KESEHATAN MENTAL

Efek menonton video dengan konten sadis

Ilustrasi ekspresi takut
Ilustrasi ekspresi takut | 9nong /Shutterstock

Menonton, main gim, atau berseluncur di media sosial merupakan salah satu aktivitas yang umum dilakukan banyak orang untuk melepas penat bekerja seharian. Namun, hati-hati, Anda juga harus selektif dengan apa yang Anda baca atau tonton.

Seorang psikolog anak dan penulis buku Gaslighting: Recognize Manipulative and Emotionally Abusive People-Break Free, mengatakan bahwa ketika kita menonton video berkonten sadis, kita mengekspos diri sendiri untuk mengalami masalah kecemasan, depresi, stres kronis, dan insomnia.

Anda yang mengidap PTSD (Post-Traumatic Disorder) secara otomatis akan menstimulasi trauma masa lalu sehingga membuat Anda bereaksi yang bakal merugikan diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Sang penulis buku, Stephanie Sarkis, menambahkan bahwa terus-menerus menyaksikan video dengan jenis konten sarat kekerasan seperti penembakan massal, pengeroyokan, dan kekerasan seksual, juga meningkatkan rasa takut dan khawatir berlebihan.

Penjelasannya dikuatkan dengan hasil studi Jennifer Ahern, PhD, dari University of California.

Dalam studinya Ahern memaparkan bahwa menonton video sadis dan aksi kekerasan bisa membuat Anda selalu merasa seperti sedang dalam kondisi yang terancam sehingga mengakibatkan kondisi fisik sesak napas, hipertensi, dan ketakutan berlebihan.

Oleh karena itu, dr Andri SpKJ, dokter jiwa dari Klinik Psikomatik Omni Hospital Alam Sutera, menganjurkan agar video yang menampilkan anarkisme dan aksi sadis tidak usah disebar-sebarkan.

“Bila kita mendapatkan video tersebut dari grup WA (WhatsApp) atau yang lainnya sebaiknya hentikan, cukup sampai kita,” jelas dr Andri kepada Detik Health.

Dia menambahkan terutama jika video tersebut bukan sebuah film. Sebab, apabila film, banyak orang bisa membedakan bahwa adegan tersebut fiktif. Jadi, jika video kejadian nyata yang mengerikan dan sadis lebih baik jangan disebar.

Efek negatif tersebut bisa semakin berbahaya jika video sampai di tangan anak-anak. Pasalnya, anak-anak yang alam pikirannya masih polos dan belum terbentuk, bisa saja mengalami gangguan emosional usai menyaksikan adegan sadis.

“Menonton film yang terlalu sadis sebaiknya dihindari, terutama untuk penonton yang masih di bawha 17 tahun. Sebab, bisa memengaruhi perkembangan mental emosional anak,” terang dr Winda Indriati.

Dia menjelaskan bahwa pembentukan karakter seseorang itu dipengaruhi oleh stimulus atau rangsangan dari lingkungan sekitarnya.

Jadi, jika terlalu sering atau banyak menonton video atau film yang sadis, pembunuhan, atau konten negatif lainnya, alam bawah sadar seseorang akan membentuk pribadi tertentu yang tidak baik, misalnya, mudah paranoid atau antisosial.

Selain video, permainan gawai, seperti gim yang mengangkat tema perang, pembunuhan, dan sebagainya juga memberikan dampak negatif yang buruk untuk kesejahteraan emosional Anda.

World Health Organization (WHO) bahkan telah memasukan “Gaming Disorder” pada daftar resmi kondisi kesehatan mental.

WHO menyatakan, gim bisa memengaruhi perilaku pemainnya sampai pada tahap menganggu lingkungan sekitar.

Para pakar telah mengaitkan bahwa ada hubungan antara permainan gim yang sadis pada perilaku kekerasan.

Pernyataan tersebut diutarakan setelah kejadian penembakan massal yang terjadi di sekolah di Parkland, Florida, AS.

Berikut beberapa anjuran yang dipaparkan oleh Sarkis untuk meredakan dan menghentikan efek buruk dari menonton video sadis:

1. Berhenti menonton atau melihat gambar-gambar sadis. Jangan teruskan video dan gambar tersebut pada anggota keluarga atau siapapun di lingkungan Anda.

2. Filter pengaturan berita pada mesin pencarian ponsel pintar atau laptop.

3. Buat laporan pada media atau perusahaan mesin pencarian bahwa konten yang mereka publikasikan bisa memberikan efek gangguan mental dan emosional terhadap publik.

4. Lakukan aksi nyata. Tumbuhkan kesadaran sosial pada masyarakat luas dengan cara bergabung di komunitas sosial. Membantu orang lain juga memberikan manfaat positif pada diri sendiri.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR