Hubungan dengan mantan dan kejiwaan

Ada alasan ilmiah mengapa ada orang yang berteman dengan mantan pasangan.
Ada alasan ilmiah mengapa ada orang yang berteman dengan mantan pasangan. | Pathdoc /Shutterstock

Apakah mantan pasangan masih menghubungi Anda? Atau Anda yang berinisiatif menjaga hubungan dengan mantan? Misalnya berinteraksi di media sosial, berkirim pesan, dan aktivitas berteman lain. Jika ya, bisa jadi itu adalah ciri psikopat.

Huffington Post melansir ada alasan ilmiah mengapa sebagian orang menjaga hubungan baik dengan mantan pasangan, yang tak lain adalah tipe kepribadian mereka.

Menurut riset terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Personality and Individual Differences, orang dengan kepribadian kelam--seperti psikopati dan narsisisme--cenderung mencari keuntungan dari hubungan yang sudah lama kandas.

Mantan pasangan yang masih berteman kebanyakan menjaga hubungan bukan karena alasan sentimental, atau rasa kedekatan dengan mantan pasangan. Kesimpulan ini dicapai oleh periset Justin Mogilski dan Lisa Welling dari Oakland University setelah mereka menganalisa jawaban dari 860 orang.

Partisipan riset diminta menyebutkan alasan masih menjaga kontak dengan mantan pasangan. Alasan tersebut lalu diurutkan sesuai prioritas mereka. Mogilski dan Welling juga memberi tes yang mengukur ciri-ciri kepribadian kelam tersebut.

Riset sebelumnya menunjukkan orang yang memiliki skor tinggi atas sifat kelam, lebih cenderung memilih teman atas alasan strategis. Itu mengapa, Mogilski dan Welling ingin melihat apakah hal yang sama juga berlaku bagi mantan pasangan.

Alasan paling umum orang mau berteman dengan mantan melibatkan rasa aman dan nilai sentimental yang diberikan sebuah hubungan. Namun anehnya, periset menemukan, subjek yang berkepribadian kelam cenderung menjaga hubungan dengan mantan pasangan atas alasan praktis dan seksual.

Medical Daily melansir riset pada 2010 yang menjelaskan sikap itu. Secara signifikan, mereka yang berkomitmen dalam sebuah hubungan cenderung tidak mengalami masalah kesehatan mental daripada mereka yang jomlo.

Sementara mereka yang terlibat hubungan tak serius, memiliki banyak pasangan seks cenderung rentan terhadap masalah kesehatan mental dan fisik.

Dikutip Broadly, pakar narsisisme Dr. Tony Ferretti mengonfirmasi hasil riset Mogilski dan Welling. "Orang narsis benci kegagalan atau kekalahan, jadi mereka akan berusaha sebisa mungkin untuk menjaga hubungan jika bukan mereka yang memilih untuk mengakhiri hubungan," papar Ferretti.

Kata Ferretti, mereka dapat mengalami cedera narsisisme saat ditolak oleh pasangannya, dan mengalami kesulitan melepaskan atau menyembuhkan diri darinya. Bagi banyak orang, hubungan romantis penting untuk kesehatan psikologis.

"Orang yang memiliki hubungan dalam, dekat, sehat, dan intim cenderung lebih bahagia," Ferretti berujar. Dengan segala keuntungan tersebut, tidak mengejutkan jika sebagian orang ingin tetap dekat dengan mantan pasangan mereka.

Namun para narsis fokus pada keuntungan dan motivasi lain saat masih bergantung pada hubungan yang telah kandas. "Mereka mungkin menjaga hubungan dengan mantan demi akses ke sumber daya berharga," Ferretti memaparkan.

Dengan demikian mereka bisa mendapatkan informasi tentang kelemahan mantan. Kondisi mantan itu kemudian bisa mereka eksploitasi dan manipulasi, hal ini membuat mereka merasa memiliki kekuatan dan kontrol.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR