Mengenal gangguan mata pada bayi prematur

Ilustrasi: Bayi memakai kacamata
Ilustrasi: Bayi memakai kacamata | Leungchopan /Shutterstock

Salah satu anak kembar dari pasangan Cynthia Lamusu dan Surya Saputra, Atharva Bimasena Saputra, mengalami sakit mata bawaan sejak lahir.

Kondisi tersebut yang menyebabkan Bima memakai kacamata di usia dini.

Dalam unggahan akun instagram anaknya, ibu dua anak ini menceritakan bahwa gangguan mata yang diderita sang buah hati adalah Retinopathy of Prematurity (ROP)

“Kondisi ini berpotensi menyebabkan kebutaan permanen pada bayi," kata dokter spesialis mata, Ni Retno Setyoningrum, SpM(K), dinukil Bisnis.com.

Kelainan ini bisa terjadi pada bayi dengan kelahiran prematur karena membuat pertumbuhan pembuluh darah pada retina tidak berkembang secara sempurna.

Timbulnya pembuluh darah retina baru yang tidak normal (neovaskularisasi) menyebabkan komplikasi berupa perdarahan ke dalam rongga mata (vitreus) atau tarikan pada retina hingga terlepas.

Retina adalah organ yang sangat vital dari seluruh jaringan dalam rongga mata yang berfungsi untuk menangkap rangsangan cahaya dan mengirimkan rangsangan ke otak sehingga dapat melihat suatu objek.

ROP menyerang bayi prematur yang lahir dari usia kehamilan ibu kurang dari 31 minggu. Kehamilan dinyatakan normal atau cukup bulan buat melahirkan saat sudah memasuki usia 38 hingga 42 minggu.

Namun, kebutaan akibat ROP bisa dicegah dengan melakukan pemeriksaan sejak dini pada bayi prematur.

Menurut pakar kesehatan mata anak, Prof. dr Rita Sita Sitorus SpM(K) PhD, dari Fakultas Kedokter Universitas Indonesia, skrining ROP harus dilakukan sejak bayi prematur sudah dinyatakan stabil dan siap untuk diperiksa oleh dokter spesialis anak.

Perlu diingat adalah skrining ROP tetap harus dilakukan berulang kali hingga bayi mencapai usia postmenstrual age (PMA) 42 minggu, meski skrining menunjukkan hasil negatif, tetap harus dilakukan berkali-kali.

"Karena di usia 42 minggu itu risiko (ROP) sudah rendah," kata Rita kepada Republika.co.id.

Lebih lanjut Rita menjelaskan, skrining ROP bisa dilakukan dengan dua cara.

Pertama adalah dengan menggunakan optalmoloskop indirek. Dalam mekanismenya, pemeriksaan ini perlu dilakukan berulang kali hingga usia bayi mencapai 42 minggu. Seiring berjalannya waktu, risiko retinopati prematuritas akan semakin rendah. Diyakini skrining ROP dengan menggunakan optalmoloskop indirek mampu mencegah terjadinya kebutaan.

Cara kedua adalah menggunakan retial kamera (RetCam) yang dianggap lebih efisien untuk proses skrining karena pengambilan gambar bisa dilakukan oleh paramedis terlatih. Selanjutnya, hasil pemeriksaan dikirimkan ke dokter spesialis mata untuk dianalisis.

Ditulis Kompas.com, dokter spesialis mata, dr. Florence M. Manurung, pemeriksaan retina pada bayi prematur dapat dilakukan mulai dari usia dua sampai dengan empat minggu setelah kelahiran.

Jika bayi masih berada dalam inkubator, pemeriksaan dengan RetCam dapat dilakukan dalam inkubator.

Selanjutnya, untuk diperhatikan dan penting bagi ibu dengan risiko melahirkan bayi prematur, yaitu tidak boleh menunda skrining ROP. Pasalnya, perkembangan penyakit ROP berlangsung dengan sangat cepat.

Skrining ROP yang dilakukan ketika bayi prematur sudah melewati usia (PMA) 42 minggu dapat dikatakan terlambat. Sebab, ROP yang baru terdeteksi pada kisaran tersebut cenderung sudah memasuki stadium lanjut dan sangat berpotensi menyebabkan kebutaan.

Selain melakukan pemeriksaan dini, ibu hamil juga bisa mencegah kelahiran prematur. Melansir dari Mayo Clinic untuk mengurangi risiko kelahiran prematur, ibu bisa menggunakan suplemen progesteron.

Dengan mengetahui gejala dan menghindari faktor-faktor risiko tertentu, seorang ibu hamil dapat mengurangi risiko untuk melahirkan secara prematur.

Gangguan mata akibat ROP

Beberapa jenis gangguan mata yang bisa terjadi akibat retinopati prematur antara lain adalah nistagmus, yaitu gangguan mata yang dapat terlihat karena gerakan bola mata yang tidak normal. Jika diperhatikan bola mata akan bergerak secara tidak terkendali. Nistagmus bisa terjadi pada salah satu mata atau kedua mata sekaligus.

Ada juga strabismus yang populer dengan istilah juling di mana salah satu atau kedua mata tidak dapat dipusatkan atau fokus pada satu buah objek secara bersamaan.

Gangguan mata ini bisa terjadi karena ketidakseimbangan kinerja otot-otot yang menggerakkan bola mata.

Kemudian, gangguan lainnya adalah myopia atau rabun jauh yang mengakibatkan ketidakjelasan saat melihat benda-benda yang letaknya cukup jauh.

Bayi yang menderita myopia biasanya akan terlihat lebih sering menyipitkan mata saat harus melihat sesuatu yang letaknya cukup jauh.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR