KESEHATAN MENTAL

Hasil survei, tingkat stres orang Indonesia terendah di dunia

Ilustrasi suasana pasar tradisional Indonesia
Ilustrasi suasana pasar tradisional Indonesia | Andreas H /Shutterstock

Berdasarkan survei terbaru perusahaan asuransi Cigna di Indonesia bahwa Tanah Air kita menjadi salah satu negara dengan tingkat stres yang rendah di dunia.

Tingkat stres responden di Indonesia meraih skor 61 poin, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata global 61,2 poin.

Lebih rinci, sebagaimana diwartakan CNN Indonesia, laporan Cigna Indonesia mengungkap bahwa hanya 75 persen orang Indonesia yang mengaku menderita stres. Angka itu masih di bawah rata-rata 86 persen responden global yang mengaku stres, apalagi 91 persen orang Thailand dan Singapura yang menyatakan hal serupa.

“Tingkat stres ini merupakan tingkat stres terendah dari seluruh negara yang disurvei,” ujar CEO Cigna Indonesia, Herlin Sutanto, dinukil Jawapos.com.

Survei ini pun menyebutkan bahwa kebanyakan orang Indonesia punya solusi meredakan tekanan yang mereka rasakan. Orang-orang Indonesia yang mengaku stres merasa lebih baik setelah mengeluhkan keadaannya pada teman atau keluarga.

Bahkan, Indonesia—beserta Thailand—tercatat sebagai negara yang paling “siap” menghadapi penuaan alias tidak memusingkan persoalan masa tua, baik secara pribadi maupun finansial.

Sebanyak 44 persen responden di Indonesia memiliki harapan terbesar bahwa mereka tak perlu takut menua, apalagi mengkhawatirkan penurunan mobilitas dan lingkaran sosial karena mereka yakin keluarga seperti anak-anaknya bersedia mengurus atau mendukung mereka di usia lanjut, ketimbang menerima bantuan dari layanan profesional.

“Jumlah itu jauh di atas rata-rata global yang sebesar 22 persen,” jelas Herlin.

"Namun, tanpa perencanaan keuangan yang baik, optimisme ini bisa menghasilkan risiko di kemudian hari. Ekspektasi mereka tentang kesiapan hari tua, bisa saja mengecewakan mereka di masa depan," urainya.

Terlebih lagi, Ben Furneaux, Director dan Chief Marketing Officer Cigna Indonesia, menyebut skor stres Indonesia yang di bawah rata-rata itu bukan berarti membuat kita boleh menyepelekan perkara stres.

Berdasarkan survei, ia mengungkap bahwa kondisi keuangan dan pekerjaan merupakan aspek utama pemicu stres di Indonesia. Kontribusi pemicu stresnya mencapai 39 persen.

Beberapa penyebabnya, lanjut Ben dikutip Bisnis.com, lantaran “Hubungan yang buruk dengan atasan dalam pekerjaan dan ketidakmampuan untuk mengurus kebutuhan, kesehatan dan kesejahteraan orang tua.”

Memang, melansir rilis resmi Cigna, survei bertajuk Cigna 360° ini menyoroti meningkatnya kebutuhan untuk mampu mengelola stres, terutama di tempat kerja.

Presiden Cigna International Markets, Jason Sadler, mengatakan bahwa di satu sisi masyarakat sekarang ini menunjukkan peningkatan kesadaran tentang persiapan hidup di masa depan agar bisa terus aktif dan mandiri secara finansial.

Namun, akibatnya, orang-orang menjadi terpicu bekerja lebih keras dan berpotensi terserang stres lebih tinggi sehingga mereka butuh bantuan.

Bahkan, meskipun seluruh negara tercatat lebih stabil dan beranggapan positif dalam hal finansial dibanding tahun-tahun sebelumnya, survei itu justru mengungkap adanya peningkatan kekhawatiran soal kesejahteraan sosial dan fisik.

Kesejahteraan sosial mengacu pada orang-orang yang bekerja lebih keras dengan mengorbankan waktu berkualitasnya untuk bersosialisasi atau menjalankan hobi. Sementara kesejahteraan fisik sangat memengaruhi kualitas tidur, berat badan, dan diet seimbang.

Sebagai informasi, Cigna 360° merupakan survei kesejahteraan yang diluncurkan pertama kali pada tahun 2014 dengan tujuan mengeksplorasi persepsi dan kekhawatiran masyarakat tentang tingkat kesejahteraan.

Survei itu mencakup lima aspek utama, yaitu kesejahteraan fisik, keluarga, sosial, keuangan dan pekerjaan.

Khusus tahun 2018, Cigna mengadakan survei kesejahteraan global terbesar yang telah ditelusuri selama empat tahun dengan melibatkan hampir 14.500 responden di 23 negara.

Secara menyeluruh hasilnya positif. Tiap negara menunjukkan penurunan tingkat stres sebesar 1,1 poin pada indeks atau skor gabungan dari kelima aspek dibanding tahun sebelumnya.

Setelah dipilah, pengecualian hanya terjadi di Singapura yang menunjukkan skor bertahan 59,5. Sementara Thailand tercatat mengalami penurunan tingkat stres paling tinggi sebesar 3,9 poin, kabar tak sedap menimpa India.

Negara itu tetap bercokol di peringkat pertama negara paling stres di dunia dengan skor 70,4 poin, meskipun menunjukkan penurunan stres terbesar kedua,

Secara kolektif, selain yang telah disebutkan di atas, Sekitar 15 persen pekerja mengatakan tidak mampu mengelola stres, dan kaum milenial adalah yang paling rentan.

Alhasil, menurut survei ini, mereka yang kesulitan mengelola stres jadi kurang sehat secara fisik, kurang bergaul, serta lebih mungkin mencari bantuan profesional dan diberi resep obat.

Oleh karenanya, selain mempersiapkan finansial untuk hari tua seperti menabung dan mengikuti asuransi, sangat penting mengetahui cara terbaik mengelola stres. Salah satu yang sederhana sekaligus terbukti efektif adalah dengan berolahraga ringan dan teratur seperti berjalan, berlari atau bersepeda, juga bermeditasi untuk melatih pikiran bebas gangguan.

BACA JUGA