KESEHATAN

Obesitas juga bisa dipicu tingkat penghasilan

Ilustrasi penderita obesitas
Ilustrasi penderita obesitas | Amani A /Shutterstock

Selain pola makan, obesitas juga bisa dipicu dengan tingkat penghasilan seseorang.

Obesitas adalah penumpukan lemak yang sangat tinggi dalam tubuh sehingga membuat berat badan melebihi batas ideal. Kurang gerak dan malas berolahraga menjadikan obesitas semakin sulit dibendung. Alhasil, penderitanya pun bisa mengidap sejumlah penyakit serius yang mengancam hidup.

Lebih kurang satu abad yang lalu, obesitas masih dipandang sebagai fenomena langka di sejumlah negara di dunia.

Namun, semenjak 30 tahun terakhir, jumlah kasus obesitas terus meningkat. Bahkan, Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus obesitas dan diabetes yang meroket semenjak tahun 1990 silam.

Peneliti dari University of Tennesse, Alexander Bentley, menjelaskan bahwa kenaikan kasus obesitas justru paling banyak terjadi di kawasan miskin di AS.

Dia membeberkannya dalam sebuah penelitian yang dirilis oleh jurnal Paglrave Communications.

Para ahli menggambarkan peningkatan penderita obesitas ini sebagai perubahan paling cepat yang pernah terjadi dalam sejarah fisiologi manusia di AS.

Hanya seabad yang lalu, obesitas adalah fenomena yang hampir tidak diketahui oleh warga AS dan negara-negara maju lainnya.

Dalam penelitian, Bentley dan kolega menganalisis data yang disediakan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. Data ini dikompilasi dari sekitar 3000 warga AS.

Para peneliti juga memanfaatkan data yang dikumpulkan oleh proyek Atlas Penelitian Akses Makanan yang mendokumentasikan akses seseorang terhadap kendaraan, jarak antar-supermarket, dan lokasi rumah.

Analisis menunjukkan bahwa pada tahun 1990, tingkat penderita obesitas di AS hanya sepertiga dari jumlah sekarang.

Pada periode tersebut tidak memperlihatkan hubungan antara pendapatan dan obesitas.

“Data sekarang menunjukkan tren yang tidak terlihat pada tahun 1990. Pada 2015 situasinya sedemikian rupa sehingga anggota rumah tangga berpenghasilan rendah memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk menderita obesitas dan diabetes,” jelas Bentley.

Bentley dan rekan-rekannya berspekulasi bahwa kemudahan akses warga berpenghasilan rendah pada bahan makanan yang mengandung sirup jagung fruktosa tinggi telah mendorong tingkat penderita kelebihan berat badan.

Menurut dia, pada masa lalu, diet kebanyakan orang di AS mengandung sedikit gula dan tidak ada karbohidrat olahan.

"Waktunya sugestif dengan generasi muda Amerika yang sekarang mengonsumsi sirup jagung fruktosa tinggi dalam bahan pangan yang memprediksi peningkatan serupa terhadap potensi obesitas saat mereka menjadi dewasa," catatnya.

Jika di AS peningkatan obesitas terjadi dalam keluarga dengan penghasilan rendah, hal menarik terjadi di Indonesia.

Peningkatan obesitas di Indonesia justru terjadi di wilayah yang memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tergolong tinggi.

IPM merupakan indeks yang mengaitkan antara keberhasilan pemerintah dalam membangun kualitas hidup penduduk di ragam sektor penting.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis penduduk pada provinsi dengan IPM sangat tinggi dan tinggi lebih banyak yang menderita obesitas, salah satunya adalah DKI Jakarta.

Nila F Moeloek, Menteri Kesehatan, berujar pada Hari Kesehatan Nasional bahwa Indonesia mengalami beban ganda, yakni masalah kekurangan gizi, stunting, dan obesitas.

"Indonesia mengalami beban ganda atau double problem of nutrition problem. Di satu sisi, kita mengalami masalah gizi kurang, pendek, stunting, tetapi di sisi lain kita juga dihadapkan pada masalah kelebihan nutrisi, yakni masalah obesitas dan kegemukan," kata Nila.

Dia menambahkan, masalah kegemukan atau obesitas yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia terjadi karena kurangnya kesadaran akan pola hidup sehat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR