KESEHATAN MENTAL

Generasi muda dihantui gangguan mental

Ilustrasi anak depresi.
Ilustrasi anak depresi. | Borysevych.com /Shutterstock

Anak muda masa kini hidup dalam tekanan sangat besar. Dalam satu dekade terakhir, lebih banyak anak muda--ketimbang generasi lebih tua--mengalami tekanan psikologis serius, depresi berat, dan punya pikiran atau kecenderungan bunuh diri.

Menurut studi baru yang diterbitkan dalam Journal of Abnormal Psychology, melonjaknya angka gangguan kesehatan mental tidak terlihat pada orang berusia di atas 26 tahun. Sementara, remaja dan dewasa muda yang kini usianya 20-an awal justru semakin berisiko mengalami masalah kesehatan mental yang parah.

Mengapa kondisi ini hanya dialami generasi Z dan milenial muda? Para peneliti berteori, masalah ini dipicu akses ponsel pintar, dan berkurangnya waktu tidur.

Riset ini mengamati data dari National Survey on Drug Use and Health di Amerika Serikat. Survei ini memantau penggunaan narkoba dan masalah kesehatan mental pada remaja sejak 1971.

Analisis dilakukan terhadap lebih dari 200 ribu jawaban remaja pada 2005 hingga 2017. Para peneliti juga melihat data dari lebih dari 400 ribu orang dewasa dari 2008-2017.

Para peneliti menemukan, tingkat depresi berat naik lebih dari 50 persen pada usia remaja. Dari 8,7 menjadi 13,2 persen.

Pada usia 18-25 melonjak lebih dari 60 persen. Dari 8,1 persen menjadi 13,2 persen.

Pada usia di bawah 26, orang yang berpikiran untuk bunuh diri meningkat hampir 50 persen. Dari tujuh persen menjadi 10,3 persen.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga meriset depresi pada 2018. Data Riset Kesehatan Dasar 2018 mengungkap prevalensi depresi di Indonesia adalah enam persen dari total penduduk.

Menurut Kemenkes, terjadi peningkatan proporsi gangguan jiwa cukup signifikan. Pada Riskesdas 2013 angkanya 1,7 persen, naik menjadi 7 persen pada 2018. Namun, ini bukan angka depresi, melainkan skizofrenia yang masuk kategori gangguan jiwa berat.

Kelompok usia paling rentan menderita depresi adalah usia 75 tahun ke atas. Sebanyak 8,9 persen dari total penduduk berusia tersebut menderita depresi.

Selain itu, usia depresi juga banyak terjadi di kalangan anak muda berusia 15 hingga 24 tahun. Sebanyak 6,2 persen kaum milenial muda depresi.

Karl Peltzer dan Supa Pengpid juga menemukan gejala depresi pada kaum muda di Indonesia. Riset berskala nasional yang mereka lakukan mengungkap, remaja berusia 15 hingga 19 tahun menunjukkan gejala depresi tertinggi dibandingkan kelompok usia lain.

Kembali ke penelitian baru, riset ini keluar tak lama setelah survei besar dirilis Pew Research Center. Survei tersebut juga menemukan hal senada. Tujuh dari 10 remaja mengatakan kesehatan mental adalah masalah besar bagi mereka.

Laporan lain dari Born This Way Foundation pun memperlihatkan sekitar 50 persen remaja tidak tahu ke mana harus mencari pertolongan saat mengalami gangguan kesehatan mental.

"Semakin banyak remaja dan dewasa muda AS pada akhir 2010-an, dibandingkan pertengahan 2000-an, mengalami tekanan psikologis yang serius, depresi berat, atau berpikiran untuk bunuh diri, dan lebih banyak upaya bunuh diri," papar penulis utama riset, Jean Twenge, Ph.D.

Penulis buku iGen dan profesor psikologi di San Diego State University ini mengatakan, "Tren ini lemah atau tidak ditemukan di kalangan orang dewasa berusia 26 tahun ke atas. Ini menunjukkan perubahan generasi dalam gangguan mood daripada peningkatan secara keseluruhan di semua usia."

Beberapa penelitian sebelumnya telah mengaitkan teknologi baru dengan merosotnya kesehatan mental. Namun, belum ada yang secara definitif menjelaskan mengapa akses informasi bisa sebegitunya memengaruhi kesehatan mental.

Menurut Twenge, orang yang usianya lebih tua mungkin punya kehidupan sosial yang lebih stabil daripada orang dewasa muda. Sementara, hubungan sosial yang cepat berubah dengan dimediasi media sosial mungkin berdampak lebih besar pada orang yang lebih muda.

Twenge juga menyarankan, orang yang lebih dewasa mungkin punya strategi lebih baik dalam menata hidup. Mereka tidak membiarkan teknologi mengganggu tidur. Beda dengan orang yang lebih muda.

Beberapa pakar menunjukkan perbedaan dalam menyikapi temuan riset ini.

"Menurut saya ini seperti alarm. Temuan ini datang bersama berbagai bukti yang menunjukkan kita tidak mendukung kaum remaja dengan cara-cara yang sesuai perkembangan," ujar Mary Helen Immordino-Yang. Mary adalah profesor psikologi dan pendidikan di University of Southern California yang tidak terlibat riset ini.

Seperti halnya Twenge, Mary pun sependapat soal efek buruk media sosial. "Ada kelebihan informasi dan rangsangan serta pengaruh jauh lebih besar yang mereka hadapi,” katanya.

Depresi memang melonjak di kalangan muda. Namun, apakah jelas ini disebabkan oleh teknologi atau penggunaan media sosial?

"Tentu ada beberapa pemicu yang melekat pada penggunaan media sosial, tetapi ada pemicu lain juga," tukas Laurence Steinberg, pakar remaja dan profesor psikologi di Temple University.

Steinberg menyebutkan, meningkatnya persaingan untuk masuk perguruan tinggi dan bayang-bayang orang tua sebagai faktor potensial. "Jadi mungkin bukan karena satu hal, melainkan dampak kumulatif dari banyak hal."

Terlepas dari penyebab pasti, remaja yang depresi dan berkeinginan bunuh diri lebih besar kemungkinannya menderita sebagai orang dewasa. Maka, lonjakan angka depresi di kalangan muda ini bisa punya efek bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun kemudian.

Bila Anda membutuhkan informasi terkait depresi atau ingin berbicara tentang isu kesehatan mental lainnya, Anda bisa mengontak komunitas 'Into the light' untuk mendapat pendampingan lewat email (pendampingan.itl@gmail.com) atau melalui Facebook, Twitter, dan Instagram.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR