KESEHATAN

Deteksi dini kanker, soal nyawa dan dompet

Ilustrasi kanker
Ilustrasi kanker | Ladyshutterstock /Shutterstock

Setiap tahun jumlah pasien kanker di Indonesia meningkat, sementara biaya pengobatannya mahal. Padahal, deteksi terlambat yang jadi salah satu faktor pemicu bengkaknya biaya pengobatan, sebenarnya bisa diantisipasi.

Kanker bukan sesuatu yang asing. Penyakit ini membuat sel-sel abnormal membelah tanpa kontrol, menyerang jaringan lain, dan menyebar melalui darah dan sistem limfa.

Tahun 2017, hampir sembilan juta orang diprediksi meninggal di seluruh dunia akibat kanker. Angka ini akan terus meningkat hingga 13 juta orang per tahun pada 2030.

Sedangkan di Indonesia, merujuk pada data Riskesdas 2013, prevalensi kanker di Indonesia adalah 1,4 per 100 penduduk, atau sekitar 347 ribu orang.

Menteri Kesehatan Indonesia Nila Farid Moeloek, menegaskan betapa mencegah lebih baik daripada mengobati.

"Kita tahu bahwa kanker itu tidak mudah, itu masalah yang sangat besar bagi kita, untuk setiap negara. Karena kita tidak tahu penyebab kanker, itu sebabnya pencegahan lebih baik," tandas Nila saat membuka perhelatanThe Economist Event's War on Cancer South-East Asia 2018.

Faktanya, setiap tahun, pasien kanker di Indonesia meningkat. Sementara, penanganan kanker di sini sangat mahal. Salah satu alasannya karena sekitar 60 sampai 70 persen pasien datang ke dokter dalam kondisi cukup parah.

"Saat orang datang ke dokter dengan kondisi stadium lanjut dan lanjut lokal, keberhasilan terapi akan kurang baik dan biaya pengobatan menjadi sangat besar," ujar Soehartati Gondhowiardjo, Ketua Federasi Organisasi Asia untuk Radiasi dan Onkologi.

Soehartati menjelaskan ada tiga pilar pengobatan kanker, yaitu bedah, radiasi, dan kemoterapi.

Sebanyak 50 sampai 60 persen pasien kanker pasti butuh terapi radiasi. Sedangkan, penyebaran alatnya di Indonesia belum merata.

Soehartati mengatakan bahwa kesadaran masyarakat soal kanker memang masih kurang. Ini termasuk bagaimana mencegah, cara deteksi dini, juga tentang pengobatan.

Ketidaktahuan inilah yang menjadi penyebab terlambat berobat. Keterlambatan itu berujung pada mahalnya biaya.

Belum lagi, ada sebagian masyarakat yang memilih pengobatan alternatif karena diiming-imingi sembuh tanpa rasa sakit. Alhasil, mereka tidak mau menjalani pengobatan secara medis yang jelas ada efek sampingnya seperti kebotakan atau kulit menghitam.

"Ya siapa yang tidak mau sembuh hanya dengan makan kulit manggis atau kulit sirsak. Bahan-bahan itu hanya suplemen. Manfaatnya harus dibuktikan dalam penelitian panjang," ujar perempuan yang juga menjabat Ketua Perhimpunan Onkologi Radiasi Indonesia ini.

Menurut Soehartati, meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kanker adalah agenda penting. Ini harus dimulai dini, bahkan sejak seseorang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Aru Wisaksono Sudoyo, Ketua Yayasan Kanker Indonesia pun mengamini apa yang disampaikan Soehartati. Kata Aru, deteksi dini kanker bisa menghemat banyak biaya dan bukan tidak mungkin menyelamatkan nyawa. "Misalnya ada benjolan kecil, langsung diambil bisa sembuh," ujar Aru.

Deteksi dini dimulai dari kesadaran diri. Seperti dijelaskan Aru, ada lima tanda-tanda kanker yang perlu diwaspadai.

Pertama berat badan turun, lalu ada rasa sakit, ada perdarahan bukan pada tempatnya, ada benjolan, dan rasa lemah.

"Kalau terasa sakit atau lemas terus menerus, bisa periksa ke dokter umum. Nanti akan dicek dan kalau masih belum sembuh, akan dicari tahu penyebabnya," terang Aru.

Aru juga menyatakan bahwa 30 persen langkah pencegahan kanker adalah gaya hidup sehat. Ini termasuk mempertahankan berat badan ideal, rutin olahraga, dan makan makanan sehat.

Saran Aru, bagi perempuan agar mulai memprioritaskan kesehatan payudara. Sedangkan laki-laki mulai mewaspadai kanker paru-paru, usus besar, dan prostat.

Di Indonesia, menurut Menkes Nila, ada beberapa jenis kanker yang prevalensinya masih tinggi. Salah satunya kanker paru-paru. Selain itu, kanker hati di kalangan laki-laki dan kanker payudara dan leher rahim yang diderita perempuan.

Nila juga mengatakan bahwa kanker berada dalam urutan keempat dalam daftar penyakit mematikan di Indonesia. Selain karena gaya hidup seperti minum alkohol berlebihan, banyak makan makanan berlemak, merokok, kanker juga bisa disebabkan oleh faktor lingkungan seperti sinar matahari, radiasi, dan zat kimia industri.

Ada pun orang yang berisiko terkena kanker adalah mereka yang berusia di atas 55 tahun, kelebihan berat badan atau obesitas. Selain itu faktor keturunan, serta faktor risiko hormonal juga berpengaruh.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR