PENCEMARAN LINGKUNGAN

Ingin udara segar, pergilah ke Maluku Utara

Kualitas udara buruk di perkotaan
Kualitas udara buruk di perkotaan | Tom Wang /Shutterstock

Kualitas udara buruk tengah menjadi masalah di seluruh dunia. Udara yang kita hirup setiap saat kini tercemar dan ini berdampak pada kesehatan.

Di Indonesia, provinsi dengan kualitas udara terbaik ada pada selembar uang kertas Rp1.000. Di lembaran uang berwarna biru itu, terdapat gambar Pulau Tidor dan Pulau Maitara. Keduanya ada di Maluku Utara.

Tak mengherankan jika provinsi yang memiliki ibu kota Sofifi ini punya kualitas udara terbaik. Maluku Utara memiliki area-area yang belum terjamah manusia.

Banyak di antaranya menjadi objek wisata memesona. Provinsi ini juga menduduki peringkat 10 Endemic Bird Area terpenting dunia.

Kualitas udara yang mumpuni bisa berdampak baik pada kesehatan warganya. Terbukti sebanyak 84 persen penduduk Maluku Utara tidak punya keluhan kesehatan.

Seperti halnya 79,2 persen penduduk Papua Barat--provinsi dengan kualitas udara terbaik ketiga--sepanjang 2017. Selain kedua provinsi tersebut, Kalimantan Utara, Kepulauan Riau, dan Bangka Belitung juga masuk daftar belahan negeri yang punya udara bersih.

Keluhan kesehatan yang dimaksud dalam hal ini adalah gangguan terhadap kondisi fisik maupun jiwa. Termasuk karena kecelakaan, atau hal lain penyebab terganggunya aktivitas sehari-hari.

Untuk menilai provinsi dengan kualitas udara paling buruk dan paling baik, salah satunya menggunakan Indeks Kualitas Udara (IKU) yang menunjukkan mutu atau tingkat kebaikan udara menurut sifat-sifat unsur pembentuknya.

IKU merupakan gambaran atau nilai hasil transformasi parameter-parameter (indikator) individual polusi udara berhubungan menjadi suatu nilai sehingga mudah dimengerti oleh masyarakat awam.

IKU dihitung berdasarkan emisi dari dua polutan udara yaitu karbon monoksida (CO) dan nitrogen oksida (NOx). Kedua jenis polutan ini dijadikan sebagai komponen IKU karena pengaruh keduanya sangat signifikan terhadap kehidupan manusia.

Nilai IKU berkisar antara 0 sampai dengan 100. Nilai ideal adalah 100, menggambarkan kualitas terbaik. Sementara nilai 0 menggambarkan kualitas terburuk.

DKI Jakarta adalah provinsi dengan kualitas udara terburuk. Diikuti oleh Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Lampung.

Buruknya kualitas udara tak lepas dari polusi yang berasal dari aktivitas manusia, seperti hasil dari manufaktur, transportasi, dan ketergantungan pada bahan bakar fosil seperti gas dan batu bara.

Kualitas udara buruk juga bisa berdampak pada kesehatan. Sebagai provinsi dengan kualitas udara terburuk, ada 27,1 persen penduduk Jakarta memiliki keluhan kesehatan.

Pada umumnya keluhan kesehatan utama yang banyak dialami oleh penduduk adalah panas, sakit kepala, batuk, pilek, diare, asma atau sesak napas, dan sakit gigi.

Masalah kesehatan akibat buruknya kualitas udara tidak main-main. Orang berisiko mengalami iritasi jangka pendek hingga penyakit serius, bahkan kematian.

Kata dokter ahli paru, Agus Dwi Susanto, polusi udara yang terus menerus dihirup setiap waktu dapat menyebabkan kerusakan pada fungsi organ. Penyakit yang bisa terjadi antara lain infeksi saluran pernapasan, asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), hingga kanker paru.

Selain masalah pernapasan, polusi udara juga dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular atau berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah.

Soal Jakarta, aktivis lingkungan dan pendiri Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Jalal, mengatakan, sebenarnya ada masa ketika udara Jakarta cukup baik dan sangat buruk.

Menurut analisis Jalal, udara Jakarta sangat buruk saat musim kemarau, juga pada kawasan industri. Sedangkan untuk udara cukup baik, terjadi saat hujan dan momen liburan.

"Saat hujan turun, ini seperti membilas semua kotoran-kotoran yang ada di udara Jakarta. Kalau saat liburan, ini biasanya pada lebaran dan tahun baru, saat masyarakat Jakarta tidak terlalu banyak," jelasnya kepada pada Okezone, Senin (14/1/2019).

Meski dalam data disebutkan bahwa Jakarta memiliki udara terburuk, tetapi apakah keluhan kesehatan paling banyak ada di DKI Jakarta? Tidak juga.

Provinsi dengan keluhan kesehatan terbanyak di Indonesia adalah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Gorontalo. Jadi, kualitas udara bukan satu-satunya penyebab.

Keduanya sama-sama memiliki kualitas udara bersih, tetapi memiliki lebih banyak keluhan kesehatan dibandingkan DKI Jakarta karena dipengaruhi hal lain, misalnya indeks kualitas air (IKA) yang buruk.

Bagi sebagian warga NTT, air bersih adalah sesuatu yang mewah karena sulit didapatkan. Contohnya, warga sebuah desa di Kabupaten Sikka, dikabarkan Viva.co.id, butuh berjalan kaki selama lebih dari 1 jam untuk mencapai sumber air bersih.

Banyak dari mereka yang kemudian mengandalkan air hujan, tetapi dalam satu tahun, hujan hanya menerpa 4-5 bulan saja di sana.

Untuk mengatasi masalah itu, terutama di daerah pesisir NTT, pemerintah tengah mengembangkan teknologi penyulingan air laut menjadi tawar.

Warga Gorontalo juga telah lama mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih, sementara tarif berlangganan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) terlalu mahal untuk mereka.

Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie, mengakui bahwa penyediaan air bersih untuk warga masih menjadi masalah dan akan menjadikannya sebagai salah satu prioritas dalam APBD 2019.

Adapun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, skor minimal IKU yang ditargetkan adalah 84, sedangkan IKA adalah 55. Dalam hal mutu udara, tinggal 4 provinsi yang perlu mengejar ketertinggalan. Sedangkan untuk mutu air, masih banyak yang tertinggal.

Catatan redaksi: Artikel ini telah dikoreksi, sebelumnya menyebut ibu kota Mauluku Utara sebagai Ternate. Seharusnya adalah Sofifi. (17/1/2019)
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR