Duduk kelamaan picu 433 ribu kematian per tahun

Perilaku pasif seperti duduk tidak meningkatkan kebutuhan energi melampaui level istirahat, sehingga energi yang dikeluarkan dari dalam tubuh berjumlah kecil.
Perilaku pasif seperti duduk tidak meningkatkan kebutuhan energi melampaui level istirahat, sehingga energi yang dikeluarkan dari dalam tubuh berjumlah kecil. | Shutterstock

Perilaku sedentari yang di antaranya termasuk duduk lebih dari tiga jam dalam satu hari menyebabkan 433 ribu kematian di 54 negara.

Perilaku pasif ini tidak meningkatkan kebutuhan energi melampaui level istirahat, sehingga energi yang dikeluarkan dari dalam tubuh berjumlah kecil.

Aktivitas yang termasuk di dalam kategori ini antara lain tidur, duduk, berbaring, dan menonton televisi. Perilaku pasif dapat menjadi gaya hidup pasif jika dilakukan terus-menerus tanpa adanya aktivitas lainnya.

Gaya hidup pasif ini ternyata menyumbang risiko kematian yang cukup besar. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam American Journal of Preventive Medicine mengungkapkan bahwa duduk lebih dari tiga jam dalam sehari telah merenggut nyawa 433 ribu orang.

Untuk melakukan studi ini para peneliti melihat hasil data survei perilaku orang dewasa dari 54 negara antara 2002 sampai 2012.

Dengan menggunakan data ini, dan digabungkan dengan statistik masing-masing negara yang meliputi populasi, tabel kehidupan dan tingkat kematian, para peneliti menemukan fakta bahwa 3,8 persen dari semua kematian mungkin berhubungan dengan kebiasaan duduk yang terlalu lama.

Duduk ternyata mempunyai efek samping yang bisa menyebabkan kematian pada orang-orang yang tinggal di wilayah Pasifik Barat.

Lebih lanjut para ilmuwan mengungkapkan bahwa mengurangi jumlah waktu duduk, meskipun itu sedikit, mempunyai dampak yang positif.

"Hasil penelitian menyebutkan bahwa pengurangan sebanyak 10 persen waktu duduk atau mengurangi sekitar 30 menit waktu duduk dalam sehari bisa memberikan dampak instan terhadap semua kasus kematian di 54 negara yang diteliti. Sementara itu pengurangan waktu duduk sebanyak 50 persen atau mengurangi waktu untuk duduk selama 2 jam dalam sehari akan mengurangi jumlah kematian hingga tiga kali lipat," ujar peneliti utama Leandro Rezende dari Department of Preventive Medicine, University of Sao Paulo School of Medicine.

Para ilmuwan ini memperhitungkan dampak potensial pengurangan waktu duduk tanpa menimbang faktor lainnya misalnya latihan gerak badan yang juga bermanfaat bagi kesehatan.

Aktivitas fisik yang dimaksudkan adalah segala gerakan tubuh yang menggunakan otot dan memerlukan energi dalam jumlah lebih banyak daripada pada saat istirahat.

Kegiatan yang termasuk dalam aktivitas fisik antara lain berjalan, berlari, menari, berenang, yoga, dan berkebun. Istilah aktivitas fisik tidaklah sama dengan istilah olahraga. Olahraga merupakan aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur, contohnya angkat beban, mengikuti kelas aerobik, dan bermain olah raga secara berkelompok.

Para peneliti berharap temuan ini memberi kesadaran bagi banyak orang terhadap bahaya gaya hidup pasif yang lebih menyukai bekerja sambil duduk dan kurang berolahraga.

Mereka juga menekankan bahwa aktivitas fisik dan pengurangan kebiasaan duduk harus dipromosikan secara global sebagai cara untuk mengurangi tingkat kematian prematur.

"Meski jumlah waktu untuk duduk mewakili angka yang kecil dibandingkan risiko-risiko penyebab kematian lainnya, pengurangan waktu untuk duduk merupakan aspek penting untuk mempromosikan gaya hidup aktif, terutama pada orang yang tingkat aktivitas fisik mereka sangat rendah," kata Rezende seperti diwartakan Mirror.

"Dengan kata lain, mengurangi waktu untuk duduk akan membantu orang untuk meningkatkan jumlah aktvitas fisik mereka," tambah Rezende.

Dalam penelitian sebelumnya terungkap bahwa duduk untuk waktu yang lama ternyata berhubungan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, obesitas, diabetes dan bahkan benar-benar mengancam kesehatan masyarakat secara umum, nyaris sama dengan bahaya merokok.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR