POLA ASUH

Gadget bukan solusi, orang tua perlu strategi baru

Ilustrasi anak bermain gawai.
Ilustrasi anak bermain gawai. | MIA Studio /Shutterstock

Waktu bermain gadget sebagai imbalan saat anak bersikap baik mungkin terlihat sebagai solusi. Anda bisa memotivasi anak dengan memberikan, tapi juga punya kendali atas penggunaannya.

Namun, sebuah penelitian baru mengungkap, kebiasaan ini sebenarnya tak ideal. Sebab, mencoba mengendalikan perilaku anak dengan membiarkannya di depan layar pada akhirnya hanya menyebabkan anak menghabiskan lebih banyak waktu bermain gawai.

Karena itu, peneliti menyarankan agar orang tua mencari strategi lain.

Para pakar dan ahli terus berupaya memahami bagaimana penggunaan gawai dalam keseharian berdampak pada anak-anak.

Pada 2015, Washington Post melaporkan remaja menghabiskan rata-rata sembilan jam sehari di dunia maya. Sementara anak-anak usia 8 hingga 12 tahun menghabiskan enam jam untuk online.

Durasi anak-anak main gawai semakin bertambah. Apalagi ketika media sosial menjadi semakin populer.

Penggunaan gawai mungkin tampak seperti motivator yang sempurna. Saat anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu online, mereka cenderung enggan kehilangan kesempatan hingga bersedia mengubah perilaku demi mendapatkan waktu tambahan di depan layar.

Tetapi, para peneliti memperingatkan ini sebenarnya dapat menyebabkan waktu anak-anak di depan layar justru jadi meningkat secara keseluruhan.

"Kami ingin menyelidiki dampak praktik pola asuh pada waktu di depan layar balita dan anak usia prasekolah karena ini adalah masa terciptanya kebiasaan dan rutinitas, dan keduanya cenderung berlanjut seumur hidup," jelas peneliti Lisa Tang.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal BMC Obesity ini mengamati bagaimana praktik pola asuh berdampak pada jumlah waktu yang dihabiskan anak-anak untuk bermain dengan gawai.

Mereka mengamati 62 anak-anak berusia antara 18 bulan hingga 5 tahun. Sebanyak 68 orang tua juga dilibatkan dalam riset ini.

Para peneliti menemukan, rata-rata, anak menghabiskan hampir satu setengah jam bermain gawai pada hari kerja, dan lebih dari dua jam sehari di depan layar pada akhir pekan.

Lebih dari setengah orang tua yang berpartisipasi dalam penelitian melaporkan menggunakan kesempatan main gawai untuk mengendalikan perilaku anak, terutama pada akhir pekan. Karena itu lah, anak-anak menghabiskan sekitar 20 menit atau lebih di depan layar pada akhir pekan.

Temuan ini didapat para peneliti setelah bertanya kepada orang tua tentang bagaimana mereka memantau durasi anak bermain dengan gawai. Juga mengamati apakah orang tua dan anak menghabiskan waktu di depan layar bersama.

"Ini mirip dengan bagaimana kita seharusnya tidak menggunakan makanan manis sebagai imbalan, karena dengan melakukan itu kita bisa meningkatkan daya tarik gula pada anak. Ketika Anda memberi makanan sebagai imbalan, itu membuat anak-anak jadi lebih suka permen ketimbang wortel. Sama halnya dengan waktu di depan layar," urai Jess Haines, salah satu peneliti yang adalah profesor hubungan keluarga dan nutrisi terapan.

Pun demikian ada faktor lain yang juga memengaruhi waktu anak di depan layar. Yakni, lebih banyak waktu yang dihabiskan di rumah dalam seminggu.

Tapi, penelitian ini menawarkan perspektif menarik tentang bagaimana sebaiknya orang tua menggunakan pendekatan gawai dalam mengasuh anak. Selain itu juga seberapa efektif sebenarnya menggunakan gawai untuk mengendalikan perilaku anak.

Jadi, jika tujuan Anda membatasi penggunaan layar untuk anak, maka sudah saatnya mencari motivator lain agar perilaku anak jadi lebih baik.

Sejauh ini, berbagai riset yang ada memang menyarankan orang tua tidak hanya membatasi, tapi mengawasi penggunaan teknologi. "Asupan yang masuk ke dalam pikiran anak-anak sama pentingnya seperti makanan yang kita berikan untuk tubuh mereka," kata Michael Rich, associate professor pediatri di Harvard Medical School.

"Kita perlu memahaminya sebaik mungkin. Kita perlu menggunakan data guna memproyeksikan hal-hal yang bisa kita buat ke depannya untuk menciptakan kondisi paling sehat dan aman untuk membesarkan anak serta berinteraksi dengan sesama."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR