HUBUNGAN SOSIAL

Hidup di kota membuat orang jadi kasar

Ilustrasi sikap kasar.
Ilustrasi sikap kasar. | KieferPix /Shutterstock

Hidup di kota besar di antara orang asing dapat membuat orang dengan cepat menihilkan kecenderungan mereka bermurah hati dan bersikap adil kepada orang lain. Terutama ketika perilaku kooperatif seperti itu tidak secara langsung menguntungkan mereka.

Peneliti dari University of Miami di AS menunjukkan bahwa meskipun manusia telah sejak lama belajar secara naluriah bersikap dermawan dan adil kepada orang lain, mereka dapat dengan cepat melupakan perilaku kooperatif ketika menghadapi orang asing.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Human Behavior ini mendukung teori bahwa jiwa kooperatif manusia yang mendarah daging merupakan sisa dari masa lalu evolusi.

Para peneliti memperlihatkan hal ini dengan memaparkan 200 relawan pada lingkungan sosial tanpa insentif atau hukuman apa pun atas cara mereka memperlakukan orang lain. Peneliti kemudian mengamati bagaimana perilaku mereka berubah dari waktu ke waktu.

Peserta diminta mencoba permainan yang mengharuskan mereka membuat keputusan investasi uang dan berbagi dengan orang lain. Relawan datang ke laboratorium dalam kelompok-kelompok kecil, dalam dua kesempatan terpisah setiap bulan dan diminta untuk bermain bersama.

Masing-masing peserta duduk di konsol untuk permainan. Tetapi mereka yang duduk dengan headphone memilih untuk tidak berbicara dan membuat keputusan secara pribadi.

Selama babak pertama, para peserta berperilaku dapat diprediksi. Mereka membagi rezeki tak terduga dengan orang asing dan berbagi separuh pendapatan mereka untuk amal.

Namun, pada kunjungan berikutnya sekitar sebulan kemudian, mereka tidak lagi bermurah hati, dan mau berbagi. Tingkat kerelaan mereka rata-rata 20 persen lebih sedikit.

Anonimitas yang diberikan kepada para peserta melalui kelompok-kelompok dan headphone membuat mereka cenderung enggan berbagi.

Para peneliti mengklaim bukti mereka mendukung teori bahwa jiwa kooperatif manusia yang sudah mendarah daging merupakan sisa dari masa lalu evolusi.

Dengan hidup dalam kelompok yang lebih kecil, manusia mengenal semua orang dalam lingkaran sosial mereka dan mengotomatisasi bantuan acak sebagai bentuk kepentingan diri sendiri.

Begitu lingkaran sosial berkembang pesat dan diisi orang asing, kepentingan pribadi seseorang dengan cepat beralih ke bentuk keegoisan.

Penulis utama studi, seorang kandidat Ph.D. William McAuliffe, dan Profesor Michael McCullough bekerja sama dalam penelitian ini.

Prof McCullough, direktur laboratorium di College of Arts and Sciences Department of Psychology, mengatakan, “Kita sebenarnya masih menerapkan pola pikir zaman batu. Pikiran kita masih memikirkan bagaimana perlakuan terhadap setiap orang yang kita temui dapat memiliki konsekuensi bahwa setiap orang yang kita temui dan yang bermaksud baik atau tidak entah bagaimana akan membalas perbuatan kita."

Lanjut McCullough, “Kita memiliki karma alami dalam diri karena pikiran kita telah berevolusi, berpikir apa yang terjadi terjadilah.”

Jalan pintas kognitif yang dibangun di otak dapat dengan mudah dimatikan jika tidak ada balasan segera baik positif atau negatif. Para peneliti menunjukkan ini dengan mengekspos relawan pada lingkungan sosial tanpa insentif atau hukuman apa pun.

McAuliffe mengatakan, “Setelah menyesuaikan diri dengan situasi tersebut, mereka menyadari ini sangat berbeda dari situasi yang mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sambungnya, “Mereka menyadari, 'Apa yang saya lakukan tidak terlalu penting, tidak memiliki konsekuensi sosial - tidak ada yang akan memuji jika saya bersikap murah hati.

“Jadi, ketika mereka kembali, mereka tidak mengambil tindakan pada jalan pintas kognitif karena mereka telah belajar bahwa aturan yang sama tidak berlaku.”

Prof McCullough mengklaim bahwa penelitian ini dapat menjelaskan mengapa penduduk kota punya reputasi lebih tergesa-gesa dan kurang ramah terhadap orang asing.

"Saya pikir apa yang diungkapkan studi ini bukanlah bahwa kemurahan hati terhadap orang asing adalah bagian dari manusia yang telah berevolusi, tetapi sebaliknya kita berevolusi di dunia yang sebenarnya tidak ada orang asing.

Orang kota bisa bersikap acuh saat bersikap kasar kepada orang asing karena yakin mereka tidak akan bertemu lagi. Situasinya berbeda di kota-kota kecil, di mana semua orang saling mengenal.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR