HUBUNGAN ASMARA

Genggaman tangan laki-laki prediksi prospek nikah

Ilustrasi genggaman tangan
Ilustrasi genggaman tangan | Dragon Images /Shutterstock

Genggaman tangan laki-laki bisa memprediksi prospeknya dalam urusan romansa.

Tim periset dari Columbia University’s Mailman School of Public Health dan Columbia Aging Centre, New York, Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa laki-laki dengan genggaman tangan yang kuat lebih berpotensi untuk menikah dibandingkan yang kurang kuat.

Namun, kualitas genggaman tangan tidak berpengaruh pada potensi perempuan untuk menikah atau melajang dalam waktu lama.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan secara daring pada jurnal SSM-Population Health.

Peneliti menghubungkan kekuatan genggaman pada kualitas kesehatan dan kemampuan seseorang dalam mengatasi konflik secara mandiri. Selain itu, juga bisa dikaitkan dengan kerentanan terhadap risiko terkena penyakit kardiovaskular dan kematian.

“Hasil penelitian kami mengisyaratkan bahwa perempuan lebih menyukai laki-laki yang memperlihatkan kekuatan dan semangat, terutama untuk menjadi suami,” jelas Vegard Skirbekk, PhD, seorang profesor di Columbia Aging Centre dan Columbia University’s Mailman School of Public Health.

Perempuan yang sehat memilih laki-laki yang juga memiliki vitalistas fisik serupa untuk menghindari kesenjangan dalam memberikan perawatan di hari tua. Sementara laki-laki yang kurang sehat dan tidak menikah, otomatis akan mengandalkan orang lain untuk memberikan pertolongan.

Studi yang menggunakan data populasi dari 5.009 responden dari Tromse, sebuah kota kecil di Norwegia, periset menganalisis hubungan antara kualitas genggaman tangan dengan status pernikahan.

Periset mempelajari responden dalam dua kelompok, mereka yang lahir pada tahun 1923 dan 1935 serta 1936 dan 1948.

Kemudian, mereka mempelajari hubungan status pernikahan dan kekuatan genggaman tangan ketika responden berusia 59 dan 71 tahun.

Genggaman tangan diamati lewat alat bernama Vigorimeter. Jadi, para responden diminta untuk meremas balon karet untuk mengetahui kekuatan genggaman tangan masing-masing.

Implikasi risiko kesehatan orang lanjut usia bisa dipelajari lewat genggaman tangan, seperti misalnya, penyakit jantung, fungsi mobilitas, kemampuan untuk aktif bersosialisasi, dan menikmati hidup dengan baik.

Pernikahan, menurut periset, terbukti memberikan manfaat-manfaat baik dalam kehidupan masing-masing individu yang menjalankannya.

Para periset menemukan, lebih banyak laki-laki yang belum menikah yang lahir tahun 1936 dan 1948 memiliki genggaman tangan yang lemah dibandingkan laki-laki yang lahir tahun 1923 dan 1935.

“Dalam beberapa dekade terakhir, perempuan semakin mandiri secara ekonomi. Sementara itu, jumlah laki-laki yang menggantungkan perawatan kesehatan mereka pada perempuan mengalami peningkatan,” jelasnya.

“Fakta bahwa jumlah laki-laki dengan genggaman tangan yang lemah dan masih melajang, memperlihatkan kelompok ini membutuhkan lebih banyak dukungan karena relatif kualitas kesehatan mereka kurang baik,” terangnya.

Tim periset berharap adanya kebijakan untuk memberikan bantuan atau pertolongan berupa interaksi sosial dan konseling agar kelompok laki-laki yang masih melajang tetap bisa memiliki taraf hidup yang baik.

Dukungan yang dibutuhkan, kata Skirbekk, berupa tempat tinggal, layanan kesehatan, dan bantuan finansial.

Laporan lain dalam studi yang berbeda pernah mengungkapkan bahwa hubungan jangka panjang yang harmonis mampu mengurangi pertumbuhan hormon yang menyebabkan stres.

Oleh karena itulah, kebanyakan orang yang menikah hidup lebih sehat dan bahagia.

"Pernikahan memang bisa menyebabkan stres, tetapi pernikahan bisa membuat hidup menjadi lebih mudah sehingga terhindar dari stres," terang Dario Maestripier, seorang profesor di University of Chicago jurusan perbandingan pengembangan manusia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR