwa solusi untuk jalan dan infrastruktur negara yang hancur hanyalah sebuah skema teknis dan material yang lebih murah."

The Guardian melaporkan, studi ini adalah yang terbesar yang menemukan korelasi antara praktik demokrasi dan kesehatan orang dewasa. Sementara riset lain mengambil fokus yang lebih sempit tentang dampak demokrasi pada kesehatan di usia muda.

“Kelompok advokasi kesehatan global perlu melakukan lebih dari sekadar menuntut untuk mendapatkan lebih banyak dana dan kadang-kadang meratapi korupsi. Mereka perlu menyerukan Washington (AS), Brussels (Belgia), dan London (Inggris), untuk menjatuhkan sanksi kepada para diktator, termasuk mereka yang bekerja sama dengan sasaran militer barat,” tukas Dr. Helen Epstein dari Bard College, AS.

Riset ini menunjukkan, kita harus lebih menghargai demokrasi manakala berkesempatan mencicipinya. Bahkan ketika kandidat dalam pemilu dirasa kurang cocok, demokrasi masih lebih baik daripada pemerintahan yang otoriter.

Tentu dengan asumsi Anda lebih memilih hidup lebih lama dalam kondisi sehat daripada pendek usia dan sakit-sakitan.

Democracy Matters in Global Health /Council on Foreign Relations
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR