Efek psikologis akibat operasi ganti kelamin

Ilustrasi meja operasi
Ilustrasi meja operasi | Sasiils /Shutterstock

Kehadiran video seorang penyanyi dangdut baru di kancah musik Indonesia usai melakukan operasi pergantian kelamin yang tersebar viral sempat ramai menjadi pemberitaan dan perbincangan banyak orang beberapa waktu lalu.

Tindakan operasi pergantian kelamin seperti yang dilakukan oleh penyanyi tersebut bisa dibilang masih awam untuk lingkungan sosial di Indonesia.

Operasi pergantian kelamin yang memiliki istilah sex reassignment atau transeksual ini sebenarnya merupakan tindakan medis yang cukup rumit dan berisiko dengan kematian.

Tompi, penyanyi dan seorang pakar bedah plastik, turut sumbang pendapat mengenai risiko operasi pergantian kelamin atau transeksual dalam sebuah video yang diunggah oleh akun situs KapanLagi.

Tompi menjelaskan bahwa banyak aspek yang harus dipersiapkan sebelum menjalani operasi transeksual, misalnya, kondisi psikologis dan kesehatan jasmani.

"Banyak aspek yang harus diperhatikan betul di operasi transeksual ini. Pertama, aspek kesiapan pasien. Biasanya pasien yang mau transeksual ini persiapan psikologisnya panjang. Biasanya dokter dan pasiennya mulai dari diagnosis dan ngobrol-nya berkali-kali untuk meyakinkan bahwa ini betul-betul keinginannya dia sendiri. Karena ini operasi yang one go, sudah gitu enggak bisa diulang. Penentuannya sudah final,"kata Tompi, seperti dinukil Okezone.

Partisipasi dokter spesialis kejiwaan, menurut Tompi, memiliki peran penting sebelum pasien setuju menjalani operasi transeksual.

Sebab, mengganti kelamin yang telah menjadi identitas diri seseorang selama bertahun-tahun bukanlah tindakan remeh. Sebab, operasi ini tidak bisa dilakukan berulang-ulang kali. Jadi, jika Anda seorang pria yang mengganti kelamin menjadi perempuan, maka tidak bisa mengubahnya kembali seperti semula.

Sebuah studi pada tahun 2016 membandingkan 20 partisipan asal Libanon yang telah menjalani operasi transeksual dan 20 partisipan lainnya yang tidak pernah menjalaninya.

Peneliti menemukan, individu transeksual lebih banyak menderita kelainan mental ketimbang populasi pada umumnya. Sebanyak 50 persen partisipan transgender aktif memikirkan keinginan untuk bunuh diri dan 45 persen lainnya menderita depresi akut.

Kondisi ini bisa jadi karena pemicu paling besar seseorang untuk melakukan operasi pergantian kelamin adalah dorongan psikologis. Hal ini dibuktikan oleh hasil penelitian pada tahun 2009 dan 2013 yang mencari gen transgender dalam diri manusia. Hasilnya, tidak ada kondisi gen abnormal yang menyebabkan seseorang secara genetis menjadikan dirinya transgender.

University of Birmingham's aggressive research intelligence facility (Arif) menemukan, tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan bahwa operasi pergantian kelamin efektif secara klinis.

Kesimpulan tersebut berdasarkan peninjauan terhadap 100 studi kesehatan mengenai efek dan hasil dari pasca- operasi pergantian kelamin.

Peneliti mengungkapkan bahwa kebanyakan pasien merasa menyesal setelah melakukan operasi transeksual, beberapa di antaranya mengaku, justru menjadi lebih tidak bahagia dan merasa depresi.

"Tidak ada kepastian bahwa menganti kelamin itu merupakan hal yang baik atau buruk untuk seseorang. Namun yang pasti pasien harus rutin melakukan perawatan jangka panjang setelah tindakan operasi. Banyak orang yang justru mengalami trauma setelah operasi, tak sedikit yang ingin bunuh diri," jelas Dr Hyde seperti dinukil The Guardian.

Selain itu, berdasarkan bukti klinis, penelitian menyimpulkan bahwa riset medis mengenai operasi ganti kelamin tidak memiliki bukti kuat yang efektif. Pasalnya, sebagian besar pasien justru mengalami gangguan emosional dan mental setelah menjalani operasi pergantian kelamin.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR