KUALITAS HIDUP

Dunia butuh lebih banyak superhero perempuan

Ilustrasi superhero perempuan
Ilustrasi superhero perempuan | Ultralight19 /Shuttterstock

Perempuan, khususnya anak kecil dan remaja, merasa lebih percaya diri ketika menonton aksi superhero yang terlihat seperti dirinya.

Lebih lanjut, kehadiran superhero perempuan juga mampu mengubah stigma dan stereotip soal perempuan yang berguna bagi perkembangan serta masa depan perempuan muda.

Oleh karena itu, dibutuhkan lebih banyak superhero perempuan—atau karakter perempuan yang tangguh—, baik di film layar lebar maupun program televisi.

Demikian simpulan studi baru oleh Women's Media Center (WMC) dan BBC America, yang turut membuktikan bahwa representasi perempuan dalam media sangatlah penting.

Dilansir dari Bustle dan Romper, studi berjudul “Superpowering Girls" ini merupakan yang pertama kalinya meneliti pengaruh karakter fiksi ilmiah dan superhero perempuan di televisi dan film layar lebar terhadap kaum hawa.

Secara khusus, peneliti menemukan bahwa tokoh-tokoh utama pahlawan perempuan seperti Wonder Woman, Putri Leia, Captain Marvel yang akan hadir pada 2019, dan dokter perempuan pertama dalam serial televisi, Doctor Who, bisa meningkatkan harga diri sehingga para perempuan merasa lebih kuat, berani, percaya diri, terinspirasi, positif dan termotivasi.

Kata peneliti, perasaan-perasaan positif dan terwakilkan tersebut bisa mendorong kaum hawa merasa lebih berdaya, seolah dapat mencapai apa pun yang mereka inginkan.

Namun, seperti ditulis Newsweek, satu atau dua film yang dibintangi seorang perempuan atau dengan pemeran yang sepenuhnya minoritas, sekalipun meledak di pasaran dan berhasil menduduki peringkat teratas box office, tetap tidak cukup mewakilkan perempuan dalam genre superhero dan fiksi ilmiah, serta tidak dapat memperbaiki masalah kesenjangan gender secara luas.

Pasalnya, studi baru juga mendapati apa yang disebut peneliti sebagai ‘kesenjangan kepercayaan diri’ bahwa gadis remaja masih kemungkinan kecil menggambarkan dirinya sebagai orang yang percaya diri, berani dan didengar—dibanding remaja laki-laki.

Hal ini bahkan lebih relevan untuk perempuan kulit hitam yang cenderung merasa suara mereka tidak didengar.

Selain itu, masih ada kesenjangan gender sebesar 23 persen antara remaja perempuan dan laki-laki berkaitan dengan minat berkarier di bidang sains, teknologi, teknik dan matematika. Satu dari tiga remaja setuju anak perempuan memiliki lebih sedikit peluang untuk menjadi pemimpin.

Apalagi sejauh ini dunia fiksi ilmiah dan superhero memang didominasi laki-laki. Laporan dari Morning Consult menyebutkan, hanya delapan dari 27 karakter humanoid dengan peran besar dalam Avengers: Infinity War adalah perempuan.

Lalu, hanya 26,7 persen dari semua karakter DC dan Marvel adalah perempuan, dan hanya 12 persen dari komik superhero yang memiliki protagonis perempuan, menurut The Pudding, situs web gender dan keberagaman.

Dalam film-film box office, catat Moneyish, selain Gal Gadot yang menjadi superhero perempuan pertama dalam Wonder Woman dan berhasil menyabet gelar film terlaris sepanjang masa; Lupita Nyong’o dan Danai Gurira yang menampilkan karakter perempuan kuat hanyalah berperan sebagai pendukung karakter utama Black Panther—yang notabene laki-laki.

"Di tengah perubahan sosial yang sangat besar, penting bahwa televisi dan film menyediakan banyak peran dan panutan untuk kalangan perempuan muda," ujar Julie Burton, presiden WMC kepada BBC.

“Penelitian kami menemukan bahwa karakter sci-fi dan superhero perempuan membantu menjembatani kesenjangan kepercayaan diri untuk anak perempuan,” ungkap Burton.

Lebih rinci, mengutip Vice, studi baru menemukan bahwa superhero perempuan jauh lebih inspiratif dan berpengaruh besar terhadap anak perempuan (58 persen), dibanding 45 persen anak laki-laki ketika melihat superhero kebanggaannya. Persentase bahkan lebih tinggi (63 persen) untuk anak perempuan kulit hitam.

Seluruh peserta studi juga mengaku memandang superhero sebagai teladan. Hasil ini senada dengan sejumlah studi sebelumnya yang menyatakan bahwa anak-anak merasa lebih baik dan lebih terhibur ketika melihat panutan yang mirip dirinya.

Sembilan dari 10 remaja perempuan mengatakan bahwa superhero laki-laki adalah panutan positif, tetapi mereka juga percaya bahwa pahlawan perempuan lebih pintar dan lebih kuat daripada laki-laki, dengan Wonder Woman menjadi pahlawan terfavorit.

Menariknya, kendati kebanyakan peserta laki-laki paling memfavoritkan Batman—dan superhero laki-laki lainnya, 69 persen remaja laki-laki dan 75 persen orang tua menginginkan lebih banyak superhero perempuan. Sebanyak dua dari tiga anak laki-laki bahkan menikmati menonton film yang memiliki pahlawan perempuan.

Untuk studi, peneliti mensurvei 2.431 anak-anak dan remaja perempuan dan laki-lak berusia 10 hingga 19 tahun serta orang tua dari anak-anak berusia 5-9 tahun yang mewakili anak-anaknya.

Penelitian tersebut adalah bagian dari BBC Women's Initiative oleh BBC America, yang bertujuan memperluas keragaman dan representasi perempuan dalam media.

"Kami berharap studi ini akan berkontribusi memicu perubahan dalam cerita yang kita lihat di layar. Dengan representasi yang lebih besar dari pahlawan perempuan dalam genre fiksi ilmiah dan superhero, kami dapat membantu lahirnya generasi perempuan tangguh berikutnya," pungkas Presiden BBC Amerika, Sarah Barnett.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR