Grace Natalie, diskriminasi dan Clinton yang menginspirasi

Grace Natalie Louisa di kantor Partai Solidaritas Indonesia, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Grace Natalie Louisa di kantor Partai Solidaritas Indonesia, Tanah Abang, Jakarta Pusat. | Bismo Agung /Beritagar.id

Grace Natalie Louisa (33) adalah sosok feminis, muda, dan gaya. Ia mengenakan t-shirt bermotif garis horizontal dipadu outer putih, dengan rambut panjang belah pinggir. Gambaran ala model yang biasa muncul di media.

Saat ditemui Beritagar.id, Kamis sore (19/11/2015) di kawasan Tanah Abang III, Jakarta Pusat, Grace berbagi banyak cerita. Ia bicara soal perempuan dan anak muda dalam politik. Terutama pada gagasan bahwa perempuan harus tampil membuat perubahan.

"Kita (anak muda dan perempuan) harus punya ciri khas. Mau mencoba hal baru. Menemukan solusi untuk bangsa," kata Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini.

Grace mencatatkan diri sebagai perempuan kedua yang menjabat pimpinan tertinggi partai politik, setelah Megawati Soekarnoputri (PDIP). Dia juga merupakan perempuan termuda dalam sejarah yang duduk di posisi tertinggi sebuah partai. "Tapi saya tidak berniat duduk di parlemen atau presiden," katanya.

Pengalaman sebagai jurnalis dan chief executive officer sebuah lembaga survei politik, kata dia, menjadi alasan mengapa dirinya didaulat PSI sebagai Ketua Umum.

Sebelum terjun ke politik praktis, wajah Grace malang melintang di stasiun televisi berita. Tapi siapa sangka bahwa semasa kecilnya ia adalah anak rumahan. Ia juga pernah aktif sebagai guru sekolah minggu di gereja.

Semasa kuliah, Grace kerap mengajar sebagai asisten dosen untuk sejumlah mata kuliah. "Saya itu waktu kuliah juga kalem," katanya.

Perkenalannya dengan dunia jurnalistik dimulai ketika SCTV menyelenggarakan SCTV Goes to Campus. Kompetisi yang mencari bibit muda jurnalis.

Grace ikut dan menang di tingkat ibu kota. Ketika diadu di tingkat nasional, ia masuk lima besar. Dari sinilah pintu masuk ke dunia pertelevisian mulai terbuka baginya.

Tugas pertamanya sebagai jurnalis adalah liputan kriminal. Ia keluar masuk kamar mayat dan kantor polisi. "Tengah malam berkeliaran mencari berita pembunuhan dan kebakaran sambil memantau radio polisi," kata lulusan sarjana akuntansi Institut Bisnis dan Informatika Indonesia ini.

Setelah tiga tahun bersama SCTV, Grace pindah ke ANTV. Tak lama, dia lalu bergabung dengan TV One. Grace kemudian identik dengan acara Apa Kabar Indonesia Malam di TV One. Di televisi milik Aburizal Bakrie tersebut, berbagai isu dan tokoh internasional pernah diwawancarainya.

Mulai dari Abhisit Vejjajiva (Perdana Menteri Thailand), Jose Ramos Horta (presiden Timor Leste), Steve Forbes (CEO Majalah Forbes), dan George Soros. "Termasuk tsunami Aceh pada akhir 2004, serta kerusuhan di Poso, Sulawesi Selatan," ujar perempuan berdarah Tionghoa dan Belanda ini.

Sejak memulai karier, Grace pernah mengalami diskriminasi. Seorang jurnalis media cetak senior berkata kepadanya: "Kenapa jadi jurnalis? Mendingan kamu buka toko handphone saja," tutur Grace mengulang ucapan jurnalis itu.

Ia terkejut. Di dunia jurnalistik ternyata ada sindiran rasis seperti itu. Tapi seiring jalannya waktu, Grace membuktikan, bahwa keberhasilan tidak tergantung ras, suku, maupun agama seseorang.

Selang beberapa tahun, ia bertemu dengan jurnalis diskriminatif itu. "Saat itu kapasitas saya sebagai ketua umum partai," katanya tersenyum penuh kemenangan.

Grace bilang, Ia belajar banyak tentang dampak kebijakan publik ke dunia nyata ketika dirinya menjadi jurnalis. Sehingga ia bisa melihat apa yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang baik. "Saya merasa terdorong untuk membuat perbedaan," katanya.

Grace Natalie Louisa dan perwakilan Partai Solidaritas Indonesia dari daerah.
Grace Natalie Louisa dan perwakilan Partai Solidaritas Indonesia dari daerah. | Bismo Agung /Beritagar.id

Bicara tentang membuat perubahan, Grace sangat terinspirasi oleh Hillary Clinton. Visinya dan kandidat calon presiden Amerika Serikat itu sama: menjadi politikus yang bisa memperjuangkan persamaan hak dalam segala bidang bagi kaum perempuan. "Saya mengagumi dia sebagai ibu, perempuan, dan istri," ujarnya.

Jika partai yang diketuainya diresmikan tahun depan, Grace akan jadi ketua umum partai termuda se-Indonesia. "Saya optimistis lolos verifikasi," katanya.

Sementara menunggu, Grace punya pekerjaan rumah lain yang katanya tak kalah penting; menyusutkan kelebihan bobot. Maklum, saat hamil naik 13 kilogram.

Ia bertekad mengembalikan bentuk tubuh idealnya dengan getol berolahraga. Tanpa disertai diet. "Olahraga saya saat ini muay thai," ujarnya.

Di tengah perbincangan kami, putra Grace --Kenzo Alexander Osmond-- merengek. Grace mengangkat bayi yang usianya hampir dua tahun itu. Memeluk dan menciumnya. Kata Grace, ia terbiasa membawa dan menyusui Kenzo saat bekerja. "Sambil mengikuti rapat partai, saya terkadang menyusui anak," pungkasnya.

BACA JUGA