HUBUNGAN SOSIAL

Hentikan stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa

Ilustrasi orang dengan gangguan kejiwaan
Ilustrasi orang dengan gangguan kejiwaan | Chinnapong /Shutterstock

Pernahkah Anda bertemu atau melihat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) lalu menyebutnya dengan istilah orang gila? Sikap yang demikian merupakan salah satu contoh stigma terhadap ODGJ.

Stigma telah menyebabkan ODGJ merasa malu, menyalahkan diri sendiri, putus asa, dan enggan mencari atau menerima bantuan.

Sekitar 75% orang dengan penyakit mental melaporkan bahwa mereka telah mengalami stigma. Bukan hanya itu, perlakuan diskriminatif juga diterima oleh ODGJ.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Health and Social Behavior, 38 persen orang tidak ingin tinggal di sebelah ODGJ, 33% tidak ingin berteman dengan seseorang yang hidup dengan masalah kejiwaan. 58% tidak mau bekerja sama dengan mereka, dan 68% tidak ingin penderita gangguan jiwa menikah dengan keluarga mereka.

Setiap tanggal 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Untuk itu, mari kita bersama-sama menghentikan stigma dan diskriminasi pada orang-orang yang memiliki gangguan kejiwaan agar mereka pun bisa hidup layak dan tidak merasa berbeda.

Stop stigma dan diskriminasi

Anda mungkin bisa dengan mudah mengatakan ODGJ sebagai orang gila.

Namun, menurut psikolog klinis, Tara de Thouars, stigma ini terlalu ekstrem dan menghakimi, sehingga membuat mereka yang punya masalah atau stres takut mendapatkan penghakiman seperti itu.

"Untuk menghentikan stigma, masing-masing orang harus menyadari bahwa setiap orang punya kemungkinan untuk menjadi ODGJ. Ini karena setiap orang tidak bisa menghindar dari stres dan tekanan hidup," kata Tara lewat pesan singkat kepada Beritagar.id, Selasa (9/10/2018).

Setiap orang sebenarnya memiliki kemampuan untuk membantu mengurangi stigma dan mendorong toleransi.

Anda dapat mendukung ODGJ dengan cara sederhana, misalnya, mendukung orang-orang gangguan kejiwaan dan keluarga mereka dengan mengurangi diskriminasi.

Cara sederhana untuk membantu termasuk belajar dan berbagi fakta tentang kesehatan mental.

Lalu, untuk menghapus stigma, Anda juga sebaiknya tidak melabeli atau menghakimi orang dengan penyakit mental. Caranya, perlakuan mereka dengan hormat, seperti Anda melakukannya pada orang lain.

Bila Anda pernah mengalami gangguan kejiwaan, bicarakanlah soal pengalaman tersebut. Semakin banyak penyakit mental yang tersembunyi, semakin banyak orang terus percaya bahwa itu memalukan dan perlu disembunyikan.

Jangan ragu minta bantuan

Sebenarnya, siapa saja bisa berisiko mengalami gangguan kejiwaan. Sebab, stres, sebagai salah satu faktor penyebab gangguan kejiwaan, hadir dalam kehidupan setiap orang.

"Mencegah diri sendiri dari gangguan kejiwaan seperti berusaha untuk bebas dari stres. Ini bukan hal yang mudah," imbuhnya.

"Anda perlu untuk belajar berpikir positif dan mencari lingkungan yang suportif dan selalu mendukung. Anda juga bisa mencari kegiatan yang bermanfaat sehingga selalu merasa termotivasi dan berharga," lanjutnya.

Saran Tara, bila Anda mengalami gangguan kejiwaan, penting untuk tidak menunda konsultasi pada ahli sebelum masalah menjadi semakin buruk dan sulit ditangani. Tak perlu merasa malu atau takut untuk berkonsultasi dengan psikolog demi kesehatan mental pribadi.

Tara mengatakan bahwa jika dibandingkan 10 tahun lalu, sekarang pikiran masyarakat sudah semakin terbuka. Banyak anak remaja yang datang sendiri untuk konsultasi mengenai masalahnya.

"Banyak juga orang tua yang membuka diri akan kemungkinan anaknya mengalami masalah kejiwaan. Namun, masih ada juga yang konsultasi diam-dia karena takut dengan stigma."

Seseorang yang mulai merasa stres, pikiran dan emosi terganggu, dan sudah merasa tidak bisa menemukan solusi sendiri, sebaiknya segera ke psikolog.

Biasanya psikolog akan memulai dengan menanyakan apa yang mengganggu dan apa yang bisa dibantu. Psikolog juga akan menanyakan harapan dari kedatangannya untuk konsultasi.

"Tujuan psikolog adalah melihat dan mengetahui masalah yang saat ini mengganggu dan juga kemungkinan adanya masalah lain yang berkontribusi pada masalah saat ini. Sehingga ada kemungkinan akan menanyakan masalahnya lebih detail," tutur psikolog lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Tip untuk berkonsultasi ke psikolog adalah terbuka dan tidak menutupi apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang dirasakan.

Jadilah diri sendiri ketika bicara dengan psikolog agar mereka dapat melihat masalah secara lebih luas karena tujuannya bukan untuk menghakimi atau menasehati, tetapi untuk memahami lebih jauh permasalahannya.

"Jika diperlukan, psikolog akan melakukan tes psikologi untuk mendapatkan gambaran lebih detail dan akan melakukan terapi yang sesuai untuk mengatasi masalah kliennya," tutupnya.

Bila masih ragu mengunjungi psikolog secara tatap muka, Anda juga bisa memanfaatkan jasa konseling daring yang dibuka oleh Sehat Mental Indonesia melalui Line di @konseling.online dan Pijar Psikologi melalui situs pijarpsikologi.org.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR