KESEHATAN

Gunakanlah tisu basah dengan bijak

Ilustrasi menggunakan tisu basah pada kulit bayi
Ilustrasi menggunakan tisu basah pada kulit bayi | Narong Jongsirikul /Shutterstock

Sekarang ini, dibandingkan menggunakan tisu kering, banyak orang memilih tisu basah. Selain praktis, tisu basah juga menghasilkan efek membersihkan yang lebih maksimal.

Fungsi tisu basah, seiring waktu, berkembang variatif, mulai dari membersihkan wajah dari bekas riasan, mengelap mulut dan tangan anak usai makan, dan membersihkan kotoran bayi supaya cucian pakaian anak tidak menumpuk.

Namun, semua kemudahan itu ternyata punya konsekuensi apabila Anda tidak menggunakannya dengan bijak.

Beberapa waktu lalu, para ahli memperingatkan agar para orang tua mulai membatasi penggunaan tisu basah pada bayi dan anak-anak. Pun, jika menggunakan, segera bilas lagi permukaan kulit si kecil dengan air sampai bersih.

Selain itu, orang tua juga dianjurkan selalu mencuci tangan sebelum menyentuh bayi, terutama setelah memegang makanan atau menggunakan tisu basah.

Peringatan dan anjuran tersebut berdasarkan temuan studi baru yang mengungkap bahwa tisu bayi berkontribusi terhadap alergi makanan pada anak.

Studi baru yang terbit dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology itu menemukan, sejumlah faktor yang diduga bisa mengembangkan alergi. Salah satunya adalah kandungan Sodium Lauril Sulfat (SLS) dalam beberapa jenis tisu basah.

SLS merupakan bahan kimia sabun yang sering ditemukan dalam produk pembersih dan perawatan pribadi. Bila tidak segera dibilas, SLS akan memecah dan menghilangkan lapisan pelindung alami kulit yang terletak di bagian atas kulit dan terbuat dari sejenis lemak bernama lipid.

Jika lipid hilang, maka kulit bayi lebih rentan menyerap segala macam paparan alergen.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Joan Cook-Mills, seorang profesor imunologi alergi di Northwestern University Feinberg School of Medicine menjelaskan, meskipun bayi belum bisa makan sesuatu yang bersifat alergen ketika baru lahir, tetapi mereka bisa terkena alergi dari debu di rumah.

Kondisi ini bisa makin parah apabila anak-anak memiliki kecenderungan genetik menderita alergi.

Untuk studi, peneliti melakukan percobaan pada tikus neonatal (baru lahir). Bayi-bayi tikus sengaja dibesarkan dengan mutasi eksim karena para ahli dermatologi telah menyatakan bahwa dermatitis atopik atau eksim adalah penanda kuat alergi makanan.

Kulit tikus dipaparkan SLS dan alergen debu selama 40 menit. Kemudian, diberi telur atau kacang sekitar 3-4 kali dalam rentang waktu dua minggu.

Peneliti menemukan, tikus mengembangkan ruam di tempat kulit terpapar, serta anafilaksis--reaksi alergi berat. Selain itu, reaksi alergen baru terjadi pada bayi tikus setelah beberapa bulan, setara usia orang dewasa muda.

Kendati begitu, kata peneliti, satu faktor tidak bekerja sendirian untuk menciptakan alergi. Dengan kata lain, tisu basah tidak secara langsung menyebabkan alergi.

Lantas, perlukah kita mematuhi anjuran dan peringatan soal penggunaan tisu bayi tadi?

Hasil temuan ini memang terbilang masuk akal karena membuka wawasan tentang bagaimana alergi makanan dimulai sejak bayi, ahli epidemi penyakit alergi. Namun, Dr. Adrian Lowe dari University of Melbourne mengatakan, studi lebih lanjut diperlukan.

Kepada Lifehacker, sejumlah dokter ahli yang tidak terlibat studi baru menegaskan bahwa kita tidak boleh tergesa-gesa mengambil kesimpulan dari sebuah hasil studi awal yang belum diuji coba pada bayi manusia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR