KESEHATAN

Dry clean bisa menyebabkan leukemia?

Ilustrasi dry cleaning.
Ilustrasi dry cleaning. | Africa Studio /Shutterstock

Leukemia yang diidap putri tunggal artis penyanyi Denada Tambunan, Shakira Aurum, membuatnya harus menjalani serangkaian pengobatan dan kemoterapi di Singapura, selama lebih dari satu bulan.

Intisari menyebutkan bahwa leukemia merupakan kanker darah mematikan yang bisa menyerang siapa pun, terutama anak-anak yang berusia 3 sampai 5 tahun. Tidak adanya riwayat mengidap leukemia dalam keluarga, baik dari pihak ayah maupun ibu, bukan berarti seseorang bebas dari risiko terkena penyakit ini.

Ada beberapa hal yang memicu kanker secara umum, termasuk perabotan rumah tangga. Dilansir dari Reader’s Digest, beberapa perabot rumah tanggal tersebut di antaranya sofa, lemari es, karpet, perlengkapan bercocok tanam, perlengkapan kebersihan dan lainnya.

Sementara barang-barang yang bersentuhan langsung dengan kulit tubuh, seperti pakaian, kaos kaki dan sepatu berisiko memicu kanker darah, atau leukemia.

Apalagi jika pakaian atau sepatu itu dicuci dengan teknik cuci kering atau dry cleaning. Menurut beberapa penelitian, dry cleaning meningkatkan risiko kanker darah atau leukemia pada manusia.

Metode cuci kering sering digunakan untuk merawat pakaian berbahan lembut, seperti sutera, wol maupun kulit, agar tidak rusak jika dicuci dengan tangan atau dengan mesin cuci. Dengan menggunakan larutan kimia khusus, yaitu perchlorethylene (PERC) atau tetrachlorethylene, noda-noda kotoran pada pakaian tersebut dapat hilang tanpa menggunakan air.

PERC yang biasanya digunakan untuk mengeringkan pakaian, juga ditemukan dalam semir sepatu atau pembersih kayu.

Kendati berbagai badan dan organisasi kesehatan serta lingkungan, seperti Environmental Production Agency (EPA) sejak tahun 2012 dan International Agency for Research on Cancer (IARC) telah menetapkan PERC sebagai karsinogen atau penyebab munculnya kanker, bahan kimia tersebut masih digunakan secara luas, terutama untuk industri cuci kering, serta pembersih logam dalam industri besar.

Dalam media rilis yang dimuat dalam laman EPA, badan tersebut memperingatkan bahwa penelitian tentang pekerja dry cleaning yang terpapar PERC telah memperlihatkan hubungan dengan beberapa jenis kanker, khususnya kanker kandung kemih, limfoma non-Hodgkin dan multiple myeloma .

IARC juga menemukan bahwa PERC menjadi "karsinogenik untuk manusia" berdasarkan bukti dari data epidemiologi dan penelitian pada hewan.

Sebuah penelitian di American Cancer Society menunjukkan bahwa perchlorethylene memang meningkatkan risiko seseorang terkena kanker. Akan tetapi bukan kanker kulit, melainkan kanker paru-paru dan atau leukemia.

WebMD menambahkan temuan yang menyebutkan bahwa PERC juga ditemukan dalam udara, air minum dan tanah. Juga dapat dideteksi dalam darah manusia, serta ASI.

Bagaimana PERC bisa memasuki tubuh?

Menukil Liputan 6, senyawa PERC yang tertinggal di baju setelah pencucian metode kering ternyata dapat tertinggal dan menempel di kulit, atau terhirup ketika seseorang bernapas, kemudian masuk ke paru-paru dan aliran darah.

Jika terhirup dalam jumlah yang sedikit, maka senyawa ini akan keluar melalui urin. Akan tetapi jika jumlah paparannya besar, maka akan semakin banyak dan menumpuk dalam tubuh. Inilah yang kemudian menjadi kanker darah.

Beberapa instansi pemerintah di Amerika Serikat telah mengatur tingkat konsentrasi PERC. Misalnya, Occupational Safety & Health Administration (OSHA) suatu agen federal yang mengatur aturan kesehatan dan keselamatan tempat kerja, membatasi paparan PERC di tempat kerja hingga 100 ppm (part per million), selama rata-rata 8 jam kerja per hari. Dan maksimum 300 ppm selama lima menit.

Sementara EPA membatasi konsentrasi PERC dalam air minum hingga 0,005 mg per liter atau 5 bagian per miliar (ppb), dengan tujuan akhir sebesar 0 ppb. Begitu juga, US Food and Drug Administration (FDA) yang telah menetapkan batas 5 ppb dalam air kemasan

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR