HUBUNGAN SOSIAL

Dikelilingi orang berprestasi memperburuk emosi

Ilustrasi anak emosi.
Ilustrasi anak emosi. | Theerapol sri-in /Shutterstock

Keputusan orang tua untuk mendorong putra-putrinya memasuki sekolah atau perguruan tinggi bergengsi yang didominasi anak-anak pintar mungkin tak selalu tepat.

Apalagi jika berharap anak bisa terinspirasi berkinerja baik jika dikelilingi kawan-kawan sebaya berprestasi.

Pasalnya, terlepas dari anak itu memang pintar dan berbakat, jika ia meragukan kemampuan dirinya alias kurang percaya diri, berada di antara orang-orang berprestasi justru bisa merusak kesejahteraan emosionalnya. Emosi buruk pada akhirnya berujung pada kegagalan pencapaian.

Hal tersebut diungkap Profesor Thomas Gotz dan rekan-rekannya lewat studi baru yang dirilis dalam Journal of Personality dan Social Psychology of American Psychological Association.

Gotz adalah peneliti pendidikan empiris di Universitas Konstanz dan Universitas Thurgau. Ia menekankan, memasuki sekolah bukan sekadar masalah pencapaian dan pengembangan akademik, tetapi juga bagaimana perasaan siswa.

"Dapat dimengerti orang tua ingin melihat anak-anak mereka di lingkungan sekolah yang berkinerja tinggi. Namun, penting juga agar orang tua dan staf pengajar menyadari fakta bahwa itu bisa membuat stres secara emosional, terutama di masa-masa awal, jika anak tiba di lingkungan yang sangat berprestasi," tutur Profesor Gotz.

Studi ini menyarankan, siswa yang hanya merasa “cukup baik” dalam suatu bidang, sejatinya perlu ditempatkan di lingkungan kurang berprestasi. Karena tempat itu akan memberikan efek positif pada konsep diri sekaligus meningkatkan kesejahteraan emosional yang membuatnya lebih tertantang memberi kinerja terbaik.

Untuk mencapai simpulan tersebut, Gotz dan tim mengacu pada suatu fenomena terkenal yang disebut "Big Fish Little Pond Effect" (BFLPE). Mereka mengeksplorasi apakah fenomena ini memiliki efek pada emosi siswa di sekolah.

Fenomena BFLPE merupakan teori penting soal konsep diri seseorang--konsep diri merujuk pada persepsi diri. Teori ini diperkenalkan pertama kali oleh Herbert W. Marsh dan John W. Parker pada tahun 1984.

Dalam berbagai studi setelahnya, menukil BBC, secara konsisten ditemukan fenomena BFLPE paling berlaku khususnya bagi orang usia muda yang masih duduk di bangku sekolah atau baru memasuki perguruan tinggi, pun dewasa muda di awal karier atau baru mengalami peralihan.

Tak hanya di sekolah, fenomena serupa juga terjadi di kelas khusus anak-anak berbakat, pun dunia olahraga dan lingkungan kerja. Ini memengaruhi tiap gender secara merata di seluruh dunia, kaya atau miskin.

Menurut teori BFLPE, ibarat seekor ikan yang menganggap dirinya besar ketika berenang di kolam yang relatif kecil, persepsi orang soal kemampuan diri ketika berada di lingkungan yang kurang berprestasi dan minim persaingan biasanya begitu besar. Ini secara otomatis membuat konsep diri meningkat.

Sebaliknya, ketika orang yang sama dengan kemampuan serupa ditempatkan di lingkungan berprestasi, maka ia ibarat ikan yang merasa kecil saat berada di kolam besar. Persepsi diri terhadap kemampuannya memburuk karena konsep dirinya menurun.

Teori ini cukup masuk akal mengingat manusia punya kecenderungan membandingkan kemampuan diri sendiri dengan orang lain yang dianggap tak kalah baik darinya, terutama di lingkungan baru.

Singkatnya, konsep BFLPE dapat digunakan meneliti kecenderungan seseorang dalam memanfaatkan potensi alias kemampuan dirinya untuk merasa lebih baik atau lebih buruk tentang diri sendiri, tergantung orang-orang di sekitarnya.

Itulah yang dimanfaatkan Gotz untuk hasil studinya. Dari tiga penelitian—dua studi longitudinal dan survei silang--yang dihelat terhadap 7.722 siswa sekolah Jerman kelas 5-10, ia menemukan korelasi kuat dan konsisten antara prestasi, emosi, dan kinerja siswa.

Bahkan ada efek timbal balik antara pencapaian prestasi dan emosi positif negatif seperti kebahagiaan, kebanggaan, kecemasan, kemarahan atau rasa malu. Jika emosi positif berkurang, prestasi juga menurun dan sebaliknya.

Studi Gotz semakin memperkuat kebenaran efek ikan besar kolam kecil yang sebelumnya sempat diragukan karena dinilai tidak konsisten.

Pada 2018, tim peneliti yang dipimpin Prashant Loyalka, asisten profesor di Stanford Graduate School of Education, membantah keraguan itu lewat analisis lintas budaya berskala besar yang menunjukkan sebab akibat.

Loyalka menemukan hubungan langsung antara bidang yang sangat kompetitif dan konsep diri negatif yaitu keraguan diri.

Psikolog Benjamin Elsner dari University College Dublin, Irlandia, bahkan menemukan konsekuensi jangka panjang dari teori konsep diri ini. Di antara dua anak sama cerdas, sementara yang satu relatif biasa-biasa di sekolah kompetitif, anak lainnya di sekolah biasa-biasa justru meraih skor di atas rata-rata. Ini membuatnya lebih mungkin melanjutkan pendidikan dan meraih karier impian.

Kendati demikian, Loyalka memperingatkan agar tidak melebih-lebihkan dampak pada siswa di sekolah kompetitif. Ia mencatat dukungan lingkungan bisa sangat berperan dalam menjaga kepercayaan diri seseorang.

Terlebih lagi, mungkin ada konsekuensi psikologis negatif ketika kita dikelilingi orang-orang berprestasi atau berkinerja tinggi. Misal, di tempat kerja ada rekan kerja hebat yang sulit diajak bekerja sama, atau di sekolah ada anak pintar yang gemar meremehkan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR