KESEHATAN LAKI-LAKI

Ibuprofen bisa picu kemandulan laki-laki

Ilustrasi ibuprofen.
Ilustrasi ibuprofen. | Shutterstock /Isak55

Selain parasetamol, ibuprofen--obat untuk mengurangi rasa sakit, nyeri maupun menurunkan demam--dapat diperoleh dengan mudah tanpa resep dokter. Namun, Anda tidak dapat mengabaikan dampak yang dapat ditimbulkan.

Mengutip Drugs.com, parasetamol atau acetaminophen merupakan pereda nyeri dan demam, yang biasa digunakan untuk mengurangi sakit kepala, sakit gigi, dan demam, tetapi tidak mempengaruhi peradangan yang mendasarinya.

Sementara ibuprofen merupakan obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) yang bekerja dengan mengurangi hormon penyebab radang dan nyeri di tubuh.

Biasanya ibuprofen digunakan untuk mengurangi demam dan mengobati rasa sakit atau pembengkakan yang disebabkan oleh banyak kondisi, seperti demam, sakit kepala, sakit gigi, sakit punggung, artritis, kram menstruasi maupun luka ringan.

WebMD menyebutkan bahwa penggunaan ibuprofen diketahui dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan strok, jika sering dikonsumsi untuk waktu yang lama.

Obat ini juga dikaitkan dengan masalah kesuburan pada perempuan dan keselamatan janin. National Institutes of Health menambahkan bahwa obat ini juga dapat menyebabkan maag serta masalah pencernaan lain bagi sebagian orang.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada Senin (8/1/18) yang lalu menyebutkan bahwa ternyata ibuprofen juga dapat menyebabkan efek yang negatif terhadap testis para lelaki. Dilansir Time.com, penggunaan obat pereda nyeri itu secara teratur dapat menyebabkan kemandulan bagi laki-laki.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences ini menemukan bahwa penggunaan ibuprofen secara teratur dan sering dapat menyebabkan kondisi klinis yang disebut dengan "compensated hypogadism", atau suatu kondisi yang lazim terjadi di kalangan laki-laki yang berusia lanjut, dan terkait dengan gangguan reproduksi dan fisik.

Misalnya infertilitas, disfungsi ereksi, depresi, hilangnya massa tulang dan otot, serta beberapa gejala lainnya. Selain pada laki-laki yang berusia lanjut, keadaan ini sering terlihat pada perokok. Penelitian terbaru ini menunjukkan hal tersebut juga dapat memengaruhi remaja putra.

Menurut salah seorang anggota tim peneliti, Bernard Jegou, penelitian terbaru ini merupakan kelanjutan dari penelitian terhadap perempuan hamil.

Kepada CNN.com, Jegou yang juga merupakan direktur dari Institute of Research in Environmental and Occupational Health di Prancis mengatakan bahwa tim peneliti dari Prancis dan Denmark telah melakukan penelitian tentang efek kesehatan jika calon ibu mengonsumsi salah satu dari tiga pereda rasa sakit yang dapat dengan mudah diperoleh, seperti aspirin, parasetamol atau asetaminofen dan ibuprofen.

Penelitian awal mereka yang dipublikasikan dalam US National Library of Medicine menunjukkan bahwa ketika dikonsumsi selama kehamilan, ketiga obat yang tergolong ringan ini ternyata mempengaruhi testis pada bayi laki-laki.

Menurut ilmuwan senior di Departemen Neurologi di Copenhagen University Hospital, David M. Kristensen yang juga salah satu peneliti ini, ketiga obat ini kemudian disebut sebagai "anti-androgenik", yang berarti dapat mengganggu hormon laki-laki, dan meningkatkan kemungkinan bahwa bayi laki-laki tersebut akan dilahirkan dengan malformasi bawaan.

Testis merupakan organ utama yang bukan hanya sekadar menghasilkan sperma, tetapi juga hormon testosteron atau hormon seks pada laki-laki.

Hal inilah yang mengharuskan agar ibu hamil dan menyusui harus selalu berkonsultasi pada dokter sebelum menggunakan obat-obatan.

Berdasarkan hasil penelitian ini, para ahli bertanya-tanya apa efek yang akan terjadi terhadap orang dewasa. Mereka lalu memfokuskan penelitian mereka pada ibuprofen, yang ternyata memiliki efek terkuat.

Penelitian ini melibatkan 31 sukarelawan berjenis kelamin laki-laki, yang berusia antara 18 sampai 35 tahun. 14 orang di antaranya diberi ibuprofen dengan dosis 600 miligram yang diberikan dua kali sehari.

Dosis 1.200 miligram per hari merupakan batas maksimal yang ditetapkan oleh label produk ibuprofen generik, dan jumlah tersebut digunakan oleh para atlet untuk mengatasi rasa sakit. Sementara 17 orang lainnya diberikan pil plasebo.

Selama penelitian berlangsung, kedua kelompok tersebut melakukan tes darah dan hormon.

Hasilnya, setelah 14 hari, mereka yang menggunakan ibuprofen cenderung mengindikasikan adanya masalah pada testis, termasuk keadaan yang disebut dengan compensated hypogonadism yang mempengaruhi kesehatan reproduksi. Hal ini dapat berarti mereka tidak dapat menjadi seorang ayah.

Para peneliti menemukan hormon luteinizing pada laki-laki yang menggunakan ibuprofen menjadi terkoordinasi dengan tingkat ibuprofen yang beredar di dalam darah. Di saat yang bersamaan, rasio hormon testoteron terhadap luteinizing menurun, inilah yang menjadi tanda-tanda disfungsional testis.

Hormon luteinizing merupakan hormon yang mengatur fungsi reproduksi, baik pada laki-laki maupun perempuan. Pada laki-laki, hormon yang terletak di kelenjar pituiari ini bertugas memastikan produksi testosteron yang memadai.

Para peneliti juga mendapati bahwa mengonsumsi konsumsi ibuprofen selama 44 hari konsekuensi hipogonadisme yang luas. Jegou menambahkan bahwa untuk penggunaan yang singkat efek negatif itu dapat diperbaiki, akan tetapi untuk penggunaan jangka panjang belum diketahui apakah efek negatif itu dapat diperbaiki.

Sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan jawaban apakah efek dari pemakaian jangka panjang dapat diperbaiki.

Di pasaran, kita dapat menemukan Panadol, Bisolvon atau Tempra sebagai beberapa merek obat yang mengandung parasetamol. Sementara ibuprofen terdapat pada merek Proris, Advil, Neo Rheumacyl Neuro dan sebagainya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR