POLA ASUH

Etiket menegur anak orang lain

Ilustrasi mendisiplinkan anak tetangga
Ilustrasi mendisiplinkan anak tetangga | yongtick /Shutterstock

Orang tua terkadang dihadapkan pada pilihan sulit ketika melihat anak diganggu oleh temannya. Emosi, tapi di sisi lain sungkan untuk menegur. Apalagi jika Anda kenal orang tuanya.

Lalu apa yang harus dilakukan? Bagaimana etiket menegur anak orang lain?

Menurut psikolog dan pakar pola asuh Australia, Justin Coulson menegur anak orang lain yang berbuat salah wajib dilakukan.

“Kita memiliki tanggung jawab untuk mendisiplinkan anak-anak orang lain, terutama ketika mereka tidak dapat melakukannya sendiri,” ujarnya dinukil laman Daily Mail.

Justin yang juga anggota Federal Government’s Office of the Children’s e-Safety Commissioner, yakin bahwa mengajarkan disiplin pada anak-anak tersebut lebih penting dari sebuah proses hukuman.

Namun, hindari melakukan kontak secara fisik untuk mendisiplinkan anak.

“Kata disiplin berasal dari kata Latin yaitu disciplina, yang berarti instruksi atau pengetahuan, ini menekankan pada sebuah proses. Mendisiplinkan bukan tentang menghukum, ini tentang mengajar, entah itu anak kita atau anak orang lain,” jelas ayah dari enam anak perempuan itu.

Lebih lanjut ia mengatakan, “Jika dilakukan dengan benar, dengan lembut dan baik, kebanyakan orang tua akan menyambut baik orang tua lain yang mengingatkan anak mereka tentang cara berperilaku yang benar.”

Menurut Justin, anak-anak butuh disiplin. Tetapi untuk itu harus selalu difokuskan pada metode bimbingan, instruksi, dan bantuan. Memberikan mereka contoh dalam perilaku sehari-hari termasuk efektif mengajarkan disiplin pada anak.

Senada dengan Justin, Vera Itabiliana, psikolog anak dan keluarga mengatakan, menegur anak orang lain harus didasari dengan semangat yang sama seperti menegur anak sendiri.

“Sebenarnya namanya anak, kita tidak bisa memilih kalau ada anak yang berbuat kesalahan. Apakah itu anak orang lain atau anak kita. Sehingga sikapnya jadi beda, tidak boleh berbeda seperti itu. Jadi cara menegurnya pun, sama seperti kita menegur anak kita sendiri.”

Vera menambahkan, etiket menegur anak yang melakukan kesalahan secara umum adalah ditegur baik-baik dan disampaikan ke orang tuanya. Karena berkewajiban meluruskan dan membereskan masalah adalah tetap pada peran orang tua.

Menurut Vera, sebagai orang dewasa kita harus dapat tenang dan melihat akar masalah. Misal kita melihat dan mendengar langsung teman sebaya anak kita berkata kasar. Maka jangan langsung menghakimi dia salah.

“Karena rumusnya masih children see, children do. Children hear, children say. Jadi belum tentu mereka melakukan itu tanpa sebab,” jelas Vera.

Justin pun sepakat dengan cara itu. “Mungkin ada kondisi mental atau penyakit fisik yang memengaruhi anak, atau mungkin ada sesuatu yang terjadi dalam kehidupan di rumah mereka. Kita tidak mungkin mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan orang lain.”

Lakukan dengan lembut

Bagaimana cara menegur yang baik di tengah situasi saat anak-anak mulai tidak terkendali? Menurut Justin, sebagai orang dewasa, menahan emosi, nada bicara dan mengatur bahasa tubuh perlu untuk meredakan ketegangan.

Dia menyarankan, jaga jarak sehingga tidak ada pihak yang merasa terancam secara fisik. Posisikan mata sejajar dengan anak itu, dan bicaralah dengan lembut, coba untuk tidak terlihat marah. Hal ini akan lebih membantu mengendalikan situasi.

Namun jika situasi mulai tidak terkendali, mungkin karena melibatkan anak-anak berusia lebih tua, maka lebih baik Anda mencari orang tua anak tersebut. Menggunakan pendekatan yang sama, katakan kalimat positif yang tidak memojokkan seperti "Hai, sepertinya anak-anak butuh bantuan kita."

“Bersikap sopan dan tenang akan membantu semua orang yang terlibat situasi tersebut, termasuk anak-anak dan orang tua lain untuk menyadari bahwa kita tidak ada niat untuk menyakiti atau menghukum siapa pun,” kata Justin lagi.

Jika kondisi tersebut terjadi di lingkungan sekolah, sebaiknya serahkan kepada guru untuk menyelesaikan masalah.

Selain itu, jika memungkinkan, membahas masalah ini sesama orang tua akan lebih baik.

Namun ingat, menurut psikolog keluarga Anna Surti Ariani MPsi, Psi, membahas di sini bukan berarti mencari kesalahan dan pembenaran. Tetapi mencari solusi terbaik bagi anak-anak agar dapat kembali berteman dan bermain bersama.

BACA JUGA