KEHAMILAN

Induksi mengurangi risiko operasi sesar

Ilustrasi ibu hamil.
Ilustrasi ibu hamil. | Tanatat /Shutterstock

Operasi sesar punya risiko kesehatan bagi ibu dan bayi. Para ilmuwan telah menemukan cara memperbesar kemungkinan untuk melahirkan secara alami, yakni dengan induksi.

Bertentangan dengan pemikiran para dokter sebelumnya, perempuan yang memilih untuk melakukan induksi persalinan pada minggu ke-39 kehamilan justru tidak berisiko harus menjalani operasi sesar.

Faktanya, penelitian menunjukkan, para perempuan ini cenderung tidak memerlukan operasi sesar daripada perempuan yang membiarkan proses persalinan berjalan secara alami. Selain itu, tidak ada bukti induksi persalinan memiliki risiko tambahan bagi bayi mereka.

Temuan yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine ini dapat menjadikan induksi persalinan elektif sebagai pilihan bagi lebih banyak perempuan.

Induksi elektif - dilakukan untuk alasan pribadi dan bukan yang medis - telah menjadi lebih umum di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir, menurut Institut Kesehatan Nasional AS.

Bagaimanapun, selama ini sikap tenaga medis profesional cenderung menentang prosedur ini. Sebab praktik induksi dikhawatirkan gagal, lalu dibutuhkan operasi sesar darurat. Belum lagi jika terjadi komplikasi persalinan lain.

"Studi ini memberikan jaminan bahwa induksi tidak akan meningkatkan risiko komplikasi operasi sesar atau terhadap bayi yang baru lahir," kata Dr. Michael Greene, kepala kebidanan di Massachusetts General Hospital, di Boston, Amerika Serikat.

Pun demikian, bukan berarti induksi elektif pada usia kehamilan minggu ke-39 adalah sesuatu yang harus dilakukan. "Saya rasa kesimpulan studi ini bukannya kita harus merekomendasikan dan mendorong induksi pada usia kehamilan 39 minggu," ujar Dr. Errol Norwitz, ketua kebidanan dan ginekologi di Tufts University School of Medicine, dinukil The Washington Post.

Namun, menurut Dr. Norwitz--yang tidak terlibat dalam penelitian ini--jika ada pasien yang datang mengutarakan keinginannya untuk diinduksi, maka dokter perlu memberikan informasi yang sebenarnya.

Senada dengan Norwitz, Dr. Greene mengonfirmasi temuan ini bisa jadi bekal informasi yang lebih baik bagi ibu hamil yang tertarik pada pilihan induksi. Peneliti utama Dr. William Grobman, mengamini pernyataan Dr. Greene.

Katanya, melahirkan adalah pengalaman yang sangat pribadi. "Perempuan harus mendapatkan informasi yang akurat tentang manfaat dan risiko dari berbagai pilihan persalinan, sehingga mereka dapat membuat pilihan berdasarkan informasi tersebut," jelas Dr. Grobman, dokter kandungan di Northwestern University, di Chicago.

Usia kehamilan pada umumnya berlangsung sekitar 40 minggu, dan bayi yang lahir pada minggu ke-39 dianggap sudah cukup umur. Tetapi induksi elektif pada usia kehamilan ini telah menjadi kontroversi, kecuali dalam keadaan khusus, seperti ketika seorang ibu tinggal jauh dari rumah sakit.

Namun, Dr. Grobman mengatakan, kekhawatiran tentang induksi yang mendorong tingkat operasi sesar selama ini didasarkan pada studi yang cacat.

Mereka membandingkan perempuan yang menjalani induksi persalinan dengan perempuan yang melakukan persalinan spontan pada usia kehamilan yang sama. Hasilnya, mereka menemukan bahwa operasi sesar lebih umum terjadi pada kelompok ibu yang diinduksi.

Akan tetapi itu bukan perbandingan yang realistis. "Tidak ada jaminan bayi akan lahir pada hari yang sama jika mereka memilih induksi," kata Dr. Grobman.

Untuk penelitian ini, para ilmuwan merekrut lebih dari 6.100 ibu hamil dari 41 rumah sakit di AS. Semuanya adalah perempuan sehat yang baru pertama kali hamil.

Para perempuan ini secara acak diminta untuk menjalani induksi pada minggu ke-39, atau membiarkan persalinan terjadi secara alami.

Perempuan dan dokter kandungan mereka memilih metode induksi. Secara umum, hal ini dilakukan baik dengan memecahkan kantung amnion atau dengan obat-obatan hormonal yang memicu persalinan.

Pada akhirnya, tingkat operasi sesar kurang dari 19 persen pada kelompok induksi. Sementara pada kelompok persalinan alami, angkanya 22 persen.

Para peneliti juga melihat komplikasi pada bayi yang baru lahir, seperti masalah pernapasan, kejang, dan cedera dalam persalinan. Angkanya hanya empat persen pada kelompok induksi, dan lima persen pada kelompok pembanding.

Dr. Greene berspekulasi soal mengapa induksi mengurangi tingkat operasi sesar. Setelah kehamilan mencapai waktu cukup, kemungkinan dibutuhkannya operasi sesar meningkat seiring bertambahnya hari.

Fungsi plasenta cenderung menurun, dan ketika seorang perempuan melakukan persalinan, bisa ada masalah dengan pasokan oksigen bayi. Alhasil dokter mungkin akan melakukan operasi sesar.

Selain itu, induksi persalinan mungkin disarankan setelah seorang perempuan belum juga melahirkan seminggu setelah hari perkiraan lahirnya.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, kelahiran "post-term"--usia kehamilan lebih dari 42 minggu membuat risiko cedera kelahiran sedikit lebih tinggi bagi ibu dan bayi.

Sementara menurut Dr. Greene, perempuan yang mengalami persalinan dengan induksi pada minggu ke-39 tidak menghadapi risiko pasca-persalinan.

Dr. Grobman menegaskan poin penting, jika perempuan mempertimbangkan induksi elektif, mereka harus punya kepastian hari perkiraan lahir. Percobaan penelitian ini hanya melibatkan perempuan yang tahu pasti tanggal menstruasi terakhir mereka, dan atau memiliki hasil USG yang dapat diandalkan dari trimester pertama atau kedua.

"Ini seharusnya hanya menjadi pilihan bagi perempuan yang benar-benar punya informasi usia kehamilan yang dapat diandalkan," tegas Dr. Grobman.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR